Oleh : Warsiti Iffah

Mediaoposisi.com-  Baru - baru ini ummat Islam diresahkan dengan pernyataan ibu Sinta Nuriyah, istri Gus Dur, bahwa jilbab tidak wajib bagi muslimah. Pernyataan tersebut memancing berbagai tanggapan. Media-media liberal serentak mengangkat pernyataan tersebut, dan menjadikan legitimasi atas dalih-dalih yang mereka gunakan. Mereka seolah-olah menemukan amunisi untuk menggugurkan dalil-dalil wajibnya berjilbab.
Padahal perihal cara berpakaian bagi seorang muslimah telah dijelaskan dengan detail dalam syari’at agama Islam. 
Pakai Jilbab Hukumnya  Wajib Bagi Wanita Muslimah!
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya sambil berkata :
يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا
Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).[HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah didatangi oleh seseorang yang menanyakan perihal aurat yang harus ditutup dan yang boleh ditampakkan, maka beliau pun menjawab :
احْفَظْ عَوْرَتَكَ إلَّا مِنْ زَوْجِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ.
 Jagalah auratmu kecuali terhadap (penglihatan) istrimu atau budak yang kamu miliki.[HR. Abu Dâwud, no.4017; Tirmidzi, no. 2794; Nasa’i dalam kitabnya Sunan al-Kubrâ, no. 8923; Ibnu Mâjah, no. 1920. Hadist ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani
Demikianlah beberapa petunjuk Rasulullah terkait aurat dan tata cara berpakaian bagi seorang Muslim maupun Muslimah.
Bagi seorang yang mengaku sebagai Muslim, tentunya petunjuk dari Rasulullah tersebut wajib dipatuhi dan dilaksanakan meskipun mungkin bagi sebagian Muslimah saat ini hal tersebut masih dirasakan sebagai beban berat. Namun kalaulah belum mampu melaksanakan syariat Allah, setidaknya jangan mengajak orang lain untuk menentang syariat-Nya dengan mengatakan bahwa jilbab tidak wajib bagi muslimah. 
Upaya de-Islamisasi dan Upaya Mengaburkan Makna Jilbab
Berhijab syar'i bagi seorang Muslimah bukanlah sekedar mengikuti trend, namun ini adalah bentuk pelaksanaan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah.
Namun tidak ada hentinya mereka yang alergi dengan trend Islamisasi berulah. Mereka ingin  mengajak orang lain agar seperti mereka (kaum anti-Islamisasi / liberal). Mereka terus-terusan melakukan de-Islamisasi yang mereka bungkus dengan kata de-radikalisasi.
Cara yang paling umum mereka lakukan adalah dengan membenturkan Islam dengan budaya lalu Islam dengan negara. Mereka terus mencari berbagai cara bagaimana agar trend Islamisasi di Indonesia itu berhenti.
Mereka selalu mengangkat narasi, bahwa ketaatan adalah bagian dari arabisasi, radikalisasi, intoleransi, narrow minded, kadal gurun, dan kata-kata menghakimi lainnya.
Mereka yang anti-Islamisasi / liberal, bisa jadi justru orang Muslim itu sendiri, lalu mengembangkan pernyataan sesat seperti: tafsir kontekstual, tafsir modern, atau perbedaan pendapat ulama. Padahal ulama tak pernah berbeda pendapat tentang wajibnya jilbab. Jikapun mungkin berbeda pandangan, itu hanya tentang seperti apa bentuk hijab dan seperti apa batasan detailnya.
Sementara itu, pihak Islam moderat, seperti biasa mengambil jalan tengah.  Mereka mengatakan yang diwajibkan adalah menutup aurat. Abdul Muqsith Gazali, waket Lembaga Bahtsul Masail PBNU, mengatakan bahwa batasan aurat dan cara perempuan menutupnya berbeda-beda. Jilbab merupakan salah satu cara perempuan tersebut menutup aurat (https://www.republika.co.id/berita/q4ihfv366/pbnu-batas-perempuan-menutup-aurat-berbedabeda).
