Oleh : Ani Herlina  
(Pendidik dan Member  Menulis Kreatif)



Mediaoposisi.com-Covid-19 sudah menjadi wabah yang meng-Global. Virus yang berasal dari  sebuah kota Wuhan yang ada di China itu, kini penyebarannya sudah meluas keberbagai  Negara, termasuk Indonesia. Jika penangananan Covid ini tidak dilakukan secara cepat, maka akan banyak korban-korban yang berjatuhan.


Bisa jadi korban akan lebih banyak dari apa yang terjadi di kota Italia, mengingat  Indonesia tidak menerapkan kondisi Lock Down pada sebuah wilayah. Tentu hal ini akan membuat masyarakat semakin kawatir dan curiga pada setiap orang, karena tidak bisa membedakan mana orang yang tertular virus covid dan tidak. 


Sedangkan aktivitas masyarakat masih tetap berlangsung sampai kini. Otomotis penyebaran Covid akan terus menyebar, mengingat virus ini sulit dikenali ketika menempel ditubuh manusia, jika bukan dengan alat deteksi medis.

Baca Juga: Perjuangan Indah Feminisime, Solusi atau Ilusi?

Hingga Selasa (24/3/2020) siang, di Indonesia telah terkonfirmasi ada 686 kasus positif virus corona.
Data tersebut menunjukan adanya tambahan 107 pasien dari data sebelumnya. Sebanya 686 pasien  positif, 30 pasien telah disetujui dan  diizinkan pulang, sedangkan 55 meninggal dunia.’


Sedangkan data secara global penyebaran virus terus meluas. Hingga rabu (25/3/2020) pagi, sebanyak 168 negara  mengonfirmasi terjangkit virus coid-19.


Dilansir dari peta penyebaran Covid, CoronaVirus COVID-19 Kasus global oleh John Hopkins CSSE, jumlah pasien yang diperoleh sebanyak 107.247 orang.


Sementara itu, jumlah kasus virus diseluruh dunia sudah mecapai 417.582 kasus dengan korban meninggal dunia sebannyak 18,612 kasus

Melihat data kasus di atas baik secara nasional maupun global, tentunya penyebaran virus ini tidak bisa dianggap enteng. Dibutuhkan  kesigapan  pemerintah untuk mengatasinya. Langkah Lock Down adalah keputusan yang paling tepat untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19. 

Namun sangat disayangkan Pemerintah tidak akan menerapkan  Lock Down, itu dikatakan oleh ketua gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Doni Monardo yang sudah mendapat intruksi langsung dari presiden Joko Widodo perihal dorongan tersebut dalam sebuah Vidio yang di unggah pada hari Sabtu 21 Maret dia mengatakan, “ Saya tegaskan, pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi telah memberikan intruksi kepada Kepala Gugus Tugas, yang tidak akan ada kuncian.”


Lock Down memang sebuah langkah yang dianggap ekstim bagi sebagian orang, karena akan mematikan  segala aktivitas masyarakat untuk beberapa waktu, atau untuk waktu yang tidak bisa ditentukan, sampai  virus Covid hilang dari sebuah kota. 


Dapat mematikan mata rantai ekonomi, dan ini akan banyak pihak yang dirugikan, terutama kalangan kolongmerasi , aktivitas bisnis mereka akan banyak merugi hingga triliunan rupiah. Dan tentu langkah ini tidak diinginkan mereka, sesuai dengan prinsif kapitalis melakukan pengorbanan sekecil-kecilnya dan mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin.


Begitupun dengan rakyat menengah kebawah, akan berhenti pendapatan mereka untuk beberapa hari kedepan. Sedangkan negara  secara finasial memang tidak siap untuk menanggung biaya hidup masyarakat di saat kondisi wabah pindemi ini. 


Jangankan untuk menanggung kehidupan masyarakat kedepan, memberikan jaminan kesehatan untuk para petugas medis yang berada di garda terdepan dengan menyediakan Alat Pelindung Diri, negara sangat keteteran. Akhirnya para petugas medis satu persatu tumbang  ditengah upaya menyelamatkan pasien yang  terkena virus Covid.


Langkah Lock Down memang akan mengalami banyak kerugian besar, ditengah ekonomi dunia yang tidak stabil dengan melemahnya rupiah terhadap dolar yang menembus RP.16.172.50/ dollar Amerika, tentu hal ini akan memberatkan APBN. Tapi langkah ini yang harus diambil, demi menyelamatkan jutaan rakyat yang hidup didaerah padat penduduk dengan aktivtas manusia tanpa henti. 


Karena jika langkah ini tidak diambil, penyebaran Covid akan menelan banyak korban jiwa seperti halnya yang terjadi di Italia. Mengambil  langkah Lock Down adalah keharusan, karena cara ini terbukti berhasil diterapkan di China, angka korban meninggal sudah berkurang dari pada sebelumnya, bahkan nyaris sudah tidak ada lagi korban.


Begitupun Negara seperti Taiwan,  Korea, Singapura,  sudah menerapkan langkah ini. Dan angka kematian jauh lebih sedikit dibanding Indonesia.  Mereka bertindak sejak dini dengan tegas, sehingga berhasil mengendalikan penyakit melalui skrining, pengujian, pelacakan kontak, serta  menjaga jarak sosial. Dan untuk melakukan hal ini butuh ketegasan Negara, dan pemimpin yang mau berkorban. Bukan pemimpin yang memikirkan skala untung rugi, tapi menumbalkan nyawa rakyat.


Jika memikirkan ekonomi akan anfal karena Lock Down butuh biaya yang besar dan mahal. Semua Negara di dunia merasakan hal yang sama. Dan suatu saat ekonomi akan bangkit kembali, ketika kondisi negri sudah bisa menangani wabah pindemi ini.


Dalam kondisi ini penguncian wilayah pemerintah bisa mengedukasi rakyatnya untuk saling tolong menolong, dimana yang mampu secara materi membantu yang lemah demi menghentikan penyebaran virus sehingga semua orang tidak ada yang beraktivitas keluar rumah, jika memang Negara tidak bisa menanggung kehidupan rakyat selama Lock Down terjadi.


 Karena jika negara tidak mengambil langkah Lock Down, tidak melakukan sanksi tegas, mengingat bandelnya masyarakat yang sangat sulit  diberikan edukasi, maka upaya apapun yang di gemborkan pemerintah selain langkah Lock Down tidak akan berhasil.[MO/ia]



Posting Komentar