Oleh: Umi Diwanti 

Mediaoposisi.com-Indonesia, terlebih Kalimantan sebagai wadah ibu kota baru, dengan segala potensinya. Baik SDA maupun SDM-nya jelas membuat para kapital 'ngiler' ingin memasang perangkap kapitalnya di negeri ini. Pembangunan ibu kota baru menjadi pintu kehormatan bagi mereka untuk merealisasikan hasrat penjajahan.

Tak perlu mengemis atau memasang strategi apapun. Justru kepala negara negeri inilah yang menggelar karpet merah untuk mereka. Hal ini disampaikan Pak Presiden saat jadi pembicara kunci di forum internasional bertajuk Abu Dhabi Sustainability Week (ADSW), Senin (13/1) lalu.

Terang saja ini kesempatan emas bagi para investor. Adu cepat, Softbank yang merupakan raksasa telekomunikasi dan media asal Jepang pun segera menawarkan diri. Tak tanggung-tanggung mereka siap menanamkan investasinya hingga miliaran dolar. Dan pastinya banyak perusahaan lain juga akan memanfaatkan peluang ini.

Bahaya Mengintai

Sebagaimana yang diperingatkan oleh Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Feri Firdaus, jangan sampai investasi asing justru akan menjadi tiket bagi negara lain menyetir negeri ini. Dan jelas sulit dihindari jika investasi itu benar-benar terjadi. 'No Free Lunc' merupakan prinsip kapitalis saat ini.

Jelas, pasti ada yang diincar oleh para investor saat memutuskan menanamkan modalnya di negeri ini. Jika dalam pembangunan fasilitas umum, maka jelas semua akan bernayar dan ini akan memberatkan kehidupan masyarakat.

Bayangkan saja jika jalan raya, bandara, pelabuhan atau fasilitas umum lainnya dibangun bukan dari dana sendiri. Otomatis sang pembuatnya/pemilik modalnya menginginkan keuntungan dari sana.

Entah sifatnya timbal balik langsung berupa tarif penggunaan bagi siapa saja yang memanfaatkan bangunan tersebut. Atau ada permintaan lain dari mereka kepada negara kita. Semisal perizinan ekploitasi SDA atau yang lainnya. Apapun jua bentuknya tetaplah akan membuat negeri ini tak lagi leluasa hidup di negerinya sendiri.

Lebih parah lagi apa yang dikhawatirkan ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi. Bahwa pemerintah jangan sampai gegabah membiarkan adanya motif politik para investor.

Diantaranya masalah teknologi komunikasi yang seharusnya privasi. Jika diserahkan pada investor Asing, jelas akan menjadi jalan negara Asing tersebut mengakses informasi intelijen. Jika rahasia luar dalam sebuah negeri sudah berada di tangan negara lain. Apa lagi yang menjadi kekuatan sebuah negara?

Dua hal inilah yang menjadi pokok kedaulatan negara adalah kemandirian pemenuhan kebutuhan masyarakat dan kerahasiaan masalah dalam negeri. Menyerahkan keduanya pada Asing sama saja menyerahkan kartu As dan tinggal menunggu pengumuman kekalahan. Naudzubillah.

Mencontoh Manajemen Negara Rasulullah

Dalam Islam, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Hijrah ke Madinah adalah tonggak awal pembangunan negara Islam pertama. Saaitu Rasulullah membangun Mesjid Nabawi senagai pusat pemerintahan.

Beliau memilih membangun sesuai kemampuan. Sangat sederhana. Hanya berdinding batu dengan alas tanah sebagai tempat shalat berjamaah sekaligus urusan negara. Salah satu pojoknya menjadi rumah beliau tinggal. Satu sisi lainnya dijadikan sebagai penampungan warga Madinah yang tunawiswa.

Artinya Rasulullah berusaha memberikan hak-hak rakyat semampu yang negara bisa. Sama sekali tidak menyerahkannya pada swasta yang pastinya akan menarik keuntungan atas setiap fasilitas yang diberikan.

Buat apa semua serba canggih tetapi justru tidak bisa dinikmati rakyat kecuali yang berduit saja. Apalagi jika malah membuat kedaulatan negara tergadai dibtangan para investor. Jelas ini kebijakan yang tidak bijak sama sekali.

Adapun masalah kerahasiaan negara, juga salah satu yang sangat dijaga. Berita-berita kenegaraan tak boleh sembarangan dipublikasi apalagi sampai bocor. Rasulullah saw sangat menekankan hal ini.

Sebagaimana saat melakukan futuhat Mekah. "Sungguh, tidak ada kabar sama sekali bagi orang-orang Qurays. Karena itu, tidak ada kabar bagi mereka tentang Rasulullah saw, dan mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Beliau." (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Jangankan ke pihak luar (Asing) kadangkala Rasulullah saw pun merahasiakan sesuatu dari para sahabatnya. Sebagaimana penuturan Abu Salmah yang diriwayatkan Ibn Abi Syaibah, bahwa Rasulullah berkata pada Aisyah, "Siapkanlah bekal untukku dan dan jangan engkau beritahukan hal ini kepada siapapun..."

Hal ini disepakati para sahabat dalam sebuah hadist, "Tidak pernah Rasulullah saw ingin berperang kecuali Beliau menutupinya dari orang lain sampai (kecuali) Perang Tabuk itu... " (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah salah satu kunci kesuksesan negara yang dibangun Rasulullah. Hingga hanya dalam kurun waktu singkat, mampu menjadi negara adidaya yang menaklukan jazirah Arab bahkan mengalahkan tentara Romawi di perang Tabuk.

Dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyiddi dan para Khalifah yang banyak. Dengan konsep yang sama. Yakni kemandirian pemenuhan hajat hidup warga negara dan kerahasiaan yang amat dijaga membuat Khilafah mampu menjadi pemimpin dunia selama belasan abad lamanya. Dengan wilayah kekuasaan mencapai dua per tiga dunia.

Tidakkah negara ini menginginkan sebuah kedaulatan? Maka tak ada contoh paling baik dalam pengelolaan negara kecuali apa yang dicontohkan Rasulullah yang kemudian diwarisi oleh Khulufaur Rasyiddin. Bukan malah menjadi pengikut setia negara Barat dan mengharamkan mengikuti konsep negara Nabi. Saatnya bertaubat dan kembali ke jalan yang Allah ridhai. Islam![MO/s]

Posting Komentar