Pemahaman-pemahaman yang diharuskan baik oleh Islam liberal maupun Islam moderat tadi tidak  berangkat dari dalil dan pemahaman dalil yang benar. Pemahaman tersebut lahir dari frame pemikiran liberal yang membolehkan menafsirkan dalil dengan semata-mata pendapat akal, dan frame pemikiran moderat yang berusaha mengkompromikan dalil untuk mencari jalan tengah bagi perbedaan pendapat.
Pemikiran moderat ini hakikatnya tidak jauh berbeda dari pemikiran liberal, karena ia “memperkosa” dalil agar bisa dikompromikan. Karena itulah pemahaman jilbab ini perlu diluruskan, bukan sekadar membahas wajib atau tidak wajibnya saja, melainkan juga pola pikir yang menyertainya serta bagaimana agar hukum ini bisa diterapkan.
Ketaatan Hamba Kepada Aturan Penciptanya
Bukti ketaatan kita sebagai seorang Muslim tidaklah cukup dengan hanya mempelajari ilmunya saja. Namun harus juga disertai dengan menyandarkan semua perbuatannya dengan niat semata –mata karena Allah ta,ala. Karena hakikat hidupnya adalah ibadah. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”(Adz-Dzaariyat : 56).
Ibnu Katsir menyatakan: “makna beribadah kepada-Nya adalah menaati-Nya dengan cara melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.” Maka saat Allah sudah menetapkan suatu aturan, seorang muslim wajib untuk mentaatinya, sami’na wa atha’na.  Mereka tidak berhak untuk memperdebatkannya, kemudian mencari–cari alternatif yang mereka anggap lebih baik dari pendapat manusia, sekalipun dari suami sendiri yang ia pandang alim. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(QS. Al Maidah:50).
Ayat ini menegaskan bahwa Allahlah yang berhak membuat hukum, bukanlah manusia. Dialah Allah yang sebaik-baik pembuat hukum, karena Allah yang menciptakan manusia berikut seluruh potensi hidup, akal dan kecenderungannya.
Menutup aurat merupakan bagian ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu, untuk kesempurnaan ibadah ini, muslimah harus mencari tahu seperti apakah menutup aurat yang diperintahkan oleh Allah sehingga terhindar dari kesalahan.
Batas Aurat Perempuan
Menurut pengertian bahasa (literal), aurat adalah al-nuqshaan wa al-syai’ al-mustaqabbih (kekurangan dan sesuatu yang mendatangkan celaan). Diantara bentuk pecahan katanya adalah ‘awara`, yang bermakna qabiih (tercela); yakni aurat manusia dan semua yang bisa menyebabkan rasa malu.
Disebut aurat, karena tercela bila terlihat (ditampakkan). Imam Syarbiniy dalam kitab Mughniy al-Muhtaaj, berkata,” Secara literal, aurat bermakna al-nuqshaan (kekurangan) wa al-syai`u al-mustaqbihu (sesuatu yang menyebabkan celaan). Disebut seperti itu, karena ia akan menyebabkan celaan jika terlihat.“
Karena ukurannya adalah yang membuat rasa malu dan tercela, KH Husein Muhammad, yang identik dengan kyai gender, menafsirkan makna aurat ini sebagai terminologi sosial budaya, bukan agama yang sifatnya relatif, berbeda dari satu tempat dengan tempat lain (Fiqh Perempuan ; Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender, 2001, hal 85).
Padahal, dalam pembahasan hukum syara’, yang menjadi standar tercela dan terpuji itu seharusnya adalah apa yang Allah mencela atau memujinya. Bila standar ini diserahkan pada manusia, memang akan menghasilkan relatifitas hukum. Oleh karena itu, ukuran aurat mesti dikembalikan pada dalil-dalil yang mu’tabar bukan pendapat manusia.
Pembahasan aurat wanita dibagi menjadi tiga keadaan, yaitu:
  1. Di hadapan suami mereka, maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadis riwayat Bahz bin Hakim).
  2. Di hadapan mahramnya, yaitu  orang-orang yang disebut dalam QS. An-Nûr [24]: 31. Berdasarkan ayat ini perempuan boleh menampakkan mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan, seperti: kepala seluruhnya, tempat kalung (leher), tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah). 
