Oleh : Mela Ummu Nazry.
(Pemerhati Generasi)
Mediaoposisi.com- PAN-RB Tjahjo Kumolo menceritakan anggaran pemerintah pusat terbebani dengan kehadiran tenaga honorer. Pasalnya, setiap kegiatan rekrutmen tenaga honorer tidak diimbangi dengan perencanaan penganggaran yang baik.
Terutama, dikatakan Tjahjo di pemerintah daerah (pemda). Dia bilang kehadiran tenaga honorer lebih banyak di pemda dan biasanya tidak direncanakan dengan penganggaran yang baik, sehingga banyak kepala daerah yang meminta anggaran gaji tenaga honorer dipenuhi oleh pusat. (Jakarta, Detik.com, 2020).
Keberadaan tenaga honorer di beberapa instansi milik pemerintah menunjukkan tingginya angka pencari kerja dibanding lapangan kerja atau tingginya angka pengangguran dibanding lapangan kerja yang tersedia.  Sebab faktanya status sebagai honorer akan diambil oleh seseorang manakala tidak ada pekerjaan yang "lebih baik" dan "lebih aman", ditambah lagi harapan untuk diangkat sebagai pegawai tetap pemerintahan dinilai oleh sebagian kalangan lebih "mudah" diperoleh melalui jalan honorer.
Selain itu, banyaknya tenaga kerja honorer diinstansi-instansi perintahan menunjukkan sebab sempitnya lapangan kerja, sehingga membuat banyak individu terpaksa masuk dalam kategori tenaga honorer, bekerja tanpa surat keputusan (SK) resmi dari badan yang mengeluarkan legalitas seseorang dianggap sebagai pegawai.
Alhasil, tenaga honorer mendapatkan upah alakadarnya sesuai keadaan dan kemampuan pihak pengupah. Upah yang kadang sangat tidak mencukupi kebutuhan hidup diri sang honorer apalagi keluarga yang ditanggungnya. Inilah realitas tenaga hononer dalam sistem sekuler kapitalis. Tragis, Ada namun dianggap tiada. Dibutuhkan namun dianggap sebagai beban yang membebani sehingga layak dibuang atau dihapuskan.
Adalah hal yang wajar saja, jika tenaga honorer dalam sistem sekuler kapitalis dianggap membebani, sebab asas penilaian sistem kapitalis adalah berdasarkan pada kaidah untung-rugi, sebab rujukan aturan diambil dari hawa nafsu manusia bukan tuntunan wahyu. 
Karenanya, berharap honorer diperlakukan manusiawi oleh sistem sekuler kapitalis, bagaikan pepatah jauh panggang dari api. Tidak akan pernah terealisasi. Inilah realitas nasib honorer dalam alam sekuler kapitalis yang tidak manusiawi. Tragis, bekerja atas belas kasihan dengan upah yang jauh dari kata layak.
Berbeda dalam sistem Islam. Setiap pekerja akan dibayar atau diupah berdasarkan akad kesepakatan antara pihak pekerja dan yang mempekerjakan. Pekerja akan bekerja sesuai dengan keahliannya. Atau pekerja akan bekerja karena memang dibutuhkan oleh pihak penerima kerja. Tidak ada istilah bekerja karena belas kasihan orang lain.
Setiap kehormatan diri setiap manusia akan terjaga dengan sebenar-benarnya penjagaan dalam sistem Islam, sehingga tidak membuat seseorang bekerja diluar batas kemampuan dan keridloannya. Tidak ada istilah terpaksa bekerja atau menjadi pegawai atas dasar belas kasihan.
Sebab sistem Islam menjamin kehormatan diri setiap individu warganya, dengan cara mewajibkan para pemimpin umat untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya tanpa kecuali dengan pemenuhan yang sangat sempurna. Ada mekanisme tertentu yang sangat manusiawi dalam upaya pemenuhannya, semua terangkum hebat dalam sistem ekonomi Islam.
Artinya jika ada jaminan penjagaan kehormatan diri dengan cara terpenuhinya seluruh kebutuhan  hidup masyarakat oleh negara, maka individu masyarakat tidak akan sampai pada menzalimi dirinya dengan menghinakan diri hanya untuk mendapatkan status sebagai pekerja, hingga tak mampu membela diri saat diri  dianggap sebagai beban yang membebani. 
Sistem Islam akan menciptakan  individu-individu yang bekerja untuk memenuhi kewajiban bekerja dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Bekerja dilakukan dengan sebuah bentuk kesadaran untuk menggugurkan kewajiban yang ada pundaknya. Sebab itu setiap individu masyarakat akan bekerja dengan kesungguhannya sesuai kemampuan dan keridloannya.
Sistem Islam sangat menghargai setiap pekerjaan selama pekerjaan itu halal dan sesuai hukum syariat. Sistem Islam akan memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap siapapun yang bekerja dengan kesungguhan hati.
Dikisahkan pada masanya, Khalifah Utsman bin Affan ra, pernah memberikan gaji kepada seorang budak yang bernama Wahib milik Zaid bin Tsabit ra sebesar seribu dinar, yang bekerja membantu Zaid bin Tsabit ra saat menjabat sebagai kapala urusan Baitul Mal di Kuffah.
Sebegitu berharganya seorang pekerja dalam pandangan Islam, hingga seorang budak pun atas ijin tuannya diperbolehkan untuk mendapatkan imbalan yang sangat tinggi dari seorang Khalifah atau pemimpin negara atas pekerjaannya membantu tuannya,  dengan penghargaan berupa gaji yang besarnya sangat manusiawi.
Jika seorang budak saja, yang bekerja sesuai kemampuannya mendapatkan upah yang sangat tinggi dari seorang Khalifah dalam sistem Islam, apalagi manusia merdeka yang bekerja sesuai keahlian dan kecakapannya, tengulang apaan mendapat imbalan gaji yang jauh lebih besar dan lebih layak lagi.
Karena itu berharap mendapatkan minimal penghargaan yang layak atas pekerjaan yang dilakukan oleh seorang honorer dalam sistem sekuler kapitalis, bagaikan pungguk merindukan bulan, hanya angan-angan belaka, tak akan pernah menjadi kenyataan. 
Untuk itu saatnya manusia kembali kepada sistem Islam yang akan mengatur kehidupan dengan dengan aturan yang sangat manusiawi, memuaskan akal dan menentramkan jiwa, sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan yang banyak lagi luas hingga membuat semua laki-laki yang telah wajib bekerja mampu menggugurkan kewajiban bekerjanya dengan tetap dapat memelihara kehormatan diri.
Wallahuallam. [MO/ra]

Posting Komentar