Oleh : Fitri Khoirunisa, A. Md 
(aktivis BMI)


Mediaoposisi.com-Virus corona yang menjadi trend senter di seluruh belahan dunia dan berhasil menghasilkan ketakutan yang sangat luar biasa di tengah-tengah masyarakat karena penyebarannya yang cepat. Berawal dari kemunculan di wuhan (china)  yang menewaskan ribuan orang , lalu merembet kenegara-negara lain salah satunya indonesia dan kota kita tercinta pontianak. Semua ini terjadi karena kesantuy-an pemerintah kita dalam menangani masalah ini.


Berawal dari bebasnya asing salah satunya TKA China masuk ke indonesia tanpa penanganan ketat tidak seperti negara-negara lain yang sangat memperhatikan hal ini dan menutup jalur asing untuk masuk ke bandara , kini kelalaian itu pun membuahkan hasil.



Ada beberapa kasus yang ada di Indonesia,  salah satu korban corona adalah mentri Perhubungan kita.

Baca Juga: Women’s Day

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno membenarkan bahwa Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi positif terjangkit virus korona. Keterangan ini ia sampaikan setelah mendapatkan izin dari keluarga Budi Karya.


Dan di tambah 1 kasus di pontianak yang terinfeksi virus corona yang di umumkan hari ini sabtu14 maret 2020 oleh media antara dan saat ini sedang di rawat di RS. Soedarso Pontianak.


Berita ini menambah kecemasan dan kepanikan masyarakat akan nasib mereka ke depan,  semua aktivitas di cancel dan tempat keramaian di tutup,  masker langka untuk di cari dan harganya pun sangat melambung tinggi di tambah lagi cairan anti septik pencuci tangan juga habis di borong masyarakat.


Wajar kepanikan terjadi di tengah masyarakat. Pasalnya, belum ada langkah konkrit yang dilakukan pemerintah untuk menghentikan sumber kepanikan. Bukankah seharusnya pemerintah lewat para pejabatnya meyakinkan publik bahwa pemerintah telah melakukan antisipasi atasi corona?



Ini malah sebaliknya, disibukkan dengan menjual masker hasil sitaan dari penimbun serta menyalahkan kepanikan rakyat, lalu mengambil keuntungan materi dari situasi. Mental rezim korporatokrasi pasti melulu mencari keuntungan meskipun rakyatnya tengah kesulitan.



Raymond Saner dan Poppy S. Winanti dalam tulisannya Policy Coordination and Consultation in Indonesia, juga menyoroti bahwa pemerintah Indonesia –khususnya para menteri– memang memiliki kekurangan dalam hal koordinasi, sehingga menyebabkan pembuatan kebijakan publik menjadi tidak efektif.


Hingga saat ini pun, Kemenkes sendiri belum mengumumkan akan membentuk crisis center ataupun tim penanggulangan lainnya. Data resmi terbaru mengungkapkan ada 96 pasien positif corona, 5 orang meninggal, dan 8 orang dinyatakan sembuh (14/3/2020).


Ada apakah ini? Kenapa bisa terjadi?


Melihat ada apanya,  ya memang beginilah sejatinya watak kapitalis,  yang mendewakan materi di atas penderitaan manusia,  materi lebih berharga di banding nyawa manusia,  padahal Allah mengatakan Nyawa seorang muslim jauh lebih berharga di banding dunia dan seisinya.


Bagaimana Sih Di Dalam Islam?


Dalam Islam, kesehatan dipandang sebagai kebutuhan pokok publik, Muslim maupun non-Muslim. Karena itu Islam telah meletakkan dinding tebal antara kesehatan dan kapitalisasi serta eksploitasi kesehatan. Dalam Islam, negara (Khilafah) bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan semua warga negara.


Pandangan Islam tentang kesehatan jauh melampaui pandangan peradaban mana pun. Islam telah menyandingkan kesehatan dengan keimanan, sebagaimana sabda Rasulullah saw:


“Mintalah oleh kalian kepada Allah ampunan dan kesehatan. Sesungguhnya setelah nikmat keimanan, tak ada nikmat yang lebih baik yang diberikan kepada seseorang selain nikmat sehat.” (HR Hakim).[MO/ia]

Posting Komentar