Oleh : Nur Aisyah Tasrie
(Perawat)


Mediaoposisi.com-Islam adalah agama yang sempurna, Islam mengatur perkara shalat dan zakat, mengajarkan bersikap jujur, mengatur hubungan laki-laki dan perempuan, urusan berpakaian sampai urusan negara. Allah telah menegaskan dalam surah An Nahl ayat 89, “Dan Kami turunkan Kitab (Al Quran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk”. 


Maka jelas, setiap lini kehidupan, Islam memiliki aturannya. Tentang beragama, berbangsa dan bernegara. Islam adalah sebuah jalan hidup.


Termasuk dalam kehidupan bermasyarakat, ataupun dalam membentuk sebuah organisasi, Islam patutlah menjadi sebuah standar. Namun, kepala BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Yudian Wahyudi menganggap Pancasila telah dibunuh secara adminisratif, ketika asas-asas organisasi termasuk partai politik boleh memilih selain Pancasila, seperti Islam. Juga kritiknya terhadap kelompok yang membuat ijtima ulama. 




Menurutnya, kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. “Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,” paparnya. 


Sebuah pernyataan yang menyakiti hati umat Islam. Sebab Islam seolah menjadi pihak yang tertuduh. Pernyataan tersebut juga sesat dan menyesatkan. Islam agama politik-spiritual yang akan memberikan rahmatan lil alamin bila diterapkan dalam kehidupan. Islam memiliki konsep keimanan dan seperangkat tuntunan kehidupan telah terbukti dalam sejarah peradaban Islam yang gemilang. 



Dengan Islam, Rasullah telah menegakkan negara di Madinah dan terus meluas kekuasaannya dilanjutkan para Khalifah. Dengan Islam, telah takluk kemegahan konstantinopel ditangan seorang anak muda. Dengan Islam pula, selama 13 Abad negara Islam pernah ada sebagai pusat perhatian dunia.


Islam tidak bertentangan dengan pancasila. Pancasila pun mengandung nilai-nilai islami. Namun, Islam sudah ada jauh sebelum pancasila ada. Islam merupakan wahyu dari Allah SWT dan dibawa oleh Rasulullah menjadi petunjuk untuk seluruh ummat manusia. Maka tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Tidak ada yang harga mati kecuali Islam.


Pernyataan demikian apalagi oleh pejabat negara, semakin menggambarkan pada kita bahwa rezim ini anti pada Islam. Telah banyak persoalan sebelumnya, misal tentang melawan radikalisme, pelarangan simbol Islam, diskriminasi terhadap para Ulama, fitnah keji pada organisasi Islam dan masih banyak lagi bentuk-bentuk propaganda Islamophobia dan deislamisasi yang telah ditampakkan rezim dan korbannya adalah umat Muslim yang merupakan mayoritas.


Tentu saja, hal ini wajar terjadi. Sebab negeri ini menjadikan sekulerisme sebagai asas sedangkan justru menjadi sumber dari segala masalah. Sekulerisme telah memisahkan agama dengan kehidupan, sehingga muncullah kekacauan.



Dalam menjalankan kehidupan bernegara, adalah wajib merujuk pada agama sebab dengannya perpolitikan akan menjadi benar. Bukan politik demokrasi kapitalisme yang melahirkan penjajahan dengan gaya baru mendatangkan kedzaliman bagi ummat. Inilah yang harus ditinggalkan oleh rezim, bukan malah menjauhkan agama dari negara. 



Berbagai persoalan yang merusak negeri ini tak ada sedikitpun dikarenakan Islam. Justru Islam menawarkan solusinya dengan menerapkan Syariah Islam untuk mengatur dan menyelesaikan semua problematika bangsa ini.



Bukankah Allah memerintahkan kita untuk berislam secara kaffah (menyeluruh), dalam surah Al Baqarah ayat 208 yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu". 



Sebagai orang beriman, berarti tidak mengambil sebagian dan mengabaikan sebagian yang lain, layaknya prasmanan. Islam diambil ketika perkara ibadah atau mengurusi jenazah tetapi diabaikan bila persoalan ekonomi dan negara. Sebagai muslim, tak pantas kita mengambil petunjuk selain daripada apa yang telah Allah turunkan. 



Manusia hanyalah makhluk lemah dan terbatas. Manusia tidak tahu apa yang terbaik untuk dirinya, maka dari itu Allah telah menurunkan Al Quran sebagai petunjuk dan mengutus Rasulullah sebagai suri tauladan kehidupan. Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh tokoh politik yang paling hebat. Ketika Allah memerintahkan untuk hijrah ke Madinah dan akhirnya mendirikan sebuah negara Islam disana. Beliau sebagai kepala negara, sebagai qâdhî (hakim) dan panglima perang. 


Rasul saw. pun mengatur keuangan Baitul Mal, mengirim misi-misi diplomatik ke luar negeri untuk dakwah Islam, termasuk menerima delegasi-delegasi diplomatik dari para penguasa di sekitar Madinah.


Sejarah kemerdekaan Indonesia juga tak lepas dari peran agama. Rakyat berani berperang melawan penjajah karena adanya semangat jihad. Kita tentu mengenal para pahlawan muslim seperti Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol.


Untuk itu, agama dan politik tidak akan bisa dipisahkan. Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, menyatakan, “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga niscaya akan musnah.”



Ibnu Taymiyah juga menegaskan, “Jika kekuasaan terpisah dari agama atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.” (Ibnu Taimiyah, Majmû’ al-Fatawa, XXVIII/394).


Maka, kita harus segera mencampakkan sistem kapitalis sekuler liberal dan menggantinya dengan sistem Islam untuk menyelamatkan ummat di seluruh dunia, tentu dalam naungan sebuah negara dan sistem yang berasal dari Sang Pencipta Allah SWT yaitu Daulah Khilafah.[MO/ia]


Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Posting Komentar