Oleh Diana Wijayanti, SP

Mediaoposisi.com-Pasca keruntuhan Pemerintahan Islam Turki Usmani, Kaum muslimin mengalami keterpurukan yang tiada tara, penggeseran aqidah, tidak ada penerapan syariah kaffah, hidup sengsarà, dijajah dianiaya hingga dibantai tanpa pembela. Seolah kesengsaraan itu menjadi takdir yang memang sudah semestinya terjadi.

Kaum muslimin banyak yang tak tahu, bahwa nenek moyang mereka dulu adalah para kesatria yang hidup dalam negara yang penuh keberkahan, kemakmuran dan keadilan. Tengok saja sejarah keemasan Islam dalam naungan Pemerintahan Islam, Khilafah. Tiga belas abad lamanya Islam berkuasa menguasai 2/3 dunia memberi rahmat bagi seluruh alam. Bahkan orang kafir sekalipun, seperti Will Durant berdetak kagum, menyatakan bahwa selama peradaban manusia tak ada yang mampu menandingi kehebatan Islam. Islam mampu mensejahterakan, memberikan keadilan dan keamanan pada peradaban manusia berabad-abad lamanya.

Sejarah pun mencatat betapa tentara kaum muslimin adalah pasukan yang tak pernah terkalahkan melawan musuh. Kegemilangan peradaban Islam inilah yang membuat orang kafir sakit hati, dendam dan bernafsu untuk meruntuhkan kekuasaan Islam serta tidak memberi kesempatan untuk bangkit lagi, selamanya.

Namun, betapapun kuatnya musuh-musuh Allah menghancurkan Islam, menutupi sejarah dan menjauhkan ajarannya dalam benak kaum muslimin, Janji Allah Swt dan Bisyarah Rasulullah saw adalah kepastian yang diyakini umat terbaik "khairu umah" ini.

Diantara keyakinan itu adalah yakin akan janji Allah akan tegaknya kembali Khilafah Islam sebagaimana manhaj kenabian, serta janji takluknya Kota Roma.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur; 24:55)

Meskipun berada dalam keterpurukan yang teramat parah seperti saat ini namun janji Allah Swt dan Bisayarah Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa kaum muslimin kelak akan berkuasa kembali dimuka bumi ini dengan tegaknya Khilafah Rasyidah ala minhajinnubuwah terus digelorakan. Tanda kedatangannya mulai tercium, ghirah Islam politik makin bangkit dimotori Gerakan Islam Politik yang berpengaruh tingkat dunia. Kegerahan Kafir Barat pun nampak dari gencarnya program mereka membendung ide Khilafah berkembang ditengah umat.

Dengan kekuasaàn Islam ini, bisyarah penaklukan Kota Roma pun akan bisa diwujudkan. Inilah kekuatan iman, yang menjadi keistimewaan kaum muslimin, yaitu mampu mengetahui kehidupan ke depan bahkan kehidupan akhirat. Bukan karena berhayal tapi karena Allah SWT telah telah memberitahukan melalui firmannya dalam Al qur'an dan dijelaskan dalam al hadits baik dengan ucapan, perbuatan atau diamnya Rasulullah Saw.

Bisyarah Rasulullah tentang Penakhlukan Kota Roma seiring dengan penaklukan Kota Konstantinopel. Kota Konstantinopel terbukti ditaklukkan kaum muslimin setelah lebih dari 8 abad lamanya.

Salah seorang sahabat Nabi, Abu Qubail bercerita, “Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya, ‘Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Roma?’ Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Lalu ia berkata, ‘Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya:
Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)

Kapan kabar gembira itu disampaikan Rosul?  Bukan pada saat Kaum muslimin Jaya tapi sebalikkan saat Rasulullah dan kaum muslimin menghadapi kondisi yang sangat sulit yaitu pada saat pasukan Quraisy, Bangsa Arab dan Yahudi Bani Quraidzh bersekutu untuk menghancurkan Madinah al Munawarah. Kurang lebih ada 10.000 pasukan gabungan yang siap melumat Negara Islam yang dibangun Rasulullah dan para sahabat.

Di saat genting itulah, seorang ahli strategi perang mengusulkan penggalian parit di sekitar Kota Madinah sebagai Benteng pertahanan dari serangan musuh. Parit di gali dengan kesulitan yang teramat sangat karena tanah Madinah bukan tanah yang mudah digali tapi batu cadas yang sangat sulit digali. Masa keletihan, kesulitan dan tekanan yang hebat itu Baginda Muhammad Saw bersabda seraya menggali tanah batu untuk parit. Bahwa kelak kaum muslimin akan menaklukkan kota Konstantinopel dan Roma.

Mendengar kabar gembira itu sahabat bertanya, kota mana yang lebih dahulu ditaklukkan? Tak ada satupun sahabat yang ragu akan berita tersebut. Sementara orang Yahudi tertawa terbahak-bahak, menganggap umat Muhammad telah gila, Karena percaya kepada Rasulnya. "Dan yang lebih gila lagi adalah Rasulnya, sudah tidak waras, ngigau karena ketakutan kepada pasukan gabungan" kata Mereka. Akhirnya kaum muslimin, berhasil memenagkan perang Ahzab atau perang Khondaq ini dengan idzin Allah.

