Oleh : Rahma Asy Syifa 
( Pemerhati Kebijakan Publik )


Mediaoposisi.com- Persekusi etnis Uighur di Xinjing oleh pemerintah China semakin disorot dunia. USA menyatakan bahwa penganiayaan China atas Uighur termasuk terkait penahanan 1 juta etnis Uighur merupakan catatan kelam HAM di abad ini. Sebelumnya dua dokumen bocor dalam dua investigasi: Xinjiang Papers oleh New York Times dan China Cables oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Kedua dokumen resmi pemerintah membuktikan bahwa penahanan massal dilakukan secara sistematis dan terencana.
Selama ini China nampaknya menjadi ancaman tersendiri untuk USA. China mampu mengisolasi Amerika secara ekonomi, mengepung market dunia dan membanjirinya dengan produk China serta berupaya menggeser posisi Amerika. Namun dengan isu Uighur, Amerika berupaya menekan China dengan mengecam perlakuan kejamnya melalui lembaga internasional.

Amerika Serikat bersuara cukup nyaring bersama lebih dari 30 negara lainnya mengecam dugaan sikap represif China terhadap etnis minoritas muslim Uighur di Provinsi Xinjiang. Pernyataan itu disampaikan di sela-sela rapat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Wakil Menteri Luar Negeri AS, John Sullivan, mengatakan PBB dan seluruh negara memiliki tanggung jawab untuk mengangkat isu tertentu, ketika sejumlah korban selamat terus menceritakan kengerian penindasan yang dilakukan sebuah pemerintah di dalam suatu negara (cnnindonesia.com).

Sebaliknya, Arab Saudi, Rusia, dan 35 negara lain telah secara resmi menuliskan surat kepada PBB terkait kebijakan China di wilayah barat Xianjiang. Menurut salinan surat yang dipantau Reuters, surat tersebut mendukung kebijakan Cina yang sama sekali bertolak belakang dengan kritik Barat yang kuat terhadap China soal Xianjiang. Mereka memberikan catatan akan kemajuan penanganan ekstremisme dan radikalisme di China (Republika.co.id).

Hegemoni China atas negeri-negeri Islam disinyalir menjadikan pemimpin dunia tak berkutik. Perjanjian bilateral yang membatasi ruang gerak mereka dalam mengecam tindakan rezim China atas muslim Uighur. Bantuan dalam bentuk hutang yang digelontorkan pada sejumlah negara berkembang membuat China bertahta diatas angin. 

Demikianlah, kaum muslim Uighur saat ini didera penderitaan justru menjadi isu yang seksi untuk ditarik sesuai kepentingan masing-masing. Kaum muslim Uighur akhirnya menjadi bahan perang proxy antara USA dengan China.

Sebenarnya alasan China melakukan hal kejam kepada muslim Uighur bukan hanya sekedar memerangi ekstremisme. Selain itu juga berkenaan dengan faktor ekonomi. Sebagaimana  dilangsir oleh Republika bahwa telah ditemukan ladang gas besar di wilayah Xinjiang, tentunya menjadi aset berharga dalam memenangkan perang dagang dunia. Ladang gas yang diperkirakan menyimpan cadangan 115,3 miliar meter kubik ditemukan di lembah Tarim, Daerah Otonomi Xinjiang. Hal ini disampaikan otoritas China yang mengklaim bahwa pihaknya telah menemukan cadangan gas bumi tersebut.

Diperkirakan ladang gas Tarim selain mengandung 115,3 miliar meter kubik gas alam, juga terdapat 21,66 juta ton kondensat gas. Ladang gas Tarim memasok gas alam ke 15 provinsi/daerah setingkat provinsi di wilayah utara dan timur Cina melalui jaringan pipa gas yang terbentang dari barat ke timur.

Dari sini bisa dipahami bahwa Xinjiang menjadi wilayah yang potensial bagi ambisi China menjadi raksasa ekonomi di kawasan asia. Walaupun notabennya Xinjiang itu wilayah otonomi, tapi China tidak akan melepaskannya. Isu radikalisme maupun ekstremisme dihembuskan sebagai legitimasi dalam hal ini.

Maka China juga melakukan "proxy war" di negara-negara dunia terutama negeri-negeri muslim dan Indonesia masuk di dalam prioritas tersebut. Pendekatan ekonomi melalui pinjaman (hutang) atau investasi China di negeri-negeri muslim menjadi point yang bisa dimainkan untuk menjadikan penguasa negeri tersebut boneka China Komunis. Investasi bisa dipakai sebagai amunisi untuk membungkam pejabat negeri muslim agar tidak mengusik China terkait persoalan Uighur-Xinjiang.

Terlihat jelas bahwa baik USA maupun China tidak pernah menjadikan kepentingan umat Islam sebagai prioritas kebijakannya. Keduanya hanya mengedapankan kepentingan hegemoninya. Kaum muslimin berusaha untuk ditarik ikut bermain dalam pusaran proxy yang mereka jalankan. Hasilnya umat Islam terbelah. Dengan demikian, umat Islam menjadi lemah dan nasibnya tetap berada di dalam cengkeraman penjajahan baik oleh Kapitalisme maupun Komunisme.

Tidak bisa dipungkiri bahwa China mempunyai trauma terhadap Islam dengan ke-Khilafahannya. Kaisar China pada abad ke-8 pernah meminta berunding kepada panglima Islam, Qutaibah bin Muslim. Hal demikian dilakukannya karena Kaisar China merasa tidak akan mampu membendung ekspansi Islam ke wilayahnya. 

Pertimbangannya, dengan berunding, ekspansi Islam tidak akan memasuki wilayahnya. Jejak ketakutan China terhadap Khilafah Islam juga diikuti oleh Lenin dan Stalin. Lenin sangat anti terhadap gerakan Pan Islamisme, yang menurutnya merupakan gelombang Islam melawan kolonialisme dunia Islam.

Namun, ketika khilafah telah tiada, umat Islam di seluruh dunia tak henti-hentinya dirundung duka. Gaza masih membara, sewaktu-waktu bisa terjadi serangan udara. Nasib muslim Rohingya masih terlunta-lunta. Di Kashmir kaum muslimin kian tersingkir, apalagi setelah disahkannya RUU anti Islam oleh pemerintah India. 

Belum lagi di Suriah, deritanya bertambah parah. Akibat kekejaman rezim Syiah nusyairiyah yang dibantu Amerika dan Rusia meluluh-lantakkan wilayah mereka. Sedang Uighur semakin hari semakin berat deraan siksaan permutadan yang harus mereka rasakan.  

Permasalahah Uighur merupakan salah satu potret batapa urgennya perjuangan penerapan islam kaffah dan penegakkan khilafah. Karena jelas, kita tidak mungkin berharap kepada kapitalisme ataupun sosialis-komunisme. Supremasi kekuatan tentara muslim yang tak terkalahkan dengan ruh jihadnya hanya bisa dimobilisasi oleh Khilafah Islamiyah. Khilafah inilah yang akan membebaskan tanah Uighur dari penguasa komunis sebagaimana dilakukan Khalifah Walid bin Abdul Malik.

Umat Islam juga akan mampu mengulang sejarah dalam melindungi perempuan, keluarga, dan anak-anaknya. Sebagaimana dilakukan Rasulullah saw atas yahudi Bani Qainuqa’ yang melecehkan kehormatan seorang muslimah. Juga pembelaan Khalifah Mu’tashim Billah atas kasus senada. Maka perjuangan mengupayakan khilafah merupakan perjuangan utama yang harus