Oleh : Leli Novitasari

(Aktivis Muslimah, Generasi Peradaban Islam)

Mediaoposisi.com- Setiap manusia pasti menginginkan hidup bahagia dan sukses. Namun realitas hidup di zaman yang serba maju teknologinya namun tak diimbangi dengan kemajuan spiritual. Menjadikan mayoritas manusia gagal paham hakikat kebahagiaan, baik di negara-negara industri maju maupun di negara-negara berkembang. Fenomena ketidakbahagiaan dan kegelisahan
tercermin dari kian marak dan masifnya konsumsi narkoba, minuman keras, perjudian,
perampokkan, korupsi, praktik seks bebas yang menimbulkan penyakit HIV/AIDS, perceraian,
trafficking, bunuh diri dan penyakit sosial lainnya.

Sementara itu, masih saja berharapnya pada sistem kehidupan buatan manusia (Kapitalisme
dan Komunisme) yang mengatur hampir seluruh belahan dunia sejak runtuhnya Kekhalifahan
Islam terakhir di Turki pada tahun 1924, ternyata tak menghantarkan manusia pada tujuan
hidupnya yang hakiki.

Zaman dimana kaum Muslim benar telah tercerabut dari akarnya sehingga merasa minder
dengan agamanya sendiri dan lebih percaya pada yang bukan kaumnya sendiri bahkan kepada
Allah. Kaum Muslim pun seakan putus asa dan cenderung menyesuaikan diri dengan
keburukan daripada mengubah keburukan itu sendiri.

Minim dari spiritual juga mengakibatkan ketidaktakutan insan manusia ketika merugikan negara
juga banyak orang. Berita akhir tahun yang datang dari asuransi plat merah menambah polemik
yang dialami bangsa, yaitu kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya yang dinilai merupakan
skandal terbesar di Indonesia, setelah kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI.
VivaNews pada tanggal 29 Desember 2019 lalu.

Kerusakan yang sistemik masih menjadi polemik di kalangan negara maupun rakyatnya.
Ditambah legitimasi kebijakan-kebijakan yang makin menyengsarakan lagi mencekik
masyarakat.

Setelah menyadari di tahun 2019 lalu yang penuh dengan persoalan yang tak bisa diselesaikan
dengan sistem hari ini (kapitalisme), kesadaran umat mestinya mengarah pada penyelesaian
persoalan dengan Islam.

Penyelesaian dengan solusi Islam tentu bukan hanya berharap aspek maslahat dan diiambil
secara parsial di satu aspek. Misal, di bidang ekonomi dengan meninggalkan praktik
Bancassurance (Bancassurance adalah sebuah produk asuransi hasil kerja sama antara
perusahaan asuransi dengan bank) agar tidak terulang kasus jiwasraya, atau melakukan
dedolarirasi dan menggunakan dinar agar nilai tukar uang kita stabil. Solusi tersebut justru tak
bisa menyelesaikan permasalahan secara tuntas. Memilah milih aturan Islam, diambil hanya
yang memiliki faedah bagi kepentingan segolongan.

Adapun yang menganggap bahwa persoalan yang menimpa kaum Muslim saat ini diakibatkan
oleh ketertinggalannya dalam sains dan teknologi sehingga umat mendirikan sekolah-sekolah
juga memberikan beasiswa ke luar negeri untuk belajar sains dan teknologi. Ini pun
pemahaman yang kurang tepat dalam memberikan solusi pada keterpurukan masyarakat juga
negeri.

Kemiskinan, ketertinggalan teknologi, akhlak yang buruk, pendidikan yang tidak sesuai target,
pergaulan yang amburadul bukanlah sebab keterpurukan kaum Muslim dan negeri saat ini.
Karena kekayaan, teknologi mutakhir dan akhlak yang baik pun juga belum cukup untuk bisa
membangkitkan kaum Muslim dan keterpurukkan negeri.

Lihat bagaimana Uni Emirat Arab mampu mendirikan menara tertinggi di dunia sebagai simbol kesejahteraan, tapi bagaimana kondisi umat Islam yang berada di kanan kiri wilayah negerinya. Apakah sejahtera? Apakah merdeka? Adapun Mesir yang mempunyai Al Azhar University, banyak melahirkan ulama dan ilmuwan namun ternyata ini tidak menghasilkan perbaikan pada Umat Muslim seperti yang
diharapkan.

