Oleh : Sayma Putri S 
(Aktivis Muslimah Dakwah Community)

Mediaoposisi.com-Sejak bulan desember tahun lalu, dunia sudah gelisah akan sebuah wabah yang menimpa Cina tepatnya di kota Wuhan. Virus Corona menyebar di negara Cina, menjangkit ratusan orang hingga ribuan orang. Data terakhir mencapai 20.438. 


Namun demikian, banyak orang  meyakini, jumlah sebenarnya jauh berlipat-lipat. Di karenakan Cina cenderung tidak terbuka menyampaikan info yang sebenarnya. Yang pasti penyebaran virus ini menjangkau 5 negara : mulai dari Amerika Serikat, Australian, Flipina, Finlandia, India, Jerman, Kamboj, Kanada, Korea, Selatan, Maalaysia, Nepal, Prancis, Russi, Singapura, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Taiwan, Tailandd, Vietnam Dan Uni Emirat Arab.


Data terakhir di bulan Februari 2020, penyakit akibat corona tipe baru (2019-NCov) telah tersebar di 28 negara, dan menginfeksi tidak kurang dari 30.000 manusia dan meniombulkan lebih dari 700 korban meninggal.


Baca Juga: Covid 19 : Ambigu antara Keimanan dan Politik

Dari berbagai negara merespon dengan cepat, bahkan negara-negara lain sudah melakukan kebijakan lockdown untuk menghentikan penyebaran virus corona, dan beberapa negara terus melakukan usaha evakuasi warganya dari wuhana seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Prancis. Sejumlah pihak di dalam negeri lantas menyarankan kepada Presiden Jokowi untuk menerapkan langkah serupa.


Berbeda dengan Indonesia terkesan lamban melakukan tindakan, bagaimana antisipasi agar tidak tersebarnya ke negeri ini, meski awalnya kita tidak berharap virus corona sampai kenegeri ini, tetapi tidak di pungkiri bisa menjangkau negeri ini. Hal ini membuat masyarakat resah dan gelisah. Pemerintah juga tidak membatasi wisatawan Cina ke Indonesia, padahal penyebaran Corona semakin meluas.


Dimana saat ini Indonesia tengah dilanda virus corona alias covid-19. Sudah 96 orang positive terkena virus tersebut, bahkan data terakhir rabu 18 maret 172 orang yang terdeteksi belum lagi yang belum di deteksi dan info yang di tutup tutupi.


Beberapa hari yang lalu Joko Widodo menyerahkan status darurat di daerahnya kepada kepala daerah. Pasalnya, Jokowi menilai tingkat penyebaran virus corona Covid-19 derajatnya bervariasi di setiap daerah.

Baca Juga: Antara Corona & Watak Asli Penguasa

“saya meminta kepada seluruh gubernur, kepada seluruh bupati, kepada seluruh walikota untuk terus memonitor kondisi daerah dan terus berkonsultasi dengan pakar untuk menelaah situasi yang ada” kata Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor Jawa Barat, Minggu (15/1/2020).


Sejak awal masyarakat ragu terhadap keseriusan pemerintah menangani covid-19 sampai WHO bersurat pada Jokowi akhirnya diputuskan sebagai bencana Nasional. Namun keraguan Masyarakat tidak hilang karena masih banyak hal yang terkesan ditutup-tutupi oleh pemerintah. 


Apalagi, lambatnya penetapan status dan penyerahan langkah tindak masing-masing daerah bisa jadi berbeda penanganan antara pemerintah daerah) terbukti membuat warga terjangkit covid  meningkat berlipatganda.


Hal ini menunjukkan betapa lambannya negara mengurusi rakyat, di lihat dari sikap pemerintah yang begitusaja menyerahkan kepada kepala daerah dan sejak awal menganggap remeh terhadap masalah ini. Andaikan sejak awal kejadian di Cina pemerintah langsung mengambil sikap tegas dan kehati-hatian, tentulah tidak sampai selebar ini penyebarannya.

Baca Juga: Misteri Investasi, RUU CiLaKa ingin di Legalisasi

Bahkan hingga hari ini jumlah yang terjangkit dan tindakan penanggulangannya seperti apa belum begitu jelas. Rakyatpun semakin resah dan gelisah sebab ketidak jelasan pemerintah menyikapi sebelumnya membuat masyarakat dilema, mau bersikap biasa saja atau bagaimana. Masyarakat seolah-olah disuruh jaga diri masing-masing.
          
Islam selalu punya solusi dalam menghadapi berbagai macam persoalan begitulah keunggulan Ideologi ini lengkap dengan aturannya. Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern menghadapi wabah. Selain Islam memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. 


Namun demikian penguasa punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah seperti hari ini, peran penguasa sangat di butuhkan. Penguasa tidak boleh abai. Penguasa seharusnya bertanggungjawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya.


Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw.  Dan khalifah Umar bin al Khatthab ra. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Dan tidak meninggalkan dan tidak memasuki wilayah wabah, mencari tahu mekanisme penyakit dan antisipasi pencegahan penyakit berbasis bukti.

Sebagaimana telah di contohkan  sebelumnya oleh para penguasa Muslim pada masa lalu sudah selayaknya kita kembali kepada aturan yang sempurna yaitu Islam.[MO/ia] 

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Posting Komentar