Oleh : Habsah 
(Aktivis Muslimah Dakwah Community UINSU)


Mediaoposisi.com-Corona Loan adalah sebutan untuk pinjaman dana dari IMF kepada negara-negara berkembang dan berpendapatan rendah dalam menghadapi penyebaran virus corona. Pinjaman darurat ini sebesar US$ 50 miliar. 


Dikutip dari laman resmi Bank Dunia, direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan banyak negara anggota IMF yang berisiko atas penyebaran virus corona "saya khususnya prihatin dengan anggora kami yang berpengasilan rendah dan lebih rentan. Negara-negara ini mungkin melihat kebutuhan pembiayaan meningkat dengan cepat akibat penyebaran virus ini," ujar Georgieva, Kamis (5/3).


Dari jumlah tersebut sebesar US$ 10 miliar akan dipinjamkan tanpa bunga, jangka waktu pengembalian 10 tahun bagi negara anggota termiskin melalui fasilitas pinjaman cepat. Pihak IMF akan mengidentifikasi negara-negara yang rentan dan membutuhkan bantuan dana sebelum kondisinya semakin memburuk. 

Baca Juga: Ilusi Ketahanan Keluarga Dalam Sistem Demokrasi

Dan sebesar US$ 40 akan dipinjamkan kepada negara berkembang dengan bunga 1,5%  dengan jangka waktu pengembaliannya 3 sampai 5 tahun. Tawaran pinjaman tersebut sungguh sangat menggiurkan untuk negara-negara yang masuk katagori ini.


Tapi, benarkah demikian? Sangat mudah untuk meminjam ataupun berutang, utang di Sistem Kapitalis seolah memiliki dua wajah, wajah yang satu menguntungkan dan yang satunya lagi menjerumuskan. Jika itu menguntungkan, utang tersebut akan digunakan untuk keperluan yang bersifat produktif. Seperti bisnis yang bisa mengalami percepatan dengan berutang, atau pembangunan infrastruktur yang sudah bisa dikerjakan meski dana belum tersedia. 


Namun utang secara perlahan menjerumuskan debitur untuk tenggelam ke lubang yang lebih dalam, jika debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali artinya debitur tidak memenuhi kewajiban yang telah disanggupinya untuk dipenuhi dalam suatu perjanjian.


Terlebih lagi pinjaman yang diberi IMF itu bukan sekedar cuma-cuma, ada sederet perjanjian-perjanjian di dalamnya. Jika negara yang di pinjami hutang tidak dapat membayar hutang maka pasti ada sanksinya. Kita ambil saja contoh yang lalu saat ada wabah Ebola yang terjadi di Afrika Barat di negara Sierra Lione, Liberia dan Guinea di tahun 2014. 


IMF mensyaratkan pemotongan pengeluaran pemerintah, pinjaman akan diprioritaskan untuk pembayaran kewajiban utang pemerintah dan peningkatan cadangan devisa. Hingga menyerap anggaran kesehatan yang lebih mendesak. 


Akibatnya terjadi kurangnya pembiayaan untuk sektor kesehatan, kekurangan staf kesehatan, dan buruknya persiapan sistem kesehatan. Hal ini telah berkontribusi pada semakin cepatnya penyebaran Ebola di tiga negara tersebut dan ekonomi dari ketiga negara tersebut ikut anjlok.

Baca Juga: Pendidikan Perempuan Ala Kapitalis

Tidak ada makan siang gratis di Sistem Kapitalis, yang ada hanyalah kesengsaraan yang datang secara betubi-tubi. Belum lagi kita tahu bahwa Indonesia, negeri kita ini merupakan salah satu anggota dari IMF, apakah Indonesia akan menerima bantuan tersebut? Jika itu terjadi mau berapa banyak lagi hutang bertambah, mengingat bahwa defisit APBN 2020 mencapai Rp 125 triliun, Utang Luar Negeri (ULN) akhir Januari 2020 mencapai Rp 6.079 triliun.


Begitulah cara kerja untuk meraup keuntungan di Sistem Kapitalis ini, seolah-olah mereka bersikap dermawan untuk membantu negara-negara yang membutuhkan tetapi disisi lain saat negara-negara itu tidak mampu untuk membayar utang nya maka habislah sudah. Apalagi mengambil keuntungan ditengah-tengah wabah virus corona ini. 


Lantas bagaimana islam memandang hal demikian? Dalam Islam pinjam meminjam itu diperbolehkan. Ulama malikiyah berpendapat “pinjaman adalah Mengambil keuntungan atau manfaat  dalam waktu tertentu  tanpa imbalan”. Disini jelas bahwa tidak adanya bunga atau riba dalam meminjam, sebab kita tahu bahwa riba itu haram. 


Apalagi pinjam meminjam merupakan bentuk dari tolong menolong.  Dari abu humaimah RA dari nabi SAW berkata : pinjaman itu harus dikembalikan dan orang yang meminjam dalah orang yang berhutang dan hutang harus dibayar (HR Tharmizi).


Mustahil kesejahteraan dan ketenteraman di dapat dalam sistem kapitalis ini, hanya dalam sistem islamlah kita bisa merasakan kesejahteraan bahkan keadaan carut marut yang melanda dunia dapat diselesaikan dalam Islam yakni dengan bingkai Khilafah.[MO/ia]

Posting Komentar