Fatimmah Azzahro1453
(muslimah trenggalek)
Mediaoposisi.com-  Senang rasanya saat ini sudah menginjak tanggal 1 ferbuari, itu tandanya ada peringatan hijabday, namun seketika rasa senang berubah menjadi rasa kecewa bahkan marah saat mendengar tanggal 1 ferbuari di Indonesia di sayembarakan oleh seorang muslim menjadi tanggal “no hijab day” hari tak berhijab.
Penggagas hijab day dan penggagas no hijab day sama-sama muslim namun yang dibawa sangat bertolak belakang. Seorang wanita berdarah new York, nazma khan. Idenya sangat sederhana, mengajak muslim dan non muslim memakai hijab untuk solidaritas kepada kaum muslim yang memakai hijab. Di New York, amerika dan Negara barat lainnya kaum muslimah yang memakai hijab mendapat diskriminasi, dari cacian, olok-olokan hingga perbuatan lainnya.
Berawal dari masalah itu,Nazma khan mengenalkan kampanye hijab day kepada kaum non muslim untuk meminta solidaritas tanpa memaksa, dan mereka sangat menyambut baik.ia mendapat dukungan dari berbagai Negara dalam aksi tersebut, termasuk Inggris, India, Pakistan, Jerman dan Prancis. Cara yang di gunakan oleh Nazma Khan dalam menyebarluaskan ide kontroversionalnya dengan menggunakan sosmed yang di terjemahkan dalam 22 bahasa (Republika.com).
Sedangkan muslim yang menggagas no hijab day, dia berasal dari Negara pertiwi,yaitu Indonesia. Yasmine Mohammad sebagai penggagas no hijab day menyampaikan beberapa alasan kampanye ide liberal ini, setidaknya ada 4 point. Beberapa point yang sangat tidak wajar di sebutkan bahwa tidak semua ulama, tarekat dan sarjana keislaman mendakwahkan dan sepakat dengan hijabisasi maupun niqopisasi,selain itu juga ia menyebutkan bahwa batasan aurat berbeda-beda.
kampanye ini di lakukan secara besar-besaran lewat sosmed dan lainnya, yang didalamnya juga ada hadiah yang akan di berikan kepada pemenang dengan kategori berbeda-beda yang jelas syarat utamanya dia berfoto tidak menggunakan kerudung, menyertakan quotes dan member hashtage #nohijabday dan#freefromhijab sebagaimana isi utama kampanye “nohijab day”.
Ide liberal
Batasan aurat yang berbeda dan tidak semua ulama mendakwahkan tentang hijab dan niqob menjadi focus utama alasan “no jibab day” di kampanyekan, seolah-oleh alasan ini tepat namun sangat sesat menyesatkan. Teringat oleh ku amanat dari ayah, dulu sejak kecil di minta untuk memakai kerudung, ia menjelaskan kerudung adalah wajib hukumnya bagi seorang muslimah yang tertaklif hukum, bahkan belum pernah kudengar bahwa kerudung itu tidak wajib namun ide liberal ini mengoyak pemahamanku dan pemahaman kaum muslimah lainnya. 
Perang Pemikiran
Perang pemikiran dan pemahaman terus bergejolak, termasuk dalam memandang kerudung atau khimar merupakan kewajiban atau pengekangan. Hijab atau khimar merupakan fenomena yang tak akan bisa diganggu gugat,terlebih ketika seorang muslimah memahami hijab atau khimar merupakan kewajiban bagi dirinya dan kemuliaan untuk siapa saja yang menggunakan dengan syar’i. Dan sudah barang tentu ketika menjalankan sebuah kewajiban terdapat kubu pro dan kontra dalam menyikapi hal ini, satu kubu menganggap hijab adalah kekangan bereksprisi bagi seorang wanita dan kubu yang lain menganggap hijab adalah kewajiban sekaligus kemuliaan yang di sandang oleh muslimah, hijab atau khimar ia jadikan pembeda mana muslimah mana non muslim.
Budaya ini terus mengcounter perkembangan zaman yang telah banyak berubah-perubahan paling mendasar ialah seorang muslimah memakai hijab kecil namun lama-kelamaan budaya ini terus berkembang hingga munculah komunitas-komunitas penggagas hijrah. Komunitas ini sama-sama ingin merangkul muslim-muslimah tetap taat kepada sang Kholiq tanpa menciderai dirinya. fitrah ini terus melaju begitu kencang hingga perkembangan islam dan hijrah kian bertambah, sebut saja Amerika (USA) sebagai Negara adidaya penggagas anti islam mengalami peningkatan mualaf sebesar 100 ribu Orang per tahun (VOAIndonesia.com) walaupun disana banyak tantangan.
Islam menjaga dan melindung
Dalam islam, ada pembeda muslimah dan non muslimah, yaitu terletak pada khimar atau hijab. Allah Subhanahu Wata’ala telah mengatur sedemikian kaum hawa melalui beberapa firman-Nya, di dalamnya ada tujuan dan manfaat yang besar bagi seorang muslimah itu sendiri yaitu menjaga dan melindungi wanita muslimah dari penistaan di era kapitalis liberal saat ini.
dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka” (QS. An Nur: 31)
Tak hanya kerudung yang di wajibkan didalam islam namun juga jilbab, islam sangat menjaga marwah seorang wanita muslimah, hingga urusan wanita muslimah diperhatikan begitu rinci.
Ayat lain menyebutkan:
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak perempuanmu, dan istri-istri Mu’min: “Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnyake tubuh mereka”,yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali, karena itu mereka tidak diganggu.Dan Allah adalah Maha pengampun lagi maha penyayang” (QS.Al-Ahzab:59)
Dari 2 ayat ini Allah ingin menyampaikan pesan bahwa ada tujuan yang sangat mulia dari wajibnya  berkrudung (khimar) dan berjilbab bagi seorang muslimah, terebih di zaman kapitalis liberal saat ini. Seorang wanita yang berkrudung dan berjilbab akan terhindar dari pandangan yang tidak seharusnya, dengan pakaian syar’inya ia akan menjaga diri dari pergaulan yang tak seharusnya, dengan jilbab dan kerudung ia akan terhindar fitnah yang tidak pernah ia lakukan.
Banyaknya kemuliaan seorang wanita menutup aurat dengan kerudung dan jilbabnya tanpa mengurangi sedikitpun hak nya,maka sangat buruk sekali jika ada komunitas berlebel hijrah namun mengajak dalam kemaksiatan, mengajak para wanita berfoto tanpa kerudung dan di upload disosmed dengan hashtag hashtage #nohijabday dan #freefromhijab
Naudubillah.., Semoga kita semua adalah orang-orang yang beruntung karena termasuk dalam umat yang senantiasa memperjuangkan islam dan tetap istiqomah menjalankan kewajiban termasuk dalam mempertahankan menggunakan pakaian syar’I ditengah tantangan liberalisme kapitalisme saat ini. Aamiin Ya Robbal Alamin. [MO/ra]

Posting Komentar