  3. Adapun di hadapan laki-laki selain suami dan mahramnya atau di ruang publik, maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. 
 Allah berfiman :
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا 
“….dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nûr [24]: 31).
Untuk bisa memahami maksud illa maa zhahara minha, kita harus menafsirkan sesuai kaidah tafsir, yaitu berdasar nash-nash yang dapat menjelaskan maksudnya, bukan dengan akal dan adat semata. Nash yang paling tepat untuk menerangkan maksud ayat ini adalah hadis-hadis yang memberikan keterangan yang berkaitan batas yang boleh ditampakkan perempuan. Contohnya seperti kutipan pada saat Rasulullah menegur Asma binti Abu Bakar Rodhiyallahu anhuma di bagian awal tulisan ini.
Ibnu Abbas menyatakan dalam tafsirnya, yang dimaksud dengan illa mâ zhahara minha adalah muka dan tangan. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan.” (Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, jld. 18, hal. 94).
Sekalipun ada perbedaan tentang maa zhahara minha, tetapi seluruh ulama sepakat bahwa perempuan wajib menutup auratnya. Mereka tidak berbeda pendapat bahwa rambut, leher, dada, semua adalah aurat yang wajib ditutup.
Maka jika ada pendapat bahwa masalah menutup aurat perempuan adalah masalah khilafiyah yang dikembalikan pada kebiasaan dan kebutuhan di masing-masing tempat, kemudian akhirnya membolehkan perempuan untuk menampakkan rambut, leher, paha dan lengan; jelas pendapat tersebut tertolak.
Pakaian Perempuan di Ruang Publik
Seorang perempuan apabila telah mengenakan pakaian yang menutup aurat, tidak berarti lantas dia dibolehkan mengenakan pakaian itu di ruang publik, yaitu dalam kehidupan umum, seperti di jalanan, sekolah, pasar, kampus, kantor, dan sebagainya.  Mengapa? Sebab untuk kehidupan umum terdapat pakaian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’.
Pakaian perempuan dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah yang disebut dengan jilbab, dan baju atas yaitu khimar (kerudung). Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam kehidupan umum.
Dua jenis pakaian ini seringkali disamakan. Banyak orang yang tidak memahami perbedaan antara keduanya, padahal untuk dapat dikatakan berpakaian sesuai dengan tuntunan syara’ kedua jenis pakaian ini harus dipakai.
Islam telah menetapkan kewajiban terhadap muslimah untuk mengenakan khimar/kerudung, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala:
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ 
“….dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimar) mereka hingga (menutupi) dada mereka…” (QS. An-Nuur : 31)
Lafadz “khumur” dalam ayat ini adalah bentuk jamak dari “khimar” yang bermakna kerudung, yaitu kain yang digunakan untuk menutupi kepala hingga “juyub”. Sedangkan yang dimaksud dengan “juyub” adalah bentuk jamak dari “jaybun”, yang berarti batas bukaan baju. Artinya, kerudung itu harus dikenakan hingga menutupi kepala, leher dan “juyub”, yaitu bukaan baju di dada.
Adapun bagian bawah maka perempuan diwajibkan mengenakan jilbab saat akan keluar rumah. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab : 59)
Kata “jalaabiibihinna” dalam ayat tersebut adalah bentuk jamak dari “jilbaabun”. Dalam tafsir Ibnu Abbas, “jilbaabun” adalah kain penutup, atau baju luar seperti mantel (Tafsir Ibnu Abbas, hal 426). Jilbab juga berarti “baju panjang (mulaa’ah) yang meliputi seluruh tubuh wanita” (Tafsir Jalalain hal 248). Sedangkan dalam Shofwatut Tafaasir, Imam ash-Shobuni, Jilbab diartikan sebagai baju yang luas (wasi’) yang menutupi tempat perhiasan wanita (auratnya).  
Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo :  Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).
Berdasarkan pendefinisian ini, jelaslah bahwa makna jilbab adalah pakaian luar yang luas yang wajib digunakan oleh muslimah diluar pakaian rumahnya (mihnah), yang berbentuk seperti mantel (milhaafah atau mulaa’ah).
