Oleh : Ummu Nazry Nafiz
Pemerhati Generasi
Mediaoposisi.com-Mewabahnya virus corona di China tidak membuat Pemerintah Indonesia membatasi warga negara Indonesia melakukan perjalanan ke negeri panda tersebut.
"Kita tidak melakukan restriksi, pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, ekonomi bisa berhenti," kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma'aruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (22/1/2020) malam. (Jakarta, Harianjogja.com, 2020).
Satu kata untuk masalah ini adalah spektakuler. Bagaimana tidak, mewabahnya virus Corona di Wuhan, China yang digadang-gadang sangat mematikan, ternyata dianggap tidak lebih penting dibandingkan dengan upaya penyelamatan bisnis yang kadung telah berjalan separuh jalan di negeri Panda tersebut.
Inilah bukti bahwa negara saat ini dikendalikan oleh para kapitalis, sehingga apapun yang terjadi dianggap tidak urgen untuk segera diatasi selama bisnis untuk meraup banyak keuntungan bisa berjalan dengan baik. Tak peduli walaupun nyawa taruhannya. 
Harga nyawa dan perlindungan hidup warga negara tidak begitu penting, dibanding upaya penyelamatan bisnis yang kadung telah berjalan separuh jalan, demi menyelamatkan "ekonomi negeri". Inilah yang terjadi didalam negara yang menganut paham negara korporatokrasi.
Negara penganut paham bisnis, sehingga operasional kenegaraan dilakukan berdasarkan konsep bisnis.  Maka tidak ada nilai gratis apalagi harus tekor dalam mengurusi urusan warga masyarakat. Mereka yang akan diurus adalah mereka yang mampu membayar mahal. Yang tidak mampu membayar akan dibiarkan mati perlahan dan mengenaskan. 
Demi bisnis, resiko tertular virus Corona akan diabaikan, walaupun beresiko pada kematian dan potensi penularan masif virus tersebut didalam negeri.  Lalu dimanakah letak keuntungannya, jika bisnis bisa diselamatkan, namun harus membayar mahal dengan kematian akibat terjangkit virus Corona didalam negeri dan upaya mengobati warga masyarakat yang terkontaminasi virus Corona.
Bukankah mengobati lebih mahal harganya dibandingkan mencegah ?. Hal ini juga menunjukan jika sistem sekuler-kapitalis telah membentuk individu-individu egois yang hanya memikirkan kepentingan diri dan golongannya saja. 
Sungguh, berbeda dengan sistem Islam. Sosok pemimpin adalah sosok yang sangat peduli dengan keselamatan warga masyarakatnya. Semua upaya akan dilakukan agar warga masyarakat yang dipimpinnya sehat selamat bahagia. Walaupun harus dibayar mahal. 
Sistem Islam telah menetapkan seorang pemimpin sebagai penanggung jawab dan pelindung seluruh warganya, tanpa kecuali. Semua akan diselamatkan dan ditempatkan ditempat yang aman. Sebagaimana Umar bin Khattab ra ketika menghadapi wabah penyakit Thoun,  Umar ra memerintahkan seluruh warganya untuk keluar dari daerah yang terjangkiti wabah penyakit tersebut, dan menangis saat mendengar beberapa warga masyarakatnya meninggal akibat terpapar wabah penyakit Thoun yang sedang mewabah, akibat tidak mau keluar dari wilayah yang terjangkiti wabah penyakit sebab terlanjur terdampak.
Begitulah gambaran pemimpin dalam sistem Islam. Pemimpin yang sangat mencintai rakyatnya, sehingga mampu bergembira manakala kebahagiaan menghampiri rakyatnya, dan mampu bersedih berduka menangis manakala rakyatnya mengalami kesedihan duka dan penderitaan. 
Pemimpin dalam Islam akan sangat menjaga kehidupan rakyatnya, sebab harga nyawa dalam sistem Islam sangat tinggi, tidak bisa dibandingkan dengan apapun.
Dikisahkan jika Khalifah Umar bin Khattab ra, melakukan segala upaya agar warga masyarakat yang dipimpinnya sehat selamat dari kejaran wabah penyakit. Hingga menyuruh setiap individu warga  negaranya keluar dari daerah yang terkena wabah penyakit, dengan memberikan dan menyediakan berbagai macam fasilitas yang dapat menyelamatkan seluruh warga masyarakatnya. Begitulah sistem Islam mampu membentuk karakter tanggung jawab sesungguhnya pada diri seorang pemimpin. Sebab pola kepemimpinan dalam sistem Islam dilakukan berdasarkan hak-kewajiban, halal-haram, sesuai tuntunan syariat, bukan hawa nafsu dan hitungan untung-rugi bisnis.
Maka membiarkan warga negara melakukan perjalanan ke tempat atau negeri yang sedang terjangkiti wabah mematikan yaitu virus Corona adalah langkah yang tidak tepat dan juga tidak ekonomis yang bisa berpotensi pada terjadinya krisis ekonomi.
Sebab jika tidak ada upaya sungguh-sungguh dalam mencegah penularan virus Corona dengan segera mengevakuasi warga negaranya dan melakukan pelarangan masuk ke negeri yang sedang terjangkiti wabah penyakit maka bersiaplah mengeluarkan biaya yang lebih mahal akibat potensi penularan virus didalam negeri kepada warga masyarakatnya. [Mo.db]
Wallahualam.

Posting Komentar