Oleh : Aida Al Farisi
(Aktivis Dakwah Kampus Makasar)

Mediaoposisi.com-Empatbelas hari terpenjara dalam kesunyian, di tengah keramaian virus Corona Copid- 19. Kini masyarakat kian bertaluh dengan rasa panik, dilema, cemas, takut. Bagaimana tidak empat belas hari, sebaiknya tidak beraktivitas di luar rumah untuk memutus penyebaran sang virus. Meski demikian masih banyak masyarakat beraktivitas di luar rumah. 


Mau tidak mau karena tuntutan dalam memenuhi kebutuhan hidup, guna menyambuung keberlangsungan kehidupan. Kian hari daftar data korban semakin meningkat. Ada yang dinyatakan sembuh, namun lebih banyak di antaranya meninggal. Meski berita yang diberitakan pemerintah dipenuhi kesimpangsiuran, sebab data sesungguhnya tidak dikonfirmasi. Masyarakat kian resah. 


Desakan masyarakatpun kepada pemerintah untuk locdown semakin meningkat. Namun sang presiden menyatakan dalam konferensi pers di istana Bogor, Senin (16,03) “hingga saat ini pemerintah belum berfikir mengambil kebijakan locdown,”.
                


Masyarakat kian melarat. Rasa nyaman dan aman tak lagi mampu dirasakan dengan cuma- cuma. Harusnya dengan adanya wabah ini, pemerintah mampu mengambil tindakan dengan cepat. Kesehatan adalah hak semua rakyat. Jika budaya santuy masih terpelihara, tunggu saja korban akan semakin meningkat. Liputan6.com, Jakarta- Inveksi Corona Covid- 19 di seluruh dunia kini telah mencapai 244.421 kasus, ini berdasarkan peta coronavirus COVID- 19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE, Jum’at, (20/3/2020). 


Mengutip dari gissanddata.maps.arcgis.com, jumlah kematian karena Virus Corona COVID- 19 secara global tercatat sebanyak 10.027 jiwa. Data ini terus bertambah setiap harinya. Di Indonesia sendiri dilansir Liputan6.com, Jakarta- Jumlah pasien positif Covid-19 bertambah 81 orang hingga Sabtu (21/3/2020) siang. 


Total orang yang terinfeksi virus hingga hari ini menjadi 450 orang. Data tersebut merupakan akumulasi perhitungan hingga Sabtu 21 Maret 2020. “ Ada penambahan kasus baru sebanyak 81 orang. Sehingga total 450 orang,” ujar juru bicara pemerintah Indonesia untuk penanganan Covid- 19, Achmad Yurianto, di BNPB, Jakarta, Sabtu.


Lambatnya upaya pemerintah menangani masalah kasus Corona Covid- 19, serta plin plannya dalam mengambil keputusan dalam penyelamatan jiwa dan mengurangi korban. Hal ini sebenarnya menyingkap kebenaran, bahwa pemerintah dalam sistem- kapitalis sekuler  sangat jelas memperlihatkan boroknya sistem ini. ketidakmampuan ideologi Kapitalis- Sekuler dalam menopang kesejahteraan umat terbukti gagal. 


Harusnya dengan fakta- fakta yang demikian ini, umat harus semakin cerdas dan menjadikan ini sebagai bentuk evaluasi dalam menakar kinerja rezim dalam bangsa ini. Dalam menghadapi masalah pandemi ini, sehatnya suatu negara jika umat dan pemerintah saling menyokong. Kebijkan yang dilahirkan pemerintah bukan hanya berdiri sendiri, tapi ada dukungan dari umat. Kebijakan negara sangat penting, namun ada kunci lain yang harus mendukung, yaitu peran umat. 


Jika negara dalam kesulitan, dibutuhkan umat dengan kerelaannya, mendukung, mengasuh dan membantu negara. Hanya saja dalam sitem sekuler ini mustahil akan tercipta yang demikian. Sebab aturan yang diterapkan dalam idoelogi Kapitalis- Sekularisme bertentangan dengan fitrah umat Islam. Sistem ini bahkan berlaku diskriminatif pada rakyatnya. Bertentangan dengan pemikiran, perasaan dan aturan kaum muslim. 



