Oleh : Khadijah
(Founder Pena Muslimah Cilacap dan Pemerhati Politik) 

Mediaoposisi.com- Tahun lalu, tepatnya pada 9/11/19 di Desa Sindang Barang-Karang Pucung AKBP Djoko Julianto S.IK,M,H melauncing program Kampung Bersinar Terang yang akan diterapkan diberbagai Daerah di Jawa Tengah. Agenda ini dilanjutakan ditahun ini dengan susul menyusul antar desa dan Kecamatan seperti di Desa Nusa Jati-Sampang, Karang Kemiri-Jeruk Legi dan yang terakhir Desa Tegal Sari-Sidareja.
Berbagai desa yang di target dianggap desa yang secara Geografis memiliki letak yang strategis untuk menjadi contoh Kampung Bersinar Terang dengan harapan agar kampung bersih dari Narkoba, Terorisme, Radikalisme dan Ormas terlarang. Ia juga mengatakan bahwa program tersebut merupakan terobosan dari Kapolres Cilacap dengan Bupati Cilacap Tato Pamuji. 

https://tribratanews.cilacap.jateng.polri.go.id/jajaran/kapolsek-sampang-cilacap-sosialisasikan-kampung-bersinar-terang/https://cilacapkab.go.id/v3/desa-karangkemiri-jeruklegi-dicanangkan-sebagai-desa-bersinar-terang-kampung-kb-dan-desa-bebas-odf/https://maspolin.id/2019/11/09/kampung-bersinar-terang-agar-desa-bebas-narkoba-radikalisme-terorisme-dan-organisasi-terlarang/

Tentu program ini tidak hadir dengan sendirinya. Pasalnya, program ini merupakan buntut dari kesepakatan empat lembaga pemerintahan yang meliputi Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  (BNPT), Kemenag dan Kemendigbud termasuk juga didalamnya ormas terbesar di Indonesia (NU).
Keempat lembaga tersebut membuat lembaga-lembaga mantel guna mempermudah kinerja program tersebut seperti Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) sebagai lembaga khusus yang menangani masalah Terorisme dan Radikalisme. Wal hasil melalui lembaga tersebut muncul pernyataan bahwa Provinsi Jawa Tengah menjadi satu dari dua belas daerah yang masuk kedalam zona merah penyebaran Radikalisme dan organisasi yang disinyalir menganut faham Radikalisme. 

Selain itu, cara khusus menangani faham tersebut selain pemerintah dan aparat peran aktif masyarakat juga menentukan keberhasilan dalam menekan persoalan ini. Sehingga dibentuklah Badan Koordinasi Amalan Islam (BKAI) sebagai benteng masyarakat dalam menangkis dan membasmi faham Radikalisme. BKAI diharapkan menjadi lembaga kemakmuran masjid, mushala, membentuk pola dakwah yang moderat dan berpegang teguh pada nilai-nilai washatiyah. 

Tidak cukup sampai disitu, pemerintah dan kepolisian juga bekerjasama dengan Badan Koordinasi Himpunan Masyarakat Islam (Badko HMI) dalam rangka membangun masyarakat dan mahasiswa anti hoax, narkoba dan Radikalisme. Hal ini tertuang dalam MoU yang ditandatangani oleh Kepolisian Jateng Irjen. Pol Rycko Amelza Dahniel, M.Si. Kejahatan narkoba, terorisme, radikalisme dianggap  termasuk dalam kategori Ektra Ordinari Crime (kejahatan luar bisa), sehingga membutuhkan penanganan khusus.

Dilihat dari sisi fakta seharusnya beda antara penanganan kasus Narkoba dan Radikalisme dari sisi pelanggaran. Penyalah gunaaan narkoba sendiri merupakan pelanggaran mutlak terhadap undang-undang pemerintahan, memiliki dampak kerusakan yang berpotensi memandulkan generasi penerus bangsa serta merugikan negara.
Sehingga penanganan khusus perlu dilakukan pemerintah untuk menanggulangi dan memberantas peredaran narkoba sampai ke akar-akarnya serta membongkar dan mengeksekusi para mafia (gembong) narkoba dengan hukuman yang berat. Kejahatan ini tidak perlu adanya toleransi dilihat dari sisi kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dari aktifitas tersebut. Berbeda halnya dengan isu radikalisme dan terorisme yang belum jelas devinisinya.

