Oleh: Eqhalifha Murad
(Pemerhati Kedirgantaraan, eks pramugari)

Mediaoposisi.com-Pesawat tempur F16 yang dihibahkan Amerika Serikat sudah lebih setahun yang lalu, akhir Februari 2018, kepada Indonesia berhasil di_upgrade oleh anggota TNI AU dan PT. DI (Dirgantara Indonesia). Dan disupervisi oleh Lockheed Martin, pengawas dari pabrik pesawat F16 Amerika. Keberhasilan ini ditandai dengan dilakukannya uji coba pesawat dan sukses mengudara yang dipiloti oleh Dwayne "Pro" Opella.


Pesawat tempur F16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi peran supersonic yang awalmya dirancang sebagai pesawat tempur superior. Pesawat ini sangat populer di mata internasional dan telah dipakai oleh angkatan-angkatan udara di dunia. Pesawat F16 merupakan proyek pesawat tempur blok Barat yang paling besar dan signifikan. Pesawat ini sudah diproduksi sejak tahun 1976 oleh Angkatan Udara Amerika Serikat.


Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan: "Kita harus bangga Indonesia sudah mampu meng_upgrade pesawat tempur F16 menjadi canggih setara dengan pesawat generasi paling baru. Sehingga mampu membawa persenjataan rudal jarak jauh dilengkapi radar dan avionic terbaru."


Program upgrading ini bertujuan meningkatkan kemampuan airframe, avionic dan armament system, memaksimalkan usia pakai pesawat menjadi 8000 actual flying hours. Sehingga bisa dilakukan kepada pesawat F16 yang lainnya. Selain mampu membawa amunisi lebih banyak, pesawat juga bisa mengunci sasaran tembak berjarak 300 km seperti jarak dari Jakarta-Bandung dan dapat menembak akurat multi target.


Namun apakah sampai disini saja sudah cukup? Upaya perombakan besar-besaran dan modifikasi terhadap F16 belum cukup untuk menunjukkan taring Indonesia sebagai negara yang berdaulat di kancah perpolitikan dunia. Untuk itu beberapa inovasi berikut ini bisa segera dilakukan Indonesia:


Pertama, jangan cepat puas karena sudah mampu merombak atau meremajakan pesawat tempur, ini diibaratkan seperti mendaur ulang barang bekas. Saatnya Indonesia mampu membuat atau menciptakan sendiri pesawat tempur yang mutakhir. Sehingga tidak tergantung lagi dengan asing.  Mulai dari membuat komponen atau suku cadang sehingga juga bisa mengantisipasi embargo suku cadang dari pihak asing.


Untuk itu industri pertahanan dan SDM berkualitas harus ditingkatkan. SDA yang melimpah menjadi modal untuk mengalokasikan dana yang sebesar-besarnya kepada sektor ini. Dan yang tak kalah penting adalah sisi Political Will pemerintah sangat diharapkan untuk pencapaian babak baru alutsista Indonesia.


Seperti diketahui awal dihibahkannya pesawat ini oleh AS tidak terlepas dari perwujudan konkret komitmen kemitraan strategis antara kedua negara. Jadi tidak akan ada istilahnya makan siang gratis. AS yang mempunyai tingkat alutsista yang sangat banyak dan berlebih akan mengekspornya kenegara lain dengan potongan harga hingga 50 persen. 


Sedangkan untuk alutsista yang tidak dipergunakan lagi, akan dihibahkan untuk mengurangi biaya perawatan pesawat yang memakan biaya hingga 330 juta rupiah.


Kedua, pesawat tempur jangan sekedar untuk airshow saja yakni berupa pertunjukan di udara atau pameran dirgantara saja. Alutsista juga tidak hanya untuk pertahanan dalam negeri saja tapi juga untuk digunakan dalam misi perang membantu negeri yang dijajah. Bukankah visi misi Founding Father negeri ini adalah ingin menghapuskan penjajahan diatas dunia?


Maka membantu membebaskan umat Islam yang saat ini banyak tertindas juga harus dilakukan. Untuk itu industri pertahanan harus bebas dari campur tangan asing, sehingga mandiri bebas intervensi dan tidak memihak blok manapun atau nonblok.



Ketiga, semua itu akan bisa diwujudkan dalam bentuk negara yang mempunyai visi misi jihad sebagai salah satu politik luar negerinya. Bentuk negara itu adalah khilafah yakni suatu sistem negara yang mempunyai politik luar negeri jihad dan dakwah Islam keseluruh dunia.


Jadi perombakanpun harus dilakukan juga terhadap sistem negara. Indonesia harus meng_upgrade diri dengan mengemban ideologi yang lebih shahih. Karena sistem yang diadopsi selama ini yakni kapitalis, hanya membuat Indonesia tetap tergantung dengan asing. Sehingga mengalami ketertinggalan yang sangat jauh dari negara lain.


Untuk mencapai status negara yang maju harus meliputi kemajuan dari segala aspek kehidupan bernegara. Bukan sekedar status yang semu, status negara maju yang disandang Indonesia baru-baru ini tidak mewakili kesejahteraan rakyatnya yang hidup miskin diatas melimpahnya kekayaan SDA. Kekayaan ini masih bebas dicaplok oleh asing dibawah pemerintahan yang tidak punya kuku menghadapi negara asing kapitalis.


Hal ini seperti yang dicontohkan oleh negara Khilafah selama 13 abad memimpin dunia dengan politik luar negerinya yang mampu menaklukkan panggung perpolitikan dunia saat itu, sehingga menjadi negara adidaya pada masanya dan mampu membawa rakyatnya ketingkat kehidupan yang tinggi dan sangat mulia.[MO/ia]













Posting Komentar