Maka jika terjadi kerusakan di negeri ini baik masalah politik, ekonomi, pergaulan bahkan hari ini Covid- 19 mengobok- obok tataran sosial tidak ada keselarasan pola pikir yang sama antara pemimpin negeri ini dan umat. Sebab memang kita disekat- sekat oleh cara pandang yang berbeda, yaitu perbedaan ideologi. 



Oleh karena itu tak ada cinta pemimpin dan cinta umat yang terjalin. Maka putuslah cinta, antara pemimpin dan umat, di tengah keramain corona yang melanda, serta sistem yang ditunggangi oleh ideologi kapitalis.


Dalam sejarah sudah jauh- jauh hari wabah pernah melanda. Wabah di Amwas bagian wilayah Syam ketika tahun 639 M. Wabah ini menyebabkan syahidnya dua sahabat Nabi SAW Muadz bin Jabal dan Ubaidah bin Jarrah. Selanjutnya ada wabah Black Death yang pernah bersemi di Granada, Andalusia pada abad ke 14. Lalu ada wabah Smallpox pada abad 19 yang melanda Khilafah Utsmani. 



Sebagai seorang muslim maka menyikapi perstiwa Corona Covid-19 harus dengan kekohan keimanan, meyakini bahwa seluruh perstiwa ini, tidak mungkin terjadi tanpa kehendak Allah SWT. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT “Katakanlah (Muhammad), tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang- orang yang beriman harus bertawakkal.” (QS at- Taubah: 51). 


Namun bukan berarti kita harus pasrah terhadap nasib, tapi tetap wajib ada upaya- upaya dalam menyelesaikan persolan ini. Selain adanya sikap tawakkal kepada Allah SWT harus ada evaluasi diri serta muhasabah dari umat semesta alam ini. Sebab kemungkinan dari maraknya wabah corona ini akibat mengkonsumsi kelelawar, menurut Ahmad Rusydan ph.D, ahli kesehatan molekuler lulusan Harvad University. Di kota Wuhan Cina, hal demikian inilah yang terjadi. 


Sop kelelawar dijadikan menu setiap harinya.  Dalam hadis Rasulullah SAW “Janganlah kalian membunuh katak, karena suaranya adalah tasbih. Janganlah kalian membunuh kelelawar, karena ketika Baitul Maqdis roboh, ia berkata, “Wahai Rabb, berikanlah kekuasaan kepadaku atas lautan hingga aku menenggelamkan mereka.” (HR al- Baihaqi). Inilah kesempurnaan Islam, semuanya paripurna nan sempurnya. 


Dari hal kecil hingga besar semua ada aturannya. Mulai bangun pagi hingga bangun negara sekalipun sudah termaktub dalam sumber hukum syara. Baik dalam Al-Qur’an, As Sunnah, Ijma para shahabat, dan Qiyas. Allahpun sudah mengkhabarkan pada manusia dalam firmannya “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar kembali ke jalan yang benar.” (QS Ar- Rum: 41).


Saatnya kembali berhukum kepada Allah SWT secara totalitas. Penerapan hukum Islam secara kaffah hanya akan terterapkan dalam negara Khilafah. Dalam firman Allah SWT “Wahai orang- orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah- langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al- baqarah: 208). 


Peradaban Islam akan menjadikan ilmu pengetahuan tentang virus, sebagai ladang pahala. Khilafah akan mencegah perilaku manusia yang beresiko memunculkan wabah secara persuasif dengan edukasi. Sehingga sudah ada benteng persiapan negara Khilafah dalam melindungi keamanan dan kenyamanan umat. Khilafah akan membawa kedamaian,       yang menyebarkan kebaikan, kegembiraan hidup dan kenyamanan. 


Akan bertanggung jawab atas seluruh urusan umat manusia. Membangun bidang kesehatan yang berkelas dan spektakuler. W.E Hocking (seorang filsuf idealis Amerika, Harvard University pernah berkomentar, “Sungguh dapat dikatakan bahwa: hingga pertengahan abad ke tigabelas (yakni sepanjang era keKhilafahan). Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat (The spirit of World Politics 1932, hlm. 461). [MO/ia]


WalLahu ‘alam bishawab.















                                                                                                                                                                                                                        

Posting Komentar