Oleh : Merli Ummu Khila
(Kontributor Media, Pegiat Dakwah)


Mediaoposisi.com-Duka itu menyelimuti umat Islam di Madinah pada Senin 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah atau 8 Juni 632 Masehi, kurang lebih 1.387 tahun yang lalu. Rasulullah Saw wafat diusia 63 tahun. Selayaknya seorang muslim yang meninggal, maka wajib sesegera mungkin menguburkannya. Apalagi sosok mulia junjungan umat.


Namun sahabat dan keluarga justru melakukan sesuatu yang jauh lebih penting. Mereka menunda pemakaman Rasulullah Saw sampai mendapatkan pengganti sebagai khilafah. Para sahabat paham dan sadar bahwa wajib hukumnya hidup di bawah seorang pemimpin yang akan mengurusi urusan umat. Para sahabat berijma’ (sepakat) bahwa tidak boleh kaum muslim hidup tanpa ada seorang pemimpin lebih dari tiga hari.


Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Umar ra. benar-benar menegaskan pentingnya pembatasan waktu selama tiga hari untuk mengangkat khalifah dengan mengatakan, “Jika saya meninggal maka bermusyawarahlah kalian selama tiga hari. Hendaklah Suhaib yang mengimami shalat masyarakat. Tidaklah datang hari keempat, kecuali kalian sudah harus memiliki amir (khalifah).”



Lalu bagaimana dengan saat ini? Sudah 99 tahun umat Islam tanpa khalifah. Sejak 3 Maret 1924 silam diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Attarurk laknatullah. Sejak saat itu umat Islam tercerai berai tanpa wadah pemersatu, tanpa khalifah sebagai perisai.


Sejak saat itu pula umat disusupin pemikiran asing yang menjauhkan kaum muslim dari keislamannya. Dunia mulai diatur oleh kapitalisme dan sosialisme, paham yang aturannya ditangan manusia. Kerusakan pun mulai terjadi di seluruh aspek kehidupan.


Perekonomian yang dibangun atas sistem kapitalisme liberal ternyata gagal menyejahterakan rakyat. Karena perekonomian dibangun dengan riba dan pasar modal. Pemerintah hanya diberi sedikit ruang oleh kapitalis untuk mengatur perekonomian. Akhirnya uang hanya beredar di kalangan pemodal.


Tidak ada pengaturan kepemilikan yang menyuburkan swastanisasi dan privatisasi. Sumber daya alam menjadi santapan kapitalis untuk memperkaya diri, negara semakin terseok-seok menutupi anggaran. Akhirnya berakhir pada penderitaan rakyat dengan beragam beban pajak.



Liberalisasi pendidikan yang menjadikan mahalnya biaya sekolah, sehingga menuntut ilmu yang tinggi hanya bisa dirasakan bagi masyarakat menengah keatas. Sedangkan bagi masyarakat kelas bawah, sekolah hanya untuk persyaratan mendapat pekerjaan.


Swastanisasi aspek kesehatan pun berdampak buruk bagi masyarakat. Pemerintah berlepas tangan dengan kesehatan rakyat. Jaminan sosial BPJS ternyata membebani rakyat dengan dalih gotong royong. Tidak hanya itu, premi yang harus dibayar pun semakin membebani.


Lalu apa yang diharapkan dari sistem buatan manusia? Semakin hari bukannya membaik tapi semakin terpuruk. Tengok saja negeri ini. Perekonomian ambruk tak mampu terselamatkan. Hutang luar negeri semakin menggunung. Rupiah anjlok serta penanganan terhadap pandemi ditengarai sangat tidak siap.


Haruskah kita bertahan dengan penderitaan, sementara jalan menuju kesejahteraan sudah didepan mata. Kerusakan sudah terjadi di semua aspek kehidupan. Sistem kufur terbukti tidak akan pernah berpihak kepada rakyat serta tidak mampu menyelesaikan permasalahan secara menyeluruh.


Melanjutkan kehidupan Islam adalah satu-satunya jalan keluar segala permasalahan. Menegakkannya adalah sebuah kewajiban, bukan pilihan. Kewajiban diterapkannya sistem Islam jelas terdapat pada dalil dalam Al-Quran, As-Sunnah serta ijma sahabat.



Maka, menegakkan syariah Islam dalam sebuah pemerintahan yaitu Daulah Khilafah Islamiyah harus disegerakan. Karena sebagai muslim kita wajib meyakininya dua hadist berikut :


Sabda Rasulullah Saw:

........ Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).


Mengapa setiap muslim wajib memperjuangkannya? Karena akan ada konsekwensi yang harus diterima jika tidak mau berjuang.


“Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah), maka ia mati jahiliah.” [HR Muslim].[MO/ia]

Wallahu a'lam bishshawaab

Posting Komentar