Oleh : Merli Ummu Khila

Mediaoposisi.com-Tidur diantara celah bebatuan sebuah goa di tepi laut, tubuh ringkihnya meringkuk kedinginan tanpa selimut. Hanya beralaskan pecahan perahu dia melewatkan malamnya. Saat air pasang, air akan mengenai tempat tidurnya. Hidup tanpa tempat tinggal ini, ia jalani bertahun-tahun lamanya.

Kisah menyedihkan ini dialami
seorang laki-laki tua La Udu (50), warga Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Kehidupan yang menyesakkan siapa saja yang menyaksikan. Makan hanya umbi-umbian dan ikan hasil tangkapan di laut. Hidup sebatangkara jauh dari sanak keluarga.(kompas.com, 03/02/2020)

Potret kemiskinan ini hanya satu diantara jutaan rakyat lainnya yang bernasib tidak jauh berbeda. Terpaksa menjalani kehidupan di bawah kolong jembatan, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai fasilitas umum. Kehidupan yang jauh dari kata layak.

Rezim berganti rezim, tak jua mengubah keadaan. Alih-alih membaik, harga kebutuhan dasar justru membumbung tinggi. Harga sembako tak terkendali, biaya kesehatan justru dikomersilkan. Demikian pula biaya pendidikan, untuk mendapat pendidikan terbaik sulit dijangkau oleh keluarga miskin.

Seolah berharap hujan ditengah kemarau panjang. Bayang-bayang sejahtera hanya hadir dalam mimpi belaka. Rakyat terseok-seok mencari penghidupan demi terpenuhi kebutuhan dasar. Sungguh miris, ibarat ayam mati di lumbung padi. Rakyat miskin di atas negeri yang kaya raya.

Negeri yang  gemah ripah loh jinawi. Mempunyai kekayaan alam yang melimpah, tanah yang subur, dan dikelilingi lautan. Menjadi negara yang mempunyai cadangan air terbesar di dunia tidak membuat negeri bebas dari kekeringan. Menjadi negara yang mempunyai tanah yang subur namun tidak mampu swasembada pangan.

Lalu apa gerangan penyebabnya?

Setiap kebijakan pemerintah bervisi misi melakukan perbaikan di semua aspek. Namun, sayangnya yang terjadi hanya tambal sulam. Membuat sebuah kebijakan berefek pada aspek lain. Pada akhirnya tidak menemukan solusi yang menyeluruh. Belum lagi kebijakan pemangku kekuasaan yang rentan kepentingan tertentu.

Demokrasi biang keladi

Kesejahteraan rakyat sangat bergantung pada tata kelola negara. Jika sekarang negara belum bisa mengentaskan kemiskinan berarti ada yang salah dari tata kelolanya. Meletakkan kedaulatan di tangan rakyat memberi peluang bagi rakyat yang terpilih untuk menjadi legislator. Disini awal bermula semua bencana.

Sayangnya kritik dari sebagian oposisi hanya sampai pada implementasi dari sistem. Tidak sampai pada akar permasalahan. Sehingga solusi yang ditawarkan pun hanya berkutat pada kritik terhadap pemangku kekuasaan bukan sistem. Maka, yang terjadi ibarat terjebak dalam labirin tanpa petunjuk jalan keluar.

Memperbaiki perekonomian tentu membutuhkan sistem yang terintegrasi. Mengentaskan kemiskinan tidak cukup hanya dengan subsidi. Tetapi harus menyediakan lapangan kerja sebagai sumber pedapatan serta memastikan harga kebutuhan dasar yang terjangkau.

Solusi ini tentu saja tidak bisa diterapkan di sistem saat ini. Karena demokrasi terbukti hanya melahirkan pejabat korup. Serta, menyalahgunakan jabatannya demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Demokrasi memang sudah cacat dari lahir.

Islam Syamil Wa Kamilan

Islam agama yang menyeluruh dan sempurna. Tidak hanya mengatur tentang ibadah. Akan tetapi, mengatur semua aspek kehidupan. Dari kehidupan pribadi hingga kehidupan bernegara. Aturan dalam Islam sempurna mengatur karena bersumber dari Sang Pencipta Allah Swt.. Sistem yang terintegrasi dari semua aspek kehidupan. Perekonomian yang dibentuk atas asas syariah yang terbukti pernah menyejahterakan manusia sepertiga bumi.

Waallahu a'lam bishshawaab


Posting Komentar