Oleh : Trisnawaty Amatullah 
(Aktivis Dakwah Makassar)


Mediaoposisi.com-Virus Corona atau Covid-19 benda mati tapi mematikan. Virus ini telah dinyatakan WHO sebagai pandemi  global.  Virus ini terus mewabah yaitu penyakit yang menimbulkan korban dalam jumlah lebih banyak dari biasanya pada suatu komunitas dan waktu tertentu. Virus ini menjadi teror masyarakat dunia.  


Di wilayah Indonesia kasus positif virus Corona terus bertambah. Data terbaru disampaikan pemerintah, kasus positif Covid-19 mencapai 514. “Ada penambahan kasus postif  sebanyak 64 orang”, kata juru bicara pemerintah terkait penanganan wabah Corona, Achmad  Yurianto, dalam konferensi pers yang ditayangkan di YouToube BNPB, Minggu (22/3/2020)



Pemerintah Santuy


Saat rakyat merasa khawatir dan resah dalam menghadapi wabah ini pemerintah justru santuy, pemerintah lalai. Tampak dari kecerobohan terhadap sumber wabah. Kecerobohan terhadap sumber wabah tampak dari tidak adanya keputusan pemerintah melarang pendatang dari China masuk ke Indonesia. 



Sejak dari terjadinya wabah di Wuhan hingga saat ini. Plus  alih-alih melakukan lockdown seperti negara lain yaitu China, Italia, Polandia, El Salvador, Irlandia, Spanyol, Denmark, Filipina, Lebanon, Prancis, Belgia, Selandia Baru dan Malaysia. Kota Wuhan di China sendiri memberlakukan lockdown. 


Pemerintah  hanya sebatas melakukan social distancing untuk membendung penyebaran virus ini dan sekarang ada wacana pilihan alternatif Herd Immunity yang beredar di Sosmed. Nasrudin Joha  mengkritisi pemerintah yang tidak melakukan lockdown, dalam tulisannya “JANGAN SOK ILMIAH, HERD IMMUNITY ITU MAKSUDNYA ‘MATI URIP SAK KAREPMU!’, Ada yang sok ilmiah membela kebijakan rezim yang tidak segera memberlakukan kebijakan lockdown dengan alasan ada dugaan pemerintah mengadopsi kebijakan Herd Immunity. 


Perlu saya tegaskan, metode Herd Immunity itu metode bertahan hidup hewan atau kehidupan manusia purba yang tidak memiliki pemimpin dan pemerintahan. Apa gunanya, rakyat memiliki pemimpin, jika pemimpin membiarkan rakyat melawan virus Corona dengan daya imun masing-masing yang dimiliki rakyat? Lantas, bagaimana jika imunitas diri rakyat lemah dan kalah perang melawan virus Corona, apakah kemudian Pemerintah menyalahkan rakyat karena memiliki imunitas lemah? 


Apakah lantas, hanya manusia dengan daya imun kuat, yang secara self defense bisa bertahan dari serangan virus Corona yang berhak hidup? Bukankah ini kehidupan bar-bar? Bukankah ini kehidupan di hutan? Tegas Nasjo dalam tulisannya.



 Dunia Butuh Khilafah



Seharusnya sebagai kepala negara, presiden sudah mempersiapkan kebijakan apa yang ditetapkkan jika virus ini masuk ke Indonesia. Seorang pemimpin harusnya bertindak sebagai negarawan dan bertanggung jawab dalam menuntaskan masalah rakyat. 



Namun watak kapitalis justru nyata pada rezim. Untung rugi dikedepankan dibandingkan nyawa rakyat. Kepentingan ekonomi diatas segalanya. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan karena pengelolaan SDA yang dikelola kepada asing. Maka ketika menghadapi kondisi seperti ini, negara tidak siap. 



Tentu hal ini sangat berbeda dalam Islam (khilafah). Kepala negara atau khalifah adalah pengurus urusan umat, bertanggung jawab penuh untuk kesejahteraan rakyatnya. Islam telah memberikan anjuran untuk mengatasi penyebaran penyakit. 



Dari kitab Sahih Muslim Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).


Karenanya untuk mengatasi wabah penyakit pandemi, tidak cukup peran dari segelintir kelompok, komunitas, atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Atau dibebankan kepada individu rakyat. Negara harus berperan aktif dalam menjaga keamanan makanan dan kehalalan pangan. Negara juga bisa mengimbau rakyatnya untuk melakukan upaya mencegah terjangkit virus corona. 


Di antaranya melakukan penyuluhan kepada rakyat agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Negara juga harus memenuhi kebutuhan pokok (makan) warga negaranya sehingga dapat hidup sehat, cukup nutrisi, dan memiliki pola makan seimbang. 


Selain itu, negara melarang warga negara makan makanan mentah terutama berbahan dasar hewan. Secara umum, negara menerapkan aturan Islam dalam hal makan makanan yang harusnya halal dan thayyib. Negara harus berada di garda terdepan menangani wabah semacam ini. 


Tentunya untuk mewujudkan semua itu harus ditopang dari kemandirian negara dalam pengelolaan SDA dan aspek lain dan Islam telah mengatur secara terperinci. Karenanya untuk mengkahiri wabah Corona dan wabah lain yang mengahntui dunia dibutuhkan kepemimpinan global yaitu khilafah ‘ala minhaji nubuwwah. [MO/ia]



Wallahu ‘allam


Posting Komentar