Oleh : Merli Ummu Khila
(Kontributor Media, Pegiat Dakwah)

Mediaoposisi.com- Lisan seorang intelektual muslim akan lebih berbahaya dari sebuah rudal pemusnah. Jika mengucapkan kalimat yang disadari atau tidak, bisa menyesatkan umat. Karena figuritas, pernyataannya dengan mudah dianggap sebuah kebenaran bagi masyarakat. Terlebih bagi masyarakat yang awam dan tidak memahami Islam secara kaffah.

Seperti dilansir oleh republika.co.id, 26/01/2020, Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD menjelaskan agama melarang untuk mendirikan negara seperti yang didirikan nabi. Sebab, negara yang didirikan nabi merupakan teokrasi dimana Nabi memiliki tiga kekuasaan sekaligus yaitu legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

"Ada masalah hukum minta ke nabi, nabi buat hukumnya. Yang menjalankan pemerintahan sehari-hari nabi. Kalau ada orang berperkara datang ke nabi juga. Sekarang tak bisa, haram kalau ada," kata Mahfud.

Sebuah pernyataan yang berbahaya karena bisa mencederai akidah seorang muslim. Mengatakan bahwa Rasulullah Saw. mengadopsi trias politica adalah pernyataan tanpa dasar. Karena Rasulullah Saw. bukan sebagai pembuat hukum atau legislator. Semua hukum yang diadopsi oleh Rasulullah Saw. dan para khilafah setelahnya merupakan aturan Allah Swt. yang diturunkan melalui Al-Qur'an.

Dan sistem pemerintahan khilafah bukan sistem teokrasi seperti yang dimaksud Mahfud MD, karena Rasulullah Saw. adalah manusia biasa bukan titisan. Sedangkan sistem teokrasi, kepala negara menjadi sosok yang dikultuskan. Sehingga kepala negara dijadikan sosok suci seperti sistem yang diadopsi oleh Vatikan.

Apalagi jika yang dimaksud adalah haram menegakkan khilafah, tentu saja pernyataan tersebut sebuah kekeliruan. Seluruh ulama Aswaja, khususnya imam empat mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali), sepakat, bahwa adanya khilafah, dan menegakkannya ketika tidak ada, hukumnya wajib.

Allah Swt. berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi khalifah…” [TQS al-Baqarah [2]: 30]. (TQS. al-Baqarah [2]: 30)

Imam al-Qurthubi [w. 671 H], ahli tafsir yang sangat otoritatif, menjelaskan, “Ayat ini merupakan hukum asal tentang wajibnya mengangkat khalifah.” Bahkan, dia kemudian menegaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat khalifah) ini di kalangan umat dan para imam manhaj....” lihat, al-Qurthubi, al-Jâmi' li Ahkâm Al-Qur'an Juz I/264.

Potensi bahaya di balik retorika mereka mengancam akidah umat karena dipoles seolah suatu kebenaran. Hal ini yang dikhawatirkan Rasullullah dalam sabdanya:

"Sesungguhnya yang paling dikhawatirkan dari perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah setiap orang munafik yang pandai bersilat lidah." (HR Ahmad dan al-Bazzar)

Khilafah adalah ajaran Islam sama halnya dengan shalat, puasa dan zakat. Seharusnya umat Islam mengenal dan memahaminya seperti memahami kewajiban yang lain. Jika ada yang justru ingin menghilangkan atau menghalangi umat untuk menegakkannya. Maka, hal ini harus diluruskan agar tidak terjadi kekacauan akidah. Karena ini menyangkut perkara keimanan.

Sebagai seorang muslim wajib mengimani dan mengamalkan semua perintah dalam Al-Qur'an. Di antara perintah tersebut ada beberapa aspek yang tidak bisa diterapkan tanpa adanya daulah atau negara misalnya: perekonomian yang bebas riba atau menerapkan hukum qishash dan cambuk.

Kaum Imperialis dan pengikutnya secara ideologi ingin menjauhkan umat Islam dari ajaran yang kaffah. Karena ketika seorang muslim menyadari bahwa Islam bukan sekedar agama tapi sebuah ideologi maka, akan mengancam eksistensi mereka. Karena misi Barat ingin menyebarkan ideologi kufur dengan menjajah negeri-negeri muslim melalui 3F (Food, Fun and Fashion).

Umat harus dijaga dari lisan yang menyesatkan. Tugas pengemban dakwah menyadarkan umat akan bahayanya penyesatan ajaran Islam. Sistem khilafah tidak boleh disembunyikan dari umat untuk diketahui. Apalagi sampai menghapusnya dari kurikulum pendidikan.

Ancaman bagi mereka yang menyembunyikan ajaran Islam adalah neraka seperti dalam sabda Nabi Muhammad Saw.

"Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu Islam), kemudian dia menyembunyikannya maka, Allah akan menyumbat mulutnya dengan api neraka pada hari kiamat." (HR[.] Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah dari Abu Hurairah)

 Wallahu a'lam bishshawab [MO/s]

Posting Komentar