Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Benarkah Indonesia negeri yang kaya raya? Faktanya demikian karena negeri ini punya potensi dan kekayaan alam yang luar biasa. Negeri yang bagaikan penggalan tanah surga memiliki keindahan alam yang begitu menajubkan sehingga banyak turis manca negara ingin berkunjung ke Indonesia. Belum lagi sumber daya alam yang terkandung di bumi dan lautan. Negeri ini benar-benar kaya, tapi kenapa banyak penduduk miskin di negeri ini?

Menurut Bank Dunia, 115 rakyat Indonesia terancam miskin. (https://www.cnbcindonesia.com). Sungguh aneh, banyak rakyat miskin tinggal di negeri yang kaya raya. Ada apa dengan negeri ini? Negeri kaya raya tapi banyak rakyat miskin tinggal disana. Pasti ada yang salah dengan semua yang terjadi di negeri ini.

Kesalahan pertama adalah Pengelolaan sumber daya alam yang potensial tidak untuk kesejahteraan seluruh rakyatnya. Tambang emas freeport dikeruk bukan untuk rakyat tapi lebih banyak menguntungkan perusahaan asing dan para konglomerat. Banyak perusahaan asing-aseng mengambil banyak keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam yang terkandung di lautan, hutan dan apa saja yang terhampar di permukaan bumi dan perut bumi Indonesia.  

Rakyat hanya boleh puas sebagai buruh kasar di negeri mereka sendiri. Harusnya rakyat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis dengan pengelolaan sumber daya alam yang benar bukan diserahkan kepada asing-aseng. Malah rakyat harus menanggung segala kerugian negara karena kesalahan dalam pengelolaan negeri yang harusnya kaya raya dan membuat rakyatnya hidup sejahtera . Penjaminan pelayanan kesehatan diserahkan pada perusahaam asuransi yang berbisnis dengan rakyatnya. Liberalisasi dunia pendidikan membuat biaya pendidikan membumbung tinggi sehingga tidak terjangkau oleh rakyat miskin. Mereka akan terus miskin karena tidak mempunyai kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Sungguh ironi, banyak penduduk miskin tinggal di negeri yang kaya raya dengan sumber daya alamnya.

Kesalahan kedua, Sekularisme dan kapitalisme mendorong banyak pejabat korupsi, menggarong uang rakyat dan seolah tidak bisa dihentikan. Mereka tidak merasa bersalah saat melakukan korupsi karena kesadaran hubungan dengan Tuhan mereka hanya sebatas ditempat ibadah. Sementara, kapitalisme telah membentuk orang-orang yang tamak akan harta dan kekuasaan. Cara harampun dilakukan untuk meraih hasrat untuk menjadi orang kaya dan berkuasa. Kecurangan dan korupsi menjadi biasa dan terus menginspirasi yang lain untuk berbuat hal yang sama. Rakyat yang dikorbankan dan banyak dirugikan. Mereka yang harusnya sejahtera, menderita dan miskin di negeri yang kaya raya karena uang mereka digarong oleh orang-orang yang terpapar virus jahat sekularisme. Mereka meninggalkan keyakinannya saat melakukan korupsi bahkan korupsi dianggap alternatif untuk mencari rezeki.

Kesalahan ketiga, biaya politik yang sangat tinggi dalam sistem demokrasi. Begitu besar dana dialokasikan untuk pesta demokrasi sedangkan pemimpin yang dihasilkan tidak seperti yang diharapkan. Beban semakin berat ditanggung oleh rakyat. Namun, setelah mereka terpilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin yang harusnya mengurusi rakyat, mereka tidak melakukan tugasnya dengan baik karena dalam pikirannya hanyalah bagaimana mempertahankan kekuasaannya. Belum lagi mereka harus berfikir untuk mengembalikan dana pribadi yang sudah dipergunakan untuk menarik simpati rakyat. Tidak sedikit yang didukung para pemilik modal sehingga setelah terpilih mereka bekerja bukan untuk rakyat tapi para konglomerat yang sudah membiayai ongkos politik mereka agar terpilih lagi menjadi pemimpin dalam sistem demokrasi.

Kesalahan ke empat, utang luar negeri yang berbasis riba harus segera diselesaikan, jika tidak negeri ini akan terus terbebani oleh bunga utang sehingga rakyat yang menjadi korban. Rakyat yang harusnya diurusi, bukan menanggung beban riba dari utang luar negeri yang tidak pernah terselesaikan. Negeri kaya raya tapi hidup tidak berkah karena dibangun diatas sistem ekonomi berbasis riba yang diharamkan oleh sang pemilik alam dan hidup. Praktik riba yang dilakukan oleh negara telah mengundang banjir dan bencana alam lainnya hampir di seluruh negeri. Bencana bertubi-tubi karena tidak diterapkannya syariat Allah sehingga banyak rakyat sengsara dan terancam hidup dibawah garis kemiskinan karena riba, dosa besar dihalalkan.  Hutang luar negeri yang menggunung juga dijadikan alat imperalisme barat untuk terus menancapkan hegemoninya di negeri yang kaya raya untuk mengeruk kekayaan alamnya tapi membiarkan rakyatnya menderita dibawah garis kemiskinan.

Saatnya kembali kepada Islam sebagi solusi fundamental sehingga kesejahteraan rakyat bisa terjamin. Kesejahteraann milik seluruh rakyat bukan hanya segelintir orang. Negeri yang berkeyakinan bahwa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, harusnya diwujudkan dan diperjuangkan oleh seluruh rakyat Indonesia, terutama bagi mereka yang duduk di pemerintahan dan yang punya kekuasaan.  Sumber daya alam milik umat harus dikembalikan pada pemiliknya dikelola oleh negara dan hasilnya diperuntukkan sebesar-besarnya untuk rakyat Indonesia. Kikis habis pemikiran sekularisme sehingga kesadaran hubungan dengan Allah akan terus terjaga di setiap tempat dan waktu dalam kehidupan. Tinggalkan ekonomi berbasis riba agar hidup menjadi berkah. Pintu rezeki terbuka baik dan bencana bisa dihentikan sehingga rakyat bisa hidup sejahtera. Campakkan demokrasi dan ganti dengan sistem Islam. Biaya politik akan jauh lebih murah dalam sistem Islam. Pemimpinnya amanah dan perduli dengan rakyatnya karena tujuan politiknya adalah untuk mengurusi umat. Sangat jauh berbeda dengan sistem demokrasi saat ini dimana tujuan berpolitik adalah untuk memperoleh kekuasaan dan mempertahankannya meskipun dengan cara curang. Hanya dengan sistem khilafah keempat kesalahan bisa diperbaiki dan rakyat bisa hidup sejahtera di negeri yang kaya raya, Indonesia.

Posting Komentar