Oleh: Imdi Lestari

Mediaoposisi.com-Dunia yang kini sudah memasuki era Revolusi Industri 4.0 atau sering disebut R.1 4.0, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan tuntutan akan kebutuhan tenaga kerja yang andal semakin besar. 

Tentu saja ini menjadi tantangan bagi setiap negara agar tidak ketinggalan, begitupula dengan Indonesia Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim baru saja mengeluarkan kebijakan baru, dengan harapan sebuah perubahan, seperti dilansir oleh TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meluncurkan empat program kebijakan untuk perguruan tinggi. 

Program yang bertajuk "Kampus Merdeka" ini merupakan kelanjutan dari konsep "Merdeka Belajar" yang diluncurkan sebelumnya.

Empat program tersebut bersangkutan dengan pertama perguruan tinggi (PT) bebas membuka program studi (prodi) apapun sesuai kebutuhan pasar, bermacam-macam lembaga seperti multinasional , starup bahkan BUMN bisa join kurikulum join kestrukturan, kedua perubahan sistem akreditasi kampus, ketiga perguruan tinggi negeri (PTN) bisa dengan mudah merubah status menjadi badan hukum PT-BH.

Dengan kampus yang sudah memiliki badan hukum kampus bisa melakukan pengaturan sendiri sehingga bisa melakukan kerjasama langsung dengan para kapital/industri ini membuktikan bahwa pemerintah lepas tangan sebagai penyelenggara jaminan pendidikan , dan yang keempat mahasiswa dibolehkan mengambil 3 mata kuliah di luar prodi diperuntukan untuk magang, penelitian yang bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja kepada mahasiswa.


Nampak hebat bukan, sistem kapitalisme semakin menampakan wajahnya, pendidikan yang seharusnya mencetak generasi ahli nyatanya dalam sistem kapitalis dicetak menjadi budak-budak industri, mesin pencetak pundi-pundi materi, Industri berlomba-lomba untuk melakukan join dengan kampus dan mahasiswa berlomba-lomba menjadi SDM yang unggul tetapi dengan tujuan supaya terserap pasar industri. Standar kebahagiaannya hanya materi, materi dan materi inilah buah dari sistem kapitalisme.

Mengerikan jika tujuan pelajar semuanya diarahkan hanya untuk mengisis kekosongan-kekosongan industri. Orientasi pembangunan Pendidikan tinggi bukan lagi untuk menghasilkan intelektual yang menjadi tulang punggung perubahan menuju kemajuan, menyelesaikan permasalah masyarakat dengan ilmu dan inovasinya bagi kepentingan publik.  namun PT hanya menjadi mesin pencetak tenaga terampil bagi  kepentingan industri/kapitalis.

Slogan Tri Dharma PT untuk melakukan pengabdian kepada masyarakatpun telah berganti wajah menjadi pengabdian kepada para kapitalis dan industri.

Kondisi ini jauh berbanding terbalik dengan sistem pendidikan dalam Islam, Islam sangat memprioritaskan pendidikan. Pendidikan merupakan visi negara, modal awal untuk pembangunan sebuah peradaban, upaya sadar, terstruktur, sistematis untuk membentuk manusia yang :

berkepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu-ilmu terapan, teknologi, sains dan iptek dan memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna. Kurikulum sesuai aqidah Islam sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang bukan hanya handal ilmu dunia nya saja tetapi juga fakih dalam agama.

Sistem pendidikan Islam memiliki tujuan yang jelas, mencakup pengaturan kurikulum sehingga mencetak generasi pemimpin bukan budak, tidak terpengaruh dan dipengaruhi oleh kepentingan kapital/industri, sudah seharusnya menjadi satu-satunya pilihan untuk menuju sebuah perubahan. 

Islam mampu menjawab persoalan kualitas generasi, bahkan mendorong terwujudnya peradaban yang mulia dan agung. Harus diingat bahwa puncak pencapaian penguasaan sains dan teknologi pada zaman kejayaan umat Islam di masa lalu memang tidak bisa dilepaskan dari tegaknya sistem kekhilafahan, di mana adanya sistem komando yang terintegrasi secara global yang peranannya secara politik sejalan dengan peranan agama. 

Maka dari itu, untuk memecahkan kebuntuan dan kebekuan problem pendidikan negeri ini semestinya mengambil Islam sebagai solusi fundamental. Penerapan sistem pendidikan berbasis Islam hanya bisa terwujud dalam negara Khilafah Islam. Bukan negara kapitalis sekuler. Hanya Khilafah yang mampu menjawab tantangan pendidikan di masa depan.[MO/ia]



Posting Komentar