Oleh: Tri Setiawati, S.Si
(Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Baru-baru ini kita kembali digemparkan dengan berita maraknya pelaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) yang semakin hari jumlahnya semakin mengkhawatirkan. Muhammad Hasan alias Mami Hasan ditangkap polisi karena melakukan pencabulan terhadap 11 anak laki-laki di bawah umur di Tulungagung, Jawa Timur. Hasan diketahui merupakan ketua Ikatan Gay Tulungagung (IGATA). (KumparanNEWS, 20 Januari 2020).

Polisi membekuk Hasan di Krajan Gondang, Kecamatan Gondang, Tulungagung. Dirkrimum Polda Jatim,Kombes Pol Pitra Ratulangi mengatakan Hasan sehari-hari bekerja sebagai penjaga warung kopi. Pelaku mengenal 11 orang anak yang jadi korbannya di warung kopi.

Pitra menyebut Hasan membujuk korban dengan iming-iming uang sebesar Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Kemudian, Hasan mengajak korban ke rumahnya dan berlanjut dengan tindakan asusila. Aksi tersebut berulang sejak tahun 2018 hingga 2019. Sementara itu, di hadapan polisi, Hasan mengaku kebanyakan korban pencabulan datang kepadanya saat membutuhkan uang. Ia menyambut baik dan mengajak korban ke kamarnya.

Atas aksi pencabulan itu, Hasan dijerat Pasal 82 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hasan kini terancam hukuman 15 tahun penjara.

Entah dimana peran Negara, sehingga membiarkan LGBT tumbuh subur dan merajalela ditengah-tengah kita. Penyebab bertumbuh suburnya LGBT adalah akibat dari arus liberalisme yang mengancam bangsa, terutama remaja. Liberalisme merupakan paham kebebasan yang berasal dari Barat yang terdiri dari 4 macam kebebasan, salah satunya adalah kebebasan bertingkah laku. 

Kebebasan bertingkah laku inilah yang kemudian menyebabkan pelaku LGBT masih eksis di negeri ini.

Dengan membawakan kampanye-kampanye dengan tajuk “LGBT adalah HAM (Hak Asasi Manusia)”, seolah menganggap perbuatannya sah-sah saja dilakukan. Ditambah dengan ‘mandul’ nya peran Negara untuk mengatasi permasalahan ini, maka semakin menambah pula deretan angka pelaku LGBT yang tak kunjung henti hingga kini. Harus kita ketahui, keberadaan gay di Tulungagung ini  bukanlah perilaku yang patut diwajari. Gay merupakan perbuatan menyimpang yang bahkan hewan saja tak ada yang melakukannya.

Penderita ini tidak di pengaruhi oleh gen alias keturunan, namun perlu di terapi dan pendekatan konseling bersama dokter ahli psikiater. Justru mereka yang memiliki penyimpangan seksual harus di bina terutama dalam Agama.

Liwath (gay) adalah suatu kata (penamaan) yang di nisbatkan kepada kaumnya Luth ‘Alaihi salam, karena kaum Nabi Luth ‘Alaihis salam adalah kaum yang pertama kali melakukan perbuatan ini (Hukmu al-liwath wa al-Sihaaq, hal. 1). Allah SWT menamakan perbuatan ini dengan perbuatan yang keji (fahisy) dan melampaui batas (musrifun).

“ Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka :

“ Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah di kerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al ‘Araf : 80-81)

Abu Dawud (no 4018) bahwa Rosulullah bersabda yang artinya : “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Dan janganlah seorng laki-laki memakai satu selimut dengan laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita memakai satu selimut dengan wanita lain.”

Terhadap pelaku homoseks, Allah SWT dan Rosulullah SAW sangat melaknat. Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy Raimahumullah dalam kitabnya “Al-Kabair’ (hal 40) memasukkan homoseks sebagai dosa yang besar dan beliau berkata

“Sungguh Allah telah menyebutkan kepada kita kisah kaum Luth dalam beberapa tempat dalam Al-Qur’an Al-Aziz, Allah telah membinasakan mereka akibat perbuatan keji mereka.
Kaum muslimin dan selain mereka dari kalangan pemeluk agama yang ada, bersepakat bahwa homoseks termasuk dosa besar.” Sebagaimana di jelaskan dalam surt Al-Hijr ayat 74 :

“ Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.” Sebagaimana manusia di ciptakan maka akan di fasilitasi dengan naluri (gharizah) dan jasmani.

Dari sifat manusia, yang paling melekat adalah Gharizah Nau’ (naluri berkasih sayang), maka kita harus bisa mengendalikan dengan menundukkan nafsu tersebut. Namun akar pokok masalah yang terjadi di Indonesia tidak hanya itu, melainkan peraturan yang di terapkan telah memisahkan Agama dari kehidupan sehingga ideology Sekularisme bercokol mengakar dalam setiap individu, adapun merajalelanya LGBT merupakan perintah dan cara Negara Adidaya dalam menjajah Indonesia, gunanya untuk menjauhkan Islam dari kehidupan ummatnya. Hingga puncaknya adalah ummat Islam tidak mengetahui jati dirinya adalah sebagai muslim dan rusaknya generasi Islam baik secara pola pikir dan pola sikap.

Beginilah, ketika Islam dijauhkan dari kehidupan. Padahal dalam Islam, pelaku LGBT tergolong kedalam pelaku kriminal dengan sanksi yang paling berat, yaitu dijatuhkan dari gedung tertinggi, kemudian dilempari batu hingga mati. Sayangnya, seringkali syari’at Islam dianggap kejam dan menakutkan, padahal syari’at Islam Allah turunkan untuk menegakkan keadilan.

Sangat bertolak belakang dengan sistem demokrasi saat ini, yang menetapkan hukum berdasarkan hawa nafsu manusia yang dilegalisasi dalam sebuah institusi. Masalah ini tidak akan terselesaikan jika penanganan berada pada kubangan sistem kapitalisme atau komunis, solusi dari segala sumber masalah adalah tegaknya Khilafah Islamiyyah ‘alaaminhaj an- nubuwwah. [MO/s]

Posting Komentar