Siti Hartinah Ode, SH.
(The Voice of Muslimah Papua Barat)


Mediaoposisi.com-Siapa sih yang gak kenal dengan seorang pemuda penakkuk konstantinopel? Pemuda yabg mamou mewujudkan hadis Rasulullah Saw. Yang mana dalam hadis tersebut, penakluk konstantinopel pemimpinya adalah sebaik-baik pemimpin, pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.
Masyaa Allah. Allahu Akar!!!


Kita tahu sejarah konstantinopel yang pada masanya adalah sebuah negara besar. Negara berpengaruh, negara adidaya yang sangat mustahil ditaklukkan karena Benteng berlapis-lapis yang dibangun dan menutupi negara tersebut.


Namun seorang Muhammad al- Fatih, pemudan yang pada saat itu menginjak usia 22 tahun, mampu meruntuhkan kemustahilan itu. Siapa sangka Muhammad al- Fatih-lah orangnya, yang dirindukan dan yang membuat para sahabat bertanya-tanya ketika Rasulullah Saw., menyebutkan hadis tersebut. Dan siapa sangka, dibalik kehebatannya seorang Muhammad al- Fatih terdapat seorang wanita mulia yang juga memiliki cita-cita mulia nan tinggi.


Dalam bukunya berjudul "Menjadi Muslimah Negarawan", sang penulis, Fika Komara memberikan sebuah sedikit gambaran tentang ibu para pemimpin dan penakluk. Salah satunya adalah Ibunda Muhammad al- Fatih, yang semenjak kelahiran Muhammad al- Fatih sang Ibunda senantiasa akan membawanya pergi keluar istana dan berdiri di sebuah tebing, yang menghadap langsung ke arah Konstantinopel. 


Dan Ibundanya akan berkata: "Wahai anakku, disana terdapat kota Konstantinopel. Dan Rasulullah Saw., bersabda: Konstantinopel itu akan ditawan oleh tentara Islam. rajanya (penakluknya) adalah sebaik-baik Raja, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Ketahuilah anakku engkaulah orangnya". Setiap hari, tanpa bosan Ibunda Muhammad al- Fatih terus melakukanya. Dari sang calon penakluk masih berada dalam gendongan hingga Muhammad al- Fatih bisa berjalan. 


Tidak hanya itu sebagai seorang perempuan dengan cita-cita mulia dan tinggi, sang Ibunda pun memberikan seluruh asupan ilmu pengetahuan dan tsaqofah Islam. Menanamkan pada si Muhammad al- Fatih kecil bahwa dia akan mampu menaklukan Konstantinopel dengan al-qur'an, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia. 


Dan tidak luput dari ingatan, bagaimana pertemuan kedua orang tua Shalahuddin al- Ayyubi si penakluk Yerusalem sebelum terjadinya pernikahan. Ayah dan Ibunya memiliki cita-cita tinggi dan mulia. Yang ketika ditanyakan kepada mereka "Siapa yabg kau inginkan?", Najmuddin -ayah Shalahuddin al- Ayyubi- menjawab:


"Aku menginginkan istri yang shalihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang ditarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan kesatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan akum muslimin". Jawaban itu pun sama dengan apa yang dilontarkan dari seorang gadis. Dari rahimnyalah lahir seorang penakluk Yerusalem.


Itulah beberapa contoh wanita muslimah yang memiliki cita-cita tinggi nan mulia. Keistimewaan seorang wanita bukanlah dari bentuk tubuhnya yang Indah atau parasnya yang rupawan, melainkan dari ketakwaan dan ketundukkanya kepada Sang Pencipta, Allah Swt. 


Namun, sayangnya di era kapitalisasi saat ini wanita dijadikan objek eksploitasi di segala bidang kehidupan. Dan yang lebih mirisnya lagi, pengeksplotasian ini didukung secara sadar oleh kaum wanita itu sendiri. Mereka dengan bangga mempertontonkan aurat mereka, dan cita-cita yang mereka punya hanyalah untuk mengejar dunia.


Padahal Allah Swt., telah menetapkan tugas seorang wanita sebagai ummu wa robatul bait yang mengurusi rumah dan menjadi pemimpin di dalam rumahnya, ketika sang suami pergi mencari nafkah. Sosok Ibu seperti inilah yang hilang ditengah-tengah masyarakat kita saat ini. Paham feminisme telah bercokol pada pemikiran kaum wanita, membuat mereka mengabaikan tugas mulia. Membuat mereka berpandangan bahwa Islam telah mengambil kebebasan mereka dengan berada di rumah.


Di satu sisi, sistem yang dianut oleh Indonesia memaksa kaum wanita untuk juga ikut berkarir dan bersaing di dunia kerja. Mencari tambahan pemasukan demi keberlangsungan hidup kedepanya. Sehingga anak-anak yang seharusnya mendapatkan pengasuhan dan tarbiyah dari ibu-ibu mereka manjadi tidak terurus dan terabaikan.


Islam adalah agama sempurna yang memiliki seperangkat aturan kehidupan, bukan hanya dalam skala kecil saja namun pada skala besar seperti sebuah negara. Islam telah memberi porsi kepada setiap manusia, baik laki-laki ataupun wanita. Contoh, laki-laki diwajibkan untuk mencari nafkah dan wanita diberikan tugas sebagai pengurus rumah ketika sang suami pergi.


Islam tidak mengungkung kaum wanita dengan tugasnya sebagai ummu wa rabatul bait, tetapi Islam justru memuliakannya dengan tugas tersebut. Seorang wanita merupakan sebuah perhiasan dan pondasi sebuah negara. Maka, ketika pondasi itu rapuh bangunannya pun akan runtuh dan ketika pondasi itu kuat bangunannya pun akan kokoh berdiri.


Kaum wanitalah yang akan melahirkan generasi-generasi penerus bangsa dan an ditanganyalah harapan baru untuk bangsa berada. Rusaknya wanita akan berdampak pada seluruh lini kehidupan dan akan berdampak pula pada keberlangsungan sebuah negara, karena generasi yang akan dihasilkan olehnya pun akan rusak.


Poin inilah yang disadari oleh ibunda Shalahuddin al- Ayyubi dan ibunda Muhammad al- Fatih. Mereka sadar betapa besar peran sebagai seorang wanita. Meski tidak menunjukkan diri pada dunia mereka mampu menciptakan menaklukkan wilayah dengan tangan-tangan anak mereka.


Wahai wanita muslimah, tidakkah kalian sadar Islam melindungi kalian? Memberika. Kemulian tertinggi bagi kalian dengan berada di rumah mengurus generasi penerus bangsa. Cita-cita tertinggi seorang muslimah tidak harus membuatnya melanggar hukum syara'. Tetapi, sebaliknya sosoknya akan harum dan dikenang ketika dia mampu memberikan sumbangsih emas kepada negara.


Wahai wanita muslimah, tidak menjadikan hina seorang wanita ketika dia bersusah payah mengurusi rumah dan anak-anaknya. Tetapi, disinilah terdapat pahala yang terus-menerus tanpa henti. In syaa Allah.[MO/ia]

Posting Komentar