Oleh : Qonita I. (Mahasiswa Vokasi Unair)
Mediaoposisi.com-Berita predator seksual sepertinya menjadi topik terpanas di dunia saat ini. Sejak dipublikasikan kasus Reynhard Si Predator Seksual di Inggris yang berhasil ditangkap oleh kepolisian negara tersebut setelah dilaporkan oleh salah satu korbannya, berita ini masih panas. Bagaimana tidak heboh, Reynhard diketahui telah memerkosa 48 korban pria dalam 159 kasus pemerkosaan dan diperkirakan masih banyak lagi, hingga 200 orang korban yang diindentifikasi oleh kepolisian Inggris. 

Yang sangat merisaukan kita, masalah predator seksual ini sebenarnya bukan masalah baru yang muncul di berbagai belahan dunia. Ribuan kasus telah terjadi. Kasus predator seksual Reynhard ini hanya salah satu yang berhasil menyedot perhatian publik Indonesia. Salah satu penyebabnya dikarenakan Reyhnhard merupakan orang yang dikenal berpendidikan namun perkiraan jumlah korban pemerkosaannya fantastis. Sedihnya, kasus Reynhard yang menghebohkan ini sebenarnya adalah kasus lama yang sudah berulang-ulang terjadi dan terus-menerus bertambah kasus yang sama di berbagai negara. Contohnya kasus Jung Joen Yeon yang menyedot perhatian publik Korea tahun lalu. Bahkan beberapa kasus predator seksual ini tidak berhenti hanya dengan pemerkosaan, tetapi sampai tega membunuh para korbannya.  

Masalah  predator seksual ini terus muncul di berbagai kalangan, menjadi masalah klasik negara kapitalis. Ini terjadi karena dalam kehidupan kapitalisme sekuleristik saat ini terjadi degradasi moral dan pergaulan hancur-hancuran. Dengan kondisi pergaulan yang memprihatinkan, tidak ada tempat yang aman dari permalahan seksual.
Laki-laki dan perempuan tidak saling menjaga dan bekerjasama menempakan kehormatan. Masyarakat abai atau gagal mewujudkan rasa aman antar sesamanya. Negara tidak peduli dengan kehormatan, justru membebaskan siapa saja menjalankan apapun maunya. Liberal, atas nama HAM, kenyataannya justru mengabaikan dan merusak rakyatnya sendiri. Karena itu tidak ada perlindungan bagi para calon korban. Semua orang dari kalangan manapun bisa menjadi korbannya. Siapa saja yang tidak terduga bebas menjadi calon predator seksual selanjutnya.

Baca juga bro : https://www.mediaoposisi.com/2020/01/fpi-sang-laskar-penyelamat-yang.html
Permasalahannya berada pada kondisi pergaulan sekarang yang seperti bernanah membusuk, tidak ada pengaturan bagaimana hubungan lawan jenis, bahkan hubungan sesama jenis. Bebas. Semua bebas memiliki keyakinan, bebas berpendapat dimana saja, bebas bergaul dengan siapa saja. Bahkan bebas sebebas-bebasnya orang diperbolehkan mempunyai ruang basement penyiksaan seksual hingga bebas memiliki dan memasuki hotel dengan fasilitas penyiksaan seksual. Semua bebas asal merasa puas.
Dan karena kebebasan inilah menjadikan manusia lebih buruk daripada iblis. Karena iblis saja tidak akan melakukan homoseksual. Seharusnya manusia sebagai makhluk yang mempunyai akal bisa berpikir. Sayangnya akal malah dipergunakan untuk memenuhi nafsu setinggi-tingginya. Naluri yang dipunya diumbar sedemikian rupa dan bebas tanpa aturan. Maka dari itu tidak heran muncullah predator seksual seperti Reynhard yang memiliki keyakinan kebebasan, asal suka sama suka dan tidak ada yang merasa rugi.
Maka predator seksual akan bebas ketika korbannya diam. Karena yang dipermasalahkan oleh hukum berbasil liberalisme hari ini adalah yang melaporkan bukan yang melakukan. Semua ini berasal dari pemikiran liberalis dalam demokrasi itu sendiri. Liberalisme dijamin adanya, menjadi jaminan siapa saja tetap sekuler, tidak terikat dengan aturan agama dalam kehidupannya.
Karena itu, masalah yang harus diperdebatkan adalah kondisi pergaulan yang sakit ini sehingga akan muncul banyak Reynhard lagi, bukan di tempat mana Reynhard mau dihukum atau dengan hukuman yang seperti apa. Percuma, bila demikian saja yang diupayakan, satu Reynhard mati pun akan tumbuh 1000 Reynhard yang lain. 
Maka perhatian kita harus beralih. Liberalisme yang dijamin oleh kapitalisme dalam asas sekulerisme inilah sumber dari segala permasalahan ini! Lalu bagaimana cara menghentikannya? Kehidupan kapitalistik-sekuler-liberal ini harus diubah secara revolusioner. Dicabut total. Dibuang jauh-jauh ke belakang kita.
Dan yang menjalankannya kita bersama. Harus ada upaya menyadarkan manusia akan dirinya, manusia tidak bisa mengikuti nafsunya terus-menerus tanpa berpikir. Harus ada kehidupan yang menusiawi yang bisa bisa mengembalikan kondisi yang kemanusiawian manusia dengan benar. Kondisi yang menjamin manusia menggunakan akalnya untuk berpikir dan kembali memikirkan diri hingga takut akan dosa yang diperbuat.
Akal dan nalurinya diatur secara manusiawi. Semua pengaturannya dikembalikan  kepada Penciptanya. Manusia harus sadar diri jika terus menerus mengikuti nafsu tidak akan berhenti kasus predator seksual seperti Reynhard ini. Maka, serahkan diri kita kepada aturan Allah swt yang mulia dan memuliakan manusia. Islam dengan seluruh kesempurnaannya.
Sungguh, Islam memiliki aturan pergaulan yang lengkap dan sempurna. Jika aturan dan pandangan pergaulan ini dijalankan dalam ketakwaan dalam landasan iman, kehormatan semua orang akan terjaga. Kehidupan mulia yang saling menjaga akan terwujud. 
Masalahnya satu: kita tidak hidup dalam dunia yang mau kembali kepada peringatan dan ayat Allah. Maka kembalilah kita, taubat nasuha dalam seluruh aspek kehidupan kita. Negara harus menerapkan aturan Islam yang sempurna, rakyat menjalankannya dengan takwa. Gambaran yang hanya akan terwujud dalam sistem Negara Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwah. Inilah kebutuhan kita. Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan negeri ini dan dunia dari kebusukannya. Sehingga Reynhard akan menjadi cerita akhir. Bukankah itu mau kita? [Mo/db]

Posting Komentar