Oleh : St. Nurjannah

Mediaoposisi.com- Para penguasa tampaknya makin phobia dengan Islam. Segala upaya digencarkan untuk memburamkan ummat mengenai Islam dengan segala aturannya. Setelah pernyataan Sinta Nuriyah yang mengatakan jilbab itu tidak wajib, kini muncul lagi fatwa dari menko polhukam yang mengatakan bahwa haram mengikuti sistem pemerintahan atau Negara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebelumnya, Mahfud MD memang sangat gencar mengkritik dan menyerang persoalan sistem khilafah yaitu sistem pemerintahan Islam yang dianggapnya bukan ajaran Islam karena tidak tertera secara konteks dalam Al-quran.
Mengenai fatwa yang dikeluarkannya, Mahfud menjelaskan agama melarang untuk mendirikan negara seperti yang didirikan nabi. Sebab, negara yang didirikan Rasulullah merupakan teokrasi dimana Nabi memiliki tiga kekuasaan sekaligus yaitu legislatif, yudikatif, dan eksekutif.
"Ada masalah hukum  minta ke nabi, nabi buat hukumnya. Yang menjalankan pemerintahan sehari-hari nabi. Kalau ada orang berperkara datang ke nabi juga. Sekarang tak bisa, haram kalau ada," kata Mahfud.
Pernyataan itu disampaikan Mahfud saat mengisi Diskusi Panel Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia-Malaysia di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat lalu (25/1). Pernyataan Mahfud kemudian ditulis dalam sebuah berita dalam situs NU.or.id dengan judul “Mahfud MD: Haram Tiru Sistem Pemerintahan Nabi Muhammad”
Pernyataan menko Polhukam ini adalah pernyataan berbahaya yang bisa mencederai/merusak iman seorang muslim. Pernyataan ini muncul hanya berdasarkan nalar sekuler manusia belaka, tanpa didasari oleh dalil yang shohih dan tanpa didukung pemahaman Islam yang bisa dianggap faqih untuk mengeluarkan fatwa. 
Bagitulah ketika hidup dalam sistem sekuler dan liberal. Siapa saja bebas berpendapat dan beropini. Entah dia paham atau tidak dengan apa yang dibicarakannya, apakah dia mumpuni dalam bidang itu ataupun tidak. Sistem sekuler-liberal memberikan ruang seluas-luasnya agar syari’at islim bisa diobok-obok dan menjerat setiap muslim untuk berfikir sekuler yang membuat buram pemahamannya mengenai Islam secara menyuluruh. 
Pernyataan lain mahfud dalam acara yang sama "Saya tak mengatakan mendirikan negara Islam tapi nilai-nilai Islam. Sebab itu saya sering menggunakan istilah kita tak perlu negara Islam tapi perlu negara Islami. Islami itu kata sifat, jujur, sportif, bersih, taat hukum, anti korupsi, pokoknya yang baik-baik itu islami. Sehingga seperti New Zeland bukan negara Islam tapi negara islami," kata Mahfud. 
Namun bagaimana sebuah negara dikatakan Islami jika tak menerapkan Islam didalamnya. Sedangkan sebuah negara bisa menerapkan Islam jika sistemnya adalah Islam seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ketika menjadi kepala negara di Madinah. 
Banyak gagasan yang disampaikan orang-orang Islam Liberal sebetulnya merupakan repetisi (pengulangan) belaka dari gagasan yang sering dilontarkan oleh kalangan orientalis Barat. Mereka menginginkan sistem kapitalis tetap berjaya dengan sokongan sistem sekuler dan liberal yang menginginkan ummat jauh dari seluruh ajaran Islam. 
Ucapan Mahfud mengenai “haram” mengikuti sistem pemerintahan rasul merupakan pernyataan yang bisa saja membuat diri kita kufur kepada Allah, bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan Allah menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan bagi seluruh umat muslim. 
Seperti yang Allah terangkan “sungguh bagi kalian, terdapat contoh tauladan yang baik pada pribadi (dan ajaran dalam segala hal) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (QS. Al-Ahzab : 21).  Dari sini jelas bahwa upaya mencontoh Rasulullah tidak diharamkan, justru diperintahkan. Bukan hanya perkara ibadah ritual yang dijalakan oleh Rasulullah, namun termasuk juga dalam meniru sistem pemerintahannya.
Selain itu, Allah memerintahkan kita masuk kedalam Islam secara meyeluruh yang kemudian dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuai dengan firman Allah "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam keseluruhan.” (Q.S. Al-Baqarah: 208) sedangkan Islam tidak hanya berbicara soal sholat, puasa, zakat, ngaji, dan haji saja. Tetapi juga termasuk bagaimna mengurusi ummat dalam sistem pemerintahan. 
Kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan menuntut umat untuk mengikuti beliau dalam seluruh perkara. Allah Azza wa Jalla berfirman :
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’/4: 65)
Dari ayat ini jelas bahwa Allah memerintahkan Rasulullah sebagi seorang hakim. Namun ketika Rasulullah wafat maka bukan berarti ayat tersebut tidak berlaku lagi, melainkan tetap dilanjutkan seperti yang telah dilakukan oleh para khulafaur rasyidin dan dilanjutkan oleh para khalifah dalam bentuk pemerintahan khilafah dan seharusnya kita sebagi seorang muslim ikut melanjutkan apa yang telah dilakukan olah Rasulullah, dimana Islam tetap menjadi pondasinya yaitu Al-quran, hadits, ijmak sahabat dan qiyas.
Maka alih-alih menjadi sebuah keharaman, mencontoh/ittiba semua perilaku rasul termasuk dalam membentuk negara Islam adalah sebuah bukti  sempurnanya iman setiap muslim. [MO/ra]

Posting Komentar