Oleh : Asfian Nurrabianti
(mahasiswa Universitas Muhammadyah Malang)

Mediaoposisi.com- Minggu minggu ini hijab menjadi bahan perbincangan yang hangat dikalangan muslimah maupun muslim. Begitupula dengan pernyataan yang baru-baru ini muncul mengenai hijab, yaitu pernyatakan bahwa hijab tidaklah wajib bagi seorang muslimah. Pernyataan ini sontak membuat kaget  muslim dan muslimah khususnya. Sehingga, timbul perbedaaan pendapat terhadap hal ini, ada yang sepakat dan ada juga yang tidak sepakat dengan hal tersebut.
Disamping perbedaaan pendapat di atas, ada hal yang lebih penting dan perlu untuk dibahas yaitu mengapa dan apa dampak yang ditimbulkan dari pernyaaan di atas? 
Saat ini di dalam maupun luar negeri hak kebebasan berpendapat sangat dijunjung tinggi dan bahkan dibuat undang-undang tersendiri bagaimana hak rakyat dalam berpendapat. Namun, berbeda halnya ketika kebebasan berpendapat ini dikaitkan dengan syariat dan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Contoh dilihat dari permasalah hijab ini, dari penafsiran ayat Al-Qur’an oleh para orang  terkemuka di Indonesia yang menyatakan bahwa hijab tidaklah wajib bagi muslimah. Dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an tersebut beliau mengaitkannya dari segi budayanya.
Beliau dengan lantang berani mengatakan bahwa setiap muslimah tidak wajib menggunakan hijab berdasarkan penafsiran kontekstual yang beliau lakukan. Mengapa hal ini bisa terjadi?, tentunya karena prinsip kebebasan berpendapat di atas dan kurangnya pemahaman namun asal menafsiran dan  mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga timbullah pernyataan-pernyataan seperti yang diutarakan di atas.
Dampak yang ditimbulkan dari pernyataan di atas yaitu dengan hadirnya kampanye yang di sebut “No Hijab Day”, dimana salah satu aktivis dari kalangan feminisme yang memviralkan kampanye ini ialah Yasmine Mohammed. Kampanye ini merupakan salah satu bentuk penyesatan terhadap umat dimana menganggap bahwa hijab itu tidak wajib bagi muslimah.
Kaum muslimah dibuat bingung dengan pendirian mereka ketika meraka ingin berhijab namun ada pernyataan lain yang tidak mewajibkan memakai hijab. Dari sini kaum muslimah dibuat berpikir dua kali ketika ingin menjalankan syariat Allah hanya karena pernyataan yang belum jelas bagaimana cara menafsirannya terhadap ayat Al-Qur’an mengenai hijab.
Kaum liberal dan feminisme dibuat senang dengan pernyataan-peryataan seperti ini karena memang mereka menganggap bahwa hijab itu mengekang mereka. Padahal, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dalam menafsirkan Al-Qur’an dan hadist seseorang harus memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas dan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan yang lain.
Syarat kecilnya saja seseorang dalam menafsirkan Al-Qur’an yaitu harus menguasai Bahasa Arab, hafal Al-Qur’an dan hadist, dan masih banyak lagi syarat-syarat lainnya dalam menafsirkan Al-Qur’an. Jadi, tidak semua orang berhak untuk menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Ketika seorang salah menafsirkan Al-Qur’an, maka akan ada banyak orang yang tersesat akibat penafsiran yang salah tersebut.
Kembali kepada permasalahan tentang hijab, berbicara tentang hijab berarti berbicara tentang syariah. Dalam Islam sendiri sudah banyak ayat-ayat dan hadist yang membahas mengenai hijab. Hijab sendiri memiliki makna yang berbeda dengan jilbab dan kerudung. Hijab merupakan pembatas atau penghalang antara pandangan wanita dan laki-laki.
Sedangkan jilbab terdapat dalam surah Al-Ahzab ayat 59 yang berarti jilbab merupakan baju yang lapang yang diulurkan ke seluruh tubuh seperti gamis. Kemudian untuk kerudung ialah kain penutup kepala hingga ke dada sebagaimana telah dijelaskan dalam surah An-Nur ayat 31. 
Hijab disini ada karena adanya kewajiban seorang muslimah untuk menutup aurat mereka, dimana aurat muslimah yaitu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sudah sangat jelas Al-Qur’an mewajibkan setiap muslimah untuk menutup auratnya, dengan apa? Tentu dengan hijab tersebut.
Jadi hijab disini bukanlah budaya sebagaimana yang orang-orang katakan dan pahami, yang bisa dilepas - pakai kapan saja sesuai keinginan dan kebutuhan individ tertentu. Namun, hijab merupakan syariat Allah SWT yang tentunya wajib untuk dilaksanakan. Hijab disini hadir untuk memuliakan muslimah bukan mengekang mereka seperti pemahaman yang diemban kaum liberal dan feminis di atas.
Namun, kabar buruknya muslim saat ini  tak sadar dan tidak faham tentang agama mereka sendiri., karena pemahaman kaum muslim telah diracuni oleh pemikiran-pemikiran dimana memisahkan masalah agama (Islam) dengan masalah kehidupan atau disebut pemikiran sekuler. Kaum muslim telah terjangkit pemikiran sekuler dan liberal dimana mereka bebas untuk menentukan bagaimana menentukan tujuan hidup mereka, bagaimana menjalankan kehidupan mereka dan lupa akan Sang Pencipta yang merupakan Pencipta sekaligus pengatur kehidupan hamba-hamba-Nya.
Pemikiran-pemikiran ini jika dibiarkan begitu saja, maka bukan tidak mungkin kaum muslim akan semakin jauh dari pemikiran Islam. Satunya-satunya cara agar pemikiran-pemikiran seperti ini tidak semakin merambat luar yaitu memurnikan kembali pemikiran umat Islam ke pemikiran Islam yang sempurna. Perlunya kesadaran umat akan pentingnya Islam dalam kehidupan umat manusia karena dengan cara inilah pemikiran-pemikiran di atas tidak mungkin dimiliki oleh kaum muslim.
Kaum muslim akan senantiasa disibukkan dengan pemikiran-pemikiran Islam dan bagaimana menerapkan pemikiran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya hal ini tidak datang begitu saja, dibutuhkan perjuangan yang besar dan membutuhkan waktu yang lama dalam mewujudkannya, serta bukan hanya dilakukan oleh individu saja namun seluruh umat manusia dan muslim khususnya yang harus memperjuangkan cita-cita dan tujuan ini.
Tentu saja bukan hanya masalah pemikiran dan penafsiran mengenai ayat-ayat Al-Qur’an saja yang dimurnikan, namun segala pemahaman mengenai seluruh aspek kehidupan akan dimurnikan kembali berdasarkan peraturan Islam saja. Tentunya penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang memang memenuhi syarat dalam hal tersebut.
Jadi, langkah awal perjuangan kita dalam mewujudkan cita-cita agung di atas dengan SAY NO TO “ NO HIJAB DAY”. Dengan perubahan kecil dan jika dilakukan secara terus menerus menjadikan Islam sebagai tujuan kita, maka tujuan di atas bisa segera terwujudkan. [MO/ra]

Posting Komentar