Upaya penyerangan Romawi pun sudah dilakukan Rasulullah, yaitu perang Mu'tah dan perang Tabuk. Dilanjutkan serangan oleh Yazid bi Muawiyah, Harun ar Rasyid, Bayezid dan Murad II semua belum berhasil menaklukkan Kota Romawi Timur. Hingga akhirnya putra Khalifah Murad II, yaitu Muhammad Al Fatih berhasil membuktikan kebenaran Bisyarah Rasulullah Saw.

Tepat pada tanggal 20 Jumadil Ula 857 H, penaklukan Kontantinopel terjadi. Banyak pelajaran yang kita ambil dari kegigihan kaum muslimin mewujudkan Bisyarah Rasulullah saw. Banyak pengorbanan yang harus dikeluarkan hingga kemenangan itu diberikan oleh Allah SWT. Tak hanya pikiran, tenaga, harta bahkan nyawa pun harus dikerahkan dalam menyongsong kemuliaan didunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.

Berbagai assababiyah para pendahulu kita ini, yang harus dikaji hingga kita mampu berbuat layaknya mereka bahkan lebih baik lagi, hingga mampu mewujudkan bisyarah kedua yaitu penaklukan Kota Roma.

Kota Vatikan, Roma, Italia saat ini adalah simbol kedikdayaan Nasrani menguasai dunia, dan insyaAllah ke depan akan berubah menjadi kekuasaan Islam. Sebagaimana kabar gembira takluknya kota Konstantinople.

Mengingat peristiwa heroik menuju penaklukan Konstantinopel betul-betul buah dari kerja keras dan pertolongan Allah SWT bukan hal yang "sim salabim, abah ga dabrah" atau tiba-tiba turun dari langit. Oleh karena itu berbagai persiapan harus di lakukan oleh kaum muslimin dalam mengemban bisyarah ini.

Ada tiga hal pokok yang harus dimiliki kaum muslimin agar kemenangan itu diraih :
Pertama, adalah  Keyakinan. Kekuatan terbesar yang dimiliki kaum muslimin adalah keyakinan, aqidah atau tauhid. Dengan keyakinan inilah kaum muslimin mampu menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi laranganNya seberat apapun perintah itu. Sebagaimana perintah menegakkan Khilafah Islamiyyah yang hanya satu, menaungi seluruh kaum muslimin didunia, menjalankan syariah Islam kaffah dan mengemban risalah dakwah dan jihad keseluruh penjuru dunia. Berjihad di jalan Allah ini betul-betul dengan makna syar'i : perang melawan musuh Allah yang memerangi kaum muslimin dalam rangka menyebar rahmat di seluruh alam. Perintah menaklukan Roma, semua itu adalah adzimul wajibat (kewjiban besar)
Kedua, adalah keseriusan dan kesungguhan melaksanakan hukum sebab akibat yang menghantarkan kemenangan.

Ini sangat jelas terlihat dari kesungguhan kaum muslimin dari generasi ke generasi yang telah berusaha sekuat tenaga, bahu membahu selama lebih dari 8 abad berusaha menaklukkan Konstantinopel dan akhirnya berhasil diraih. Kisah Muhammad Al Fatih merupakan sosok nyata kesatria terbaik yang pernah dilahirkan dari rahim kaum muslimin.

Saat menunggu kelahiran Muhammad Al Fatih, Sultan Murad II membacakan QS Al Fath yang menceritakan kemenangan Kaum Muslimin baik dimasa Rasulullah maupun masa yang akan datang. Al Fatih kecil dididik dengan kasih sayang ayah dan ibu yang sholeh, sejak kecil hafiz al Qur'an 30 juz dan Hadits-hadits, dididik oleh guru yang luar biasa, salah satunya Aq Syamsudin yang menanamkan Hadits penaklukan Konstantinopel di benak sang anak bahwa " dialah yang harus jadi penakluk Kontantinople itu janji Allah dan Bisyarah Rasulullah" pahala yang besar disiapkan Allah bagi pemimpin dan pasukan yang berhasil menjalankan amanah itu.

Sosok terbaik itu, yang ditanamkan orangtua, guru dan lingkungan membuat Al Fatih kecil giat belajar dan berlatih menyiapkan segala sesuatunya demi menjadi pemimpin terbaik dengan pasukan terbaik, aqidah yang, kuat, ibadah yang kokoh, tubuh yang kuat, pemikiran yang cemerlang, ditopang sain dan teknologi, ahli strategi perang, seraya terus bertawakal kepada Allah.

Usia 19 tahun ayahandanya wafat dan dia menggantikan kedudukan sebagai Khalifah kaum muslimin terus berupaya menyiapkan pasukan untuk menaklukkan Ibukota Bizantium. Tepat di usia 21 tahun Muhammad Al Fatih melaksanakan misi penaklukan.

