Oleh: Mochamad Efendi
(Kontributor Opini)


Mediaoposisi.com-Tawuran antar pelajar sangat disayangkan marak terjadi karena mereka tidak terbiasa bernarasi atau adu argumentasi saat mereka memiliki pemahaman yang berbeda. Pelajar harusnya belajar untuk mengedepankan akal sehat dalam menyelesaikan permasalahan mereka dari pada beradu kekuatan fisik.   

Masalah sepele bisa memicu emosi dan perkelahian. Mereka bahkan tidak segan membunuh temannya sendiri. Hanya karena saling ejek pertengkaran terjadi antar pelajar SMP di Medan yang berujung hilangnya nyawa disiarkan oleh i-NEWS-RCTI, jumat 7 Februari 2020.

Mereka begitu mudah mengejek dan menyakiti temannya yang lemah. Mereka menikmati dan tertawa saat melihat temanya tersakiti. Seorang siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 16 Kota Malang, Jawa Timur, yang diduga menjadi korban bully oleh sejumlah temannya di sekolah masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Bahkan, pihak rumah sakit terpaksa melakukan amputasi pada jari tengah tangannya. (Kompas.com)

Kenapa ini bisa terjadi? Hilangnya empati diantara mereka sehingga tidak sedikit dari mereka saling menyakiti dan melukai secara fisik bahkan berujung pada kehilangan nyawa mereka. Sementara  yang lemah dibully tanpa merasa kasihan sedikitpun di dalam hati.

Remaja adalah masa yang paling labil dalam perkembangan jiwa seseorang. Masa mencari jati diri menuju kedewasaan perlu mendapatkan perhatian khusus jika tidak mereka akan terseret pada perilaku yang menyimpang karena terinspirasi dari apa yang mereka lihat dan rasakan dari lingkungan mereka. Sungguh, perilaku buruk orang dewasa disekitarnya akan menjadi contoh buruk bagi mereka. 

Oknum 2 guru adu mulut dan bakum hantam di Medan sumatera utara ( i-News disiarkan oleh RCTI, 7/2/2020). Kita juga bisa melihat perilaku politisi di alam demokrasi yang saling mengancam dan merendahkan satu sama lain. Mereka tidak bisa bersikap dewasa dalam menyikapi satu perbedaan.

Sementara sosmed begitu mudahnya menyajikan berita kriminal dan kekerasan yang sangat mudah diakses remaja bahkan anak-anak sekalipun. Banyak dari mereka mencontoh perilaku mereka yang melakukan tindak kekerasan. Sadisme juga sering dipertontonkan secara fulgar dalam tayangan video online yang lagi viral.

Game online juga menginspirasi para remaja untuk menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah dari pada cara verbal yang elegan. Mereka memainkan karakter untuk saling menyerang dan membunuh menggunakan senjata canggih yang mematikan. 

Remaja kecanduan game online akan terpapar radikalisme bukan remaja militan yang taat pada ajaran Islam yang lurus dan mulia. Semangat untuk mengalahkan lawan dengan cara kekerasan yang dimainkan pada game online menginspirasi tawuran antar pelajar dan keinginan membully teman yang dianggap lemah dan tidak berdaya.

Fakta menunjukkan sistem domokrasi yang rusak telah memicu terbentuknya karakter pelajar yang suka kekerasan. Mereka terinspirasi dari apa yang mereka tonton dan temukan dalam kehidupan nyata yang memberikan contoh tidak baik dalam menyikapi perbedaan. Fitnah keji, penistaan dan ancaman yang memprovokasi munculnya tindak kekerasan sering dipertontonkan pada pelajar baik di dunia nyata maupun di sosial media.

Sayang ini tidak banyak mendapat perhatian dari penguasa rezim yang sibuk dengan urusan pencitraan untuk mempertahankan kekuasaan. Masalah yang menimpa pelajar yang merupakan generasi penerus sering terabaikan padahal di tangan mereka nasib negeri ini di masa mendatang. Generasi unggul dan cemerlang harus dipersiapkan untuk masa depan indonesia yang cemerlang, bukan generasi suka tawuran dan menyakiti teman.

Hanya dengan tsaqofah Islam yang benar untuk membentuk karakter remaja yang kuat dan berkepribadian Islam akan membentengi mereka dari pengaruh lingkungan yang buruk. Remaja harus mau mengaji tentang ajaran Islam yang lurus dan mulia agar mereka mampu menyikapi setiap permasalah dengan tepat dan benar tanpa menggunakan kekerasan. 

Remaja yang mengatur hidupnya dengan Islam baik pola sikap maupun pola pikirnya akan manjadi remaja tangguh, tidak lemah tapi meraka perduli dengan temannya dan tidak suka membully, membuat temanmya marah dan sakit hati. Remaja unggul berkepribadian Islam akan menjadi suri tauladan bagi teman yang lain.

Namun, kita sadari bersama bahwa membentuk remaja unggul berkepribadian Islam tidaklah mudah dalam sistem demokrasi yang sering mempertontonkan kekerasaan sehingga banyak pelajar yang terinspirasi dari apa yang ada disekitarnya. Mereka lebih memilih cara kekerasaan untuk menyelesaikan masalah mereka. 

Hanya dalam sistem yang mampu menjamin kehidupan Islami akan banyak memunculkan generasi hebat dan cemerlang. Kehidupan Islami hanya bisa terwujud dalam sistem Islam yang mana ajaran Islam bisa diterapkan secara kaffah dalam kehidupan nyata.[MO/ys].

Posting Komentar