Oleh: Iffah Komalasari

Mediaoposisi.com-Tindakan kejahatan kepada kaum Muslim kembali terjadi setelah dialami oleh muslim Rohingya, Pattani Thailand, Kashmir, Mali, Palestina, Suriah, Uighur dan sekarang kaum muslim di India juga menjadi sasarannya. Hingga saat ini setidaknya 30 orang dinyatakan tewas sebagaimana dilansir detik.com, Kamis (27/2/2020), dalam kerusuhan tersebut.


Kerusuhan itu merupakan rangkaian kekerasan terkait UU kewarganegaraan yang telah memicu aksi-aksi demo selama berbulan-bulan. UU kewarganegaraan itu sendiri telah disahkan sejak Minggu pekan lalu. Undang-undang tersebut sangat diskriminatif terhadap kaum Muslim. Penyebabnya adalah tidak dicantumkannya agama Islam dalam pemberian kewarganegaraan.


Dalam UU Kewarganegaraan tersebut, tercatat akan mempercepat pemberian kewarganegaraan untuk warga dari enam agama: Hindu, Sikh, Budha, Jain, Parsi, dan Kristen yang berasal dari negara tetangga Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan, jika mereka datang ke India sebelum 2015.


Tidak dicantumkannya agama Islam inilah yang menyulut protes warga India khususnya kaum muslim. Disamping juga ulasan dalam UU Kewarganegaraan India itu sangat diskriminasi terhadap muslim.


Dalam pemberitaan media nasional di India, penyerangan masjid dan pembantaian terhadap umat Islam di India diberitakan dengan judul "Bentrok Antar Agama". Padahal, fakta yang terjadi adalah umat muslim India diserang oleh gerombolan radikalis Hindu, namun di diamkan oleh negara.


Sadis memang, kekejaman yang dilakukan oleh kelompok Hindu kepada kaum Muslim sangat jauh dari kata berkeprimanusiaan. Selama beberapa pekan terakhir, Muslim di India telah dipukuli, disiksa, dipaksa minum urin sapi, dipaksa untuk memuliakan Dewa Hindu, dirajam, dibunuh, dan masjid-masjid dirusak. Dan tanggapan anggota parlemen/pemerintah di India hanya diam. Bahkan, mereka benar-benar dianugerahi Pemimpin Hindu (Modi) dengan “medali” kehormatan.


Derita dan tangis saudara muslim di India meminta tolong seluruh kaum muslimin seluruh dunia. Namun, apa daya tak ada yang mau dan mampu menolong. Umat muslim terpenjara dengan garis semu nasionalisme sehingga mereka lebih sibuk mengurusi kepentingan dirinya sendiri daripada menolong sesama saudara muslim.


Padahal, Rasulullah SAW telah mengingatkan pada bahwa seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Tidak boleh saling menzalimi, menyakiti, apalagi menyerahkannya kepada musuh.


Sejak runtuhnya khilafah, umat Islam seperti anak ayam kehilangan Induknya. Tidak ada pelindung ketika mereka didholimi. Bertahun-tahun, saudara-saudara kita di Palestina di bantai kaum Yahudi, saudara-saudara kita di Suriah dibantai kaum Syiah, saudara-saudara kita di Rohingya di bantai kaum Budha, saudara-saudara kita di Uyghur di siksa komunis China, kini saudara-saudara kita di India merasakan hal yang sama.

Maka tidak ada jalan lain bagi seorang muslim selain bersatu. Karena jika bersatu, tidak ada yang dapat mengalahkan mereka. Persatuan itu hanya akan terwujud jika ada seorang yang suaranya didengar dan ditaati oleh semua muslim di seluruh dunia. Pemimpin itu adalah Khalifah.[MO/ia]

 Wallahu a'lam

Posting Komentar