Juga solusi mendirikan partai Islam lalu ikut dalam parlemen agar mampu menyalurkan aspirasi
Umat Islam, apakah bisa diharapkan? Nampaknya ini pun sulit terealisasikan, karna justru
partai-partai Islam yang ikut dalam parlemen akan terganjal oleh kebijakan-kebijakan dengan
peraturan yang diadopsi dalam pemerintahan, dimana aturan itu dibuat sesuai kepentingan
penguasa yang berkuasa pada saat itu.

Ini menjadi bukti bahwa ada sesuatu yang lebih mendasar pada kaum Muslim juga negeri yang
harus diubah sebelum semua keterpurukannya dapat dibangkitkan.
Bagaimana sebenarnya solusi tuntas dengan padangan Islam dalam mengatasi masalah yang
terjadi secara sistemik saat ini?
Allah SWT berfirman,: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu mengubah
nasibnya sendiri".(TQS. Ar-Ra'du: 39 ayat 11)
Kembali mengingat masa dahulu, ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam menerapkan
Islam di Madinah pada tahun 623 M yang mampu bertahan sampai tahun 1924 M dengan
segala kedigdayaannya, sejarah tidak bisa ditutupi dan berdusta bahwa abad keemasan Umat
Islam (Islamic golden age), pada saat itu kekhilafahan Abbasiyyah dan kekhilafahan
Utsmaniyyah (750-1500) telah menyatukan lebih dari ⅓ dunia.

Kekuasaannya membentang dari Andalusia hingga Nusantara. Tertulis dengan tinta emas seorang pemuda yang kala itu berusia belia bernama Muhammad Al Fatih menaklukkan kota Konstantinopel pada tahun 1453 (ibukota Romawi Timur-Byzantium) yang merupakan negara adidaya. Juga karya-karya besar yang ditorehkan oleh pemikir juga saintis Muslim yang mampu membangkitkan peradaban manusia pada saat itu.

Perbedaan mendasar yang membedakan kondisi umat sekarang dengan masa lalu adalah tidak
digunakannya aturan Islam secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Allah
menjelaskan bahwa setiap kerusakan pastilah dikarenakan penyelewengan hukum Islam. Allah
SWT menegaskan, bahwa penerapan Islam secara sempurna juga totalitas mulai dari akar
hingga daun, dari asas dan seluruh sistemnya akan memberikan berkah yang turun dari langit
dan muncul dari bumi.

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-
ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al-A'raf ayat 96)

Keimanan pada Allah SWT menuntut umat Islam terikat dengan seluruh perintah Allah di dalam
Al-Qur'an dan sunnah RasulNya. Dikatakan berdusta apabila seseorang mengatakan beriman
pada Allah namun tidak ingin menerapkan aturan-aturan yang telah ditentukan olehNya. Allah
pun mengingatkan kepada manusia agar mengambil Islam secara keseluruhan, secara sempurna. Bukan meminta manusia memilih dan memilah aturan mana yang diterapkan mana
yang tidak.

Allah SWT berfirman,"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan." (QS.
Al-Baqarah ayat 208)

Secara iman, umat harus yakin tegaknya seluruh syariat Allah akan mendatangkan maslahat.
Juga penerapan aturan Allah secara totalitas inilah yang telah menghasilkan kemajuan
peradaban manusia luar biasa. Dan umat perlu memahami bahwa penerapan aturan Allah
secara mutlak ini hanya dimungkinkan dalam sistem yang mengakomodasi peraturan Allah
(syariah), yakni tidak lain adalah sistem Islam itu sendiri yaitu Khilafah.

Dimana telah Rasulullah contohkan dalam memimpin umatnya tidak hanya sebagai Rasul, akan tetapi juga sebagai pemimpin duniawi dan mengatur urusan-urusan politis. Dan inilah alasan yang membuat
Michael H. Hart memposisikan Muhammad Saw sebagai orang nomor satu paling berpengaruh
sepanjang masa.

Terbukti secara normatif, logis dan empiris bahwa aturan Allah mampu memberikan kebaikan
bagi seluruh umat manusia di dunia. Aturan inilah yang layak dipakai untuk menentukan standar
baik-buruk, benar-salah dan mengatur seluruh aktivitas manusia dengan tepat. Dan aturan
inilah yang dituntut oleh aqidah seorang Muslim. Maka resolusi umat tahun 2020, dari
diterapkannya aturan Nya secara menyeluruh akan umat Islam rasakan kehidupan sejahtera,
mulia dan jaya dalam naungan Khilafah.[MO/sr]

Posting Komentar