Oleh : Merli Ummu Khila
(Kontributor Media, Pegiat Dakwah)

Mediaoposisi.com-Perawat itu menangis sambil berteriak penuh emosi, "Saya sudah tidak tahan...."
Suaranya serak, tubuh kelelahan. Sambil menyandarkan tubuhnya di sofa sebuah ruangan, dia menangis tersedu-sedu.

Bagaimana tidak, tekanan kerja yang tanpa henti merawat pasien yang menyesaki rumah sakit. Ruang rawat penuh sesak. Bahkan, di lorong-lorong rumah sakit banyak pasien yang tidak tertangani karena melebihi kapasitas.

Suasana rumah sakit makin mencekam. Jeritan kesakitan pasien dan teriakan panik keluarga yang mendampingi semakin menambah seram suasana. Tindakan medis seolah tak berarti. Bahkan, ada pasien yang sekarat di depan petugas medis. Ini yang memicu stress paramedis.

Keluarga pasien lebih stress lagi, bingung dan putus asa. Melihat keluarganya mengerang kesakitan sedang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Belum lagi dibayangi ketakutan akan tertular oleh pasien karena kontak fisik. Mayat-mayat korban virus tergeletak begitu saja semakin menambah seram suasana.

Wuhan menjadi kota mati. Jalanan lengang. Semua fasilitas layanan publik dihentikan. Seluruh penduduk tak berani keluar rumah. Mendekam  menanti kabar yang tak pasti. Tidak ada yang bisa menjamin keamanan dari teror virus yang seperti hantu. Tanpa jejak tanpa rupa.

Berdiam diri di rumah pun bukan berarti persoalan selesai. Karena kebutuhan sehari-hari mengharuskan mereka keluar rumah. Belum lagi jika ada anggota keluarga yang terjangkit. Hotline call sibuk, transportasi umum ditutup. Mau tidak mau mereka harus memakai kendaraan pribadi. Namun, yang menyedihkan mereka tidak bisa mengisi bahan bakar karena ditutup.

Keputusasaan penduduk Wuhan sampai pada titik nadir. Secara naluri, pasti mereka berharap ada kekuatan atau kemukjizatan yang menyelamatkan mereka. Sudah fitrahnya manusia mempunyai naluri  tadayun atau mentakdiskan sesuatu. Meskipun dilansir dari data Wikipedia mayoritas penduduk Wuhan ialah beragama Animisme.

Naluri bertuhan ini yang diingkari oleh atheis. Menganggap semua terjadi secara alamiah dan rasional. Seperti sesumbar Xin Jiping, "Tidak ada kekuatan yang bisa mengguncang China." Secara kasat mata, negara tirai bambu ini memang sangat kuat. Bahkan, sudah mendominasi banyak negara berkembang. Namun, kekuasaan Tuhan tidak akan mampu ditolak. Seperti virus Corona ini. Tidak ada satu manusia pun yang mampu memilih dan menolak siapa yang akan terjangkit dan tidak.

Hidup bertuhan tentu saja ada konsekuensi yang harus diterima. Jika memeluk agama Islam maka,  wajib memenuhi semua aturan hidup yang diatur dalam Islam. Salah satunya dalam hal makanan. Jika ateis tidak mempunyai aturan dalam hidup alias bebas melakukan apa saja, tidak demikian dalam Islam.

Dilansir dari Washington Post, pihak berwenang percaya bahwa virus tersebut berasal dari “pasar basah” yang menjual berbagai macam hewan hidup mulai dari landak, kelelawar hingga buaya.
Meskipun beragam spekulasi penyebab virus Corona namun, sangat masuk akal jika virus tersebut berasal dari binatang kelelawar yang menjadi menu populer di kota Wuhan.

Islam mengatur kategori makanan yang boleh atau halal dimakan dan yang tidak. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, dan setiap jenis burung yang mempunyai kuku untuk mencengkeram.” (HR. Muslim no. 1934)

Setiap aturan yang diturunkan oleh Allah Swt. untuk manusia semata demi kemaslahatan hidup. Dalam Islam terdapat aturan makanan yang halal dan haram. Dari adab makan sampai aturan memakan hanya yang halal dan tayib atau baik. Sehingga tidak menimbulkan penyakit pada tubuh.

Bisa jadi, virus Corona merupakan teguran dari Allah Swt. agar China sadar bahwa Tuhan itu ada.

Wallaahu'alam bishawaab

Posting Komentar