Oleh : Mira Susanti (Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi)

Mediaoposisi.com-Tahun 2020 menjadi langkah awal menuju perubahan lebih baik dari  tahun - tahun sebelumnya. Terutama menyangkut masalah ekonomi. Berbicara ekonomi tentunya enyangkut persoalan hidup seluruh warga negara. Indikasi keberhasilan suatu negara terletak pada kesejahteraan rakyatnya. 

Tentang bagaimana cara mereka dapat  memenuhi segala kebutuhan hidup. Tidak hanya kebutuhan pokok saja tapi juga rasa aman. Karena tak jarang terjadi berbagai kasus riminalitas,penipuan,korupsi dan lain sebagainya yang dipicu oleh faktor ekonomi. 

Lantas apa benar pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah meroket atau malah semakin merosot?. Pada periode I , Presiden Joko Widodo  pernah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 7%. Target tersebut tertuang dalam RPJMN 2015-2019 saat pemerintahan Jokowi didampingi Jusuf Kalla sebagai wakil presiden RI. 

"Dengan berbagai kebijakan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat tajam sejak tahun 2016, menjadi 7,1% pada tahun 2017, dan terus meningkat pada tahun 2018 dan 2019 masing-masing sebesar 7,5% dan 8,0%," demikian tertuang dalam RPJMN 2015-2019.

Sayangnya target itu  meleset. Selama era Presiden Joko Widodo  menjabat rata-rata pertumbuhan ekonomi hanya 5,04% per tahun.  Jangankan ekonomi tumbuh 7%, untuk keluar dari rata-rata 5% saja masih sulit sampai sekarang. Di Tahun 2019 ini pemerintah memprediksi ekonomi tumbuh 5,3%, nyatanya hanya bisa tumbuh 5,02% saja. 

Apalagi, pertumbuhan ekonomi 2019 ini juga lebih rendah dibandingkan 2018 yang sebesar 5,17%. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,02% untuk the whole year," kata Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (5/2/2020).

Nah, inilah sedikit data realita pertumbuhan ekonomi yang semakin buruk. Itu semua bisa dilihat dari kenyataan yang ada . Berapa banyak masyarakat yang berkeluh kesah dan bersusah payah membanting tulang demi melanjutkan kehidupan mereka. 

Ada anggapan bahwa  goncangan tersebut disebabkan imbas wabah corona. Sehingga menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. Lalu apa benar virus corona yang menyebabkan semua ini?. Padahal wabah coronanya baru diawal tahun ini, bagaimana dengan 5 tahun sebelumnya?

Jadi lemahnya perekonomian RI tidak seutuhnya disebabkan oleh wabah virus corona semata. Sebab jauh sebelum corona menyerang ekonomi Indonesia sudah mengkhawatirkan. Semua itu dampak dari kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Seperti  pemerintah membuka kran impor seluas- luasnya bagi  asing menjadikan rakyat semakin tekor. 

Pengelolaan Sumber Daya Alam yang tidak tepat membuat rakyat semakin melarat. Ditambah lagi dengan hutang negara yang semakin meroket yang ada rakyat semakin sekarat. Disisi lain pemerintah malah mencabut subsidi bahkan  sengaja menaikkan harga tarif sejumlah kebutuhan  masyarakat. Malah diperparah oleh tingginya angka kasus korupsi yang dilakukan oleh sejumlah oknum penguasa.

Lantas bagaimana kita bisa mempercayai  bahwa pertumbuhan ekonomi kian meroket , justru yang ada adalah pertumbuhan jumlah penduduk miskin semakin banyak. Karena pendapatan negara tidak dapat ditingkatkan dengan cara menarik minat wisatawan atau investor asing apalagi pajak. Mimpi, ekonomi bisa tumbuh  tapi malah berhasil dilumpuhkan oleh asing.

Maka langkah yang bisa ditempuh oleh pemerintah saat ini adalah mengembalikan kemandirian bangsa dalam penguasaan sejumlah SDA yang ada. Mengelolanya dengan baik demi kepentingan rakyat. Serta harus berani menutup kran impor produk-produk asing dan mengembangkan produk dalam negeri. 

Kalaupun kita harus melakukannya itu  karena satu alasan "penting". Dan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk rakyat bukan untuk asing. Hal ini akan mampu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Itupun jika berani, kalau tidak ya target pertumbuhan ekonomi meroket itu hanya sekedar mimpi. Apalagi masih tetap mempertahankan  sistem kapitalis sekuler dan enggan untuk menjalankan sistem Islam Kaffah. [MO/s]





Posting Komentar