Persiapan pun sangat matang, meriam tercanggih, 250.000 pasukan siap tempur dan ahli ibadah, logistik penunjang jihad, pasukan darat dan laut siap diberangkatkan. Proses penaklukan itu memakan waktu 57 hari hampir 2 bulan lamanya. Kita bayangkan betapa besar persiapan yang dilakukan demi memenuhi bisyarah Rasulullah.

Benteng Konstantinopel adalah benteng tertangguh saat itu, meriam tercanggih harapanya mampu menghancurkan benteng. Namun harapan itu meleset. Meriam yang panjangnya 8 meter dengan peluru 600- 1300 kg tak mampu merobohkan benteng. Perang anak panah tak terelakkan lagi namun kaum muslimin belum melihat tanda tanda kemenangan.

Manusiawi kalau pasukan mulai terserang putus asa, ada yang menyalahkan, bahwa ambisi penaklukan itu diluar batas kemampuan, ada yang mengatakan al Fatih telah membawa pada kematian pasukan yang sia-sia dan lain sebagainya. Namun Al Fatih bukan orang yang mudah berputus asa. Pimpinan pasukan segera dikumpulkan dan diajak bermusyawarah menemukan jalan agar meraih kemenangan. Hingga muncul keputusan melakukan penyerangan dititik terlemah yaitu di teluk Tanduk Emas. Namun pasukan laut terhalang masuk karena ada rantai besi yang mengahalangi kapal melewati teluk Bosphorus menuju Teluk tanduk Emas. Ide gila pun dilakukan yang tak pernah terbayangkan oleh manusia manapun. Tujuh puluh dua Kapal perang harus dilayarkan ke Bukit Galata.

Ya, kapal berlayar melalui bukit, bukan laut atau samudra. Semua pasukan sepakat menunaikan strategi  yang dak biasa itu, alias "up normal". Bukit yang penuh pohon, hutan belantara segera dibabat, pohon dipakai roda kapal dan diberi pelumat minyak agar kapal bisa ditarik melewati bukit. Akhirnya 72 kapal perang itu sampai ke teluk Tanduk emas. Saat itu Muhammad Al Fatih sang Prnakluk memimpin sholat Jumat dan berkhutbah yang sangat menggetarkan jiwa seluruh pasukan.

"Wahai pasukanku, lihatlah didepan adalah Kota Konstantinopel, bila Allah SWT mengizinkan maka kita akan menjadi pasukan terbaik sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan, atas pertolongan Allah. Wahai pasukanku, kita berperang untuk meninggikan kalimatullah bukan untuk mendapatkan ghanimah dan harta. Tolonglah agama Allah ini, insyaAllah Allah akan menolong kalian. Aku khawatir akan dosa-dosa kalian maka bertaubatklah kepada Allah. Songsong kemenangan  dengan bermunajat kepada Allah"

Kedatangan Pasukan Al Fatih membuat pasukan Romawi gemetar dan akhirnya menyerah, tunduk kepada kekuasaan kaum Muslimin. Tunai sudah kabar penaklukan Konstantinople.

Ketiga, Tawakal kepada Allah. Ya, jika telah berazam maka semua harus diserahkan kepada Allah. Kunci ini yang harus dipegang kaum muslimin ketaatan kepada Allah, menghindarkan diri dari kemaksiatan adalah syarat kemenangan itu diturunkan Allah SWT. Jadi bukan hanya persiapan fisik tapi juga kebersihan diri kaum muslimin yang akan ditolong Allah harus menjadi perhatian. Tanpa ketaatan dan kepatuhan hanya kepada Allah mustahil kemenangan diraih. Itu juga yang dilakukan muhammad al Fatih dari kecil tak pernah melakukan kemaksiatan, bahkan bukan hanya kewajiban yang dikerjakan tapi juga ditambah dengan amal sholeh. Al Fatih sejak baligh tak pernah meninggalkan sholat berjamaah, sholat rawatif, sholat tahajud dan shoum sunnah. Demikian pasukannya terkrnal ketaatannya kepada Allah dan Rassulullah Saw. Masyaallah.

Itulah beberapa hal yang bisa kita teladani, sehingga Kota Roma bisa ditaklukkan oleh kaum muslimin saat ini. Semangat inilah yang harus disampaikan ke umat agar berbuah pada keyakinan, perjuangan dan penyerahan kepada Allah semata, seraya mengharap keridhaanNya.

Semangat ini, yang coba terus digaungkan. Tepat tanggal, 20 Jumadil Ula 1441 H atau 15 Januari 2020, kaum muslim seluruh dunia berkumpul mengingat kembali kejayaan Islam dalam naungan Khilafah Islam berhasil menaklukkan Konstàntinopel, dengan semangat itu diharapkan keyakinan, perjuangan umat untuk menegakkan Khilafah bangkit, dan dengan Khilafah Kota Roma bisa ditaklukkan.Wallahua'lam bish showab[MO/S]

Posting Komentar