Apabila seorang muslimah telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju kehidupan umum. Akan tetapi jika ia tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar dalam keadaan apapun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.
Kita perlu meneladani apa yang dilakukan para shahabiyah dulu ketika turun ayat-ayat jilbab dan khimar. Mereka bersegera menerima hukum ini dan bersegera pula mengamalkannya tanpa membantah atau mencari-cari dalih untuk menolaknya.
Dari Aisyah ra, ia berkata: “ Semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dadanya” (TQS An Nuur :31), maka kaum wanita itu merobek kain sarung mereka dan menutup kepala mereka dengannya.” (HR Bukhari).
Dari Shafiyah binti Syaibah ra bahwa Aisyah ra menuturkan wanita Anshar, kemudian beliau memuji mereka, dan berkata tentang mereka dengan baik.  Beliau berkata: ”Ketika diturunkan surat An Nuur: 31, maka mereka mengambil kain-kain tirai mereka kemudian merobeknya dan menjadikannya kerudung.” (HR Abu Daud)
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam sebagai kepala negara saat itu, telah menerapkan hukum jilbab bagi perempuan di ruang publik. Ini ditunjukkan oleh hadis yang datang dari Ummu ‘Athiyah ra, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk keluar pada Idul Fitri maupun Idul Adha, baik para gadis, wanita yang sedang haid, dan yang lainnya. Adapun wanita yang sedang haid, maka diperintahkan untuk meninggalkan shalat dan menyaksikan dakwah dan syiar kaum muslimin. Lalu aku bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana jika diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah kemudian menjawab : “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya” (HR. Muslim).
Rasulullah tidak memberikan keringanan bagi perempuan yang tidak mempunyai jilbab untuk keluar rumah tanpa jilbab. Beliau memerintahkan agar saudara muslimahnya meminjamkan jilbab.  
Dari apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, merupakan kewajiban dari negara untuk memastikan bahwa setiap muslimah mengenakan jilbab dan khimar untuk keluar rumah. Adapun gambaran kehidupan wanita dalam masyarakat Islam, saat Khilafah Islamiyah berdiri, tertuang dalam Pasal 117 Kitab Muqaddimah Dusturأَح
Demikianlah, negara Khilafah mewajibkan muslimah mengenakan pakaian yang telah Allah tetapkan, tidak membiarkan mereka untuk mengenakan apa yang mereka suka.  Inilah metode yang paling efektif untuk membuat hukum jilbab dapat diterapkan secara sempurna.
Berbeda dengan negara yang menganut paham sekuler-liberal, yang  membebaskan perempuan mengenakan apa yang disukainya, sekalipun mengumbar auratnya sehingga membangkitkan syahwat laki-laki.
Selama negara kita masih negara sekuler liberal, selama itu pulalah jilbab akan mendapat penentangan, dalil-dalilnya yang bersifat qath’iy akan diputarbalikkan dan ditafsirkan semaunya sambil mengatakan bahwa umat tidak tahu bagaimana penafsiran yang benar. Maraknya muslimah berjilbab, memang menakutkan bagi sekuleris dan liberalis, karena menjadi salah satu simbol kebangkitan Islam.
Pemahaman-pemahaman yang diaruskan baik oleh Islam liberal maupun Islam moderat ini tidak berangkat dari dalil dan pemahaman dalil yang benar. Pemahaman tersebut lahir dari frame pemikiran liberal yang membolehkan menafsirkan dalil dengan semata-mata pendapat akal, dan frame pemikiran moderat yang berusaha mengkompromikan dalil untuk mencari jalan tengah bagi perbedaan pendapat.
Pemikiran moderat ini hakikatnya tidak jauh berbeda dari pemikiran liberal, karena ia “memperkosa” dalil agar bisa dikompromikan. Karena itulah pemahaman jilbab ini perlu diluruskan, bukan sekadar membahas wajib atau tidak wajibnya saja, melainkan juga paradigma pikir yang menyertainya serta bagaimana agar hukum ini bisa diterapkan tanpa ada penolakan. [MO/ra]

Posting Komentar