Oleh : Ibnu Anwar
(Mahasiswa)

Mediaoposisi.com-Istilah politik merupakan istilah yang sudah biasa kita dengar dan ucapkan, paling menonjol istilah ini menjadi buah bibir yang di perbincangkan masyarakat dalam resesi tahunan, ritual dalam mencari dan memilih orang yang cocok nan memiliki kapabilitas dalam memimpin sebuah perkumpulan baik lingkup lokal, regional-nasional sampai tingkat internasional. Kemudian diangkat sebagai pemimpin.

Paradigma Pertama politik, menurut kebanyakan politisi (baca: orang yang bermain politik) dari zaman ke zaman, para politisi klasik maupun kontenporer sejak masa kolonial bahkan sebelum itu hingga sekarang yaitu masa kecanggihan tekhnologi sedemikian cepatnya, sering juga disebut dengan istilah "industri 4.0" masa dimana kita hidup sekarang ini.

Istilah politik sudah di perbincangkan, yang kemudian berujung pada satu kesimpulan bahwa definisi politik adalah "Seni dalam memperoleh kekuasaan". Entah diperoleh dengan cara-cara jujur dan sportif atau bahkan kekuasaan itu dia peroleh dengan cara-cara yang manipulatif yang penuh dengan kecurangan, itulah makna politik dalam paradigma pertama yakni paradigma konvensional.

Selanjutnya bagaimana bedanya Politik dalam paradigma islam yang di jelaskan langsung oleh para ulama-ulama klasik sampai kontemporer khususnya yang bergerak sebagai seorang politisi mendefinisikan politik sebagai "Riayah Su'unil Ummah", (mengatur urusan rakyat).

Dari definisinya saja kita sudah memiliki gambaran betapa kontrasnya perbedaan antara keduanya, belum lagi penerapan praktisnya tentu akan memperjelas perbedaannya.

Sebagaimana dalam definisi diatas, politik adalah aktivitas pengaturan urusan rakyat oleh seorang penguasa, terdapat dua kategori turunan:

Pertama, Politik Dalam negeri: proses mengatur segala jenis aktivitas masyarakat baik di tempat publik maupun private, interaksi-interaksi sosial yang berkaitan dengan muamalah (jual beli, Sewa menyewa, ketenaga kerjaan dll) di atur dengan syariah islam, sebagai manivestasi riil politik dalam negeri.

Kedua, Politik Luar negeri yang berisi tentang kaifiyah menyebarluaskan atau mensyiarkan ajaran islam ke seluruh dunia dengan metode diplomasi, menawarkan dua pilihan kepada negara-negara lain, menyerah dan tunduk pada negara islam secara damai dan membayar jizyah sebagai kompensasi penjagaan harta, nyawa dan darahnya oleh islam dari gangguan dan ancaman musuhnya.

Dan opsional kedua, apabila tidak mau tunduk setelah sebelumnya di dakwahi secara baik-baik, maka langkah selanjutnya yang dilakukan oleh negara islam adalah memerangi mereka. Tapi tetap dalam rambu rambu dan batasan yang telah di tentukan oleh syariah.

yaitu hanya memberi efek jera dan hanya mereka yang menunjukan perlawannya saja, sedangkan yang bersembunyi dalam rumah tak kan di ganggu apalagi dibunuh dan dianggap sebagai bentuk konfirmasi kekalahan.

itulah dua rincian makna dan penerapan dari istilah politik dari dua paradigma yaitu paradigma konvensional yang keluar dari rahim Kapitalisme Dan bagaimana islam memiliki paradigma tersendiri dalam memaknai dan penerapan kongkrit terkait politik.

Pertanyaanya, Paradigma yang mana yang akan kita pilih dan kita jadikan sebagai pandangan hidup "Way of Life". Apakah politik ala Kapitalisme yang menghalalkan segala cara tuk meraih kekuasaan, Ataukah kita memilih paradigma islam, bahwa politik adalah pengaturan urusan umat dengan syariah islam dalam dan luar negeri dengan menerapkan syariah islam dalam Aspek - aspeknya serta dengan Dakwah dan jihad.

Apapun pilihan yang kita ambil, tentunya akan berimbas pada kita sendiri, akan menentukan setiap aktivitas dan perilaku kita yang mencerminkan apa yang menjadi pilihan kita.

Kalau saya sih memilih politik ala islam, bukan atas dasar subyektivitas melainkan dasar obyektivitas makna dan praktek penerapanya.[MO\ia]

Posting Komentar