Sudah bukan rahasia jika isu-isu ini dijadikan permainan isu politik yang digunakan sebagai alat untuk melemahkan lawan politik dan dakwah Islam. Isu radikalisme jelas bukanlah isu yang bergulir secara alami. Isu ini direkayasa sedemikian rupa sehingga mengarah pada satu sasaran, yakni Islam.

Dengan rumitnya perumusan definisi ‘terorisme’ dan ‘radikalisme’, sebaiknya ulama, cendekiawan, pejabat lebih berhati-hati dalam menggunakan istilah tertentu. Ketika ada isu mengenai terorisme justru Islamlah yang disudutkan, Islam yang dituduh-tuduh sebagai teroris. Akhirnya yang terjadi banyak umat Islam yang phobia terhadap agamanya sendiri.
Takut dengan kelompok-kelompok Islam hanya karena framing negatif tentang Islam. Takut belajar pada agamanya sendiri karena takut diajari menjadi teroris. Framing negatif itu memang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti umat Islam agar mereka manjauh dari agamanya sendiri dan juga untuk mengadu domba antar umat beragama.

Terorisme merupakam topik yang menarik untuk dibahas. Bagian yang menarik adalah stigma atau framing negative terkait terorisme ini hampir tidak pernah luput ditujukan kepada salah satu agama, yaitu Islam. Terorisme itu impor dari Negara kapitalis, Negara Barat yang benci terhadap Islam. Yang membuat serangan orang-orang kapitalis akan tetapi yang disudutkan Islam. 

Bagaimanapun, menyerang agama Islam secara langsung tentu sangat beresiko menuai berbagai penolakan dan perlawanan. Apalagi target sasaran Barat banyak dilakukan di negeri yang mayoritas beragama Islam. Karena itu diperlukan “isu antara” agar bisa diterima berbagai kalangan terutama pihak penguasa. Isu radikal inilah yang dipilih setelah isu terorisme tidak laku jual dan telah kehilangan pamong. Mereka kaum barat mencoba mengulangi manuver politik dengan menggoreng isu radikalisme untuk menyerang islam.

Sama halnya dengan wacana ‘terorisme’, wacana ‘radikalisme’, ‘fundamentalisme’, dan ‘militan’, juga sangat rumit dalam lapangan akademis. Apalagi, makna suatu istilah juga bisa mengalami perkembangan.

Di masa penjajahan Belanda, istilah ‘radikal’ bermakna positif. Dalam disertasinya di Utrecht, Belanda, Adnan Buyung Nasution mencatat, pada tahun 1918, di Indonesia dibentuk apa yang disebut sebagai “Radicale Concentratie”, yang terdiri atas Budi Utomo, Sarekat Islam, Insulinde, dan Indische Sociaal Democratische Vereniging. Tujuannya untuk membentuk parlemen yang terdiri atas wakil-wakil yang dipilih dari kalangan rakyat.

Saat ini, tentu saja, wacana radikalisme sudah sangat berbeda dengan dulu. Apalagi jika ditambahi dengan kata ‘Islam’, menjadi ‘radikal Islam’ atau ‘Islam radikal’. Siapa yang mendapat cap itu, maka sudah mendapatkan stigma kejahatan. Tahun 2004, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta sudah menerbitkan hasil penelitiannya dalam bentuk sebuah buku berjudul “Gerakan Salafi Radikal di Indonesia”

Itu semua berarti bahwa program Kampung Bersinar Terang jelas harus ditolak karena merupakan upaya menspionase, membendung dan menghalangi dakwah dan kebangkitan Islam. Menghalangi dakwah Islam berati memusuhi islam, memusuhi islam berarti melawan Allah subhanahu wata'ala. 

Agar tidak mudah mengekor dan termakan isu negative mengenai radikalisme, ada baiknya kita merenungi Firman Allah dibawah ini :  


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (TQS Al-Baqarah : 208)


وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. (TQS Ar-rum : 41)

Pada akhirnya program Kampung Bersinar Terang hanya menjadi blunder bagi para penghalang kebangkitan Islam. Upaya menunda kabangkitan islam yang dilakukan akan sia-sia karena Allah lah sang pemilik alam semesta.

Wallahu a'lam bish-shawab. [MO/ra]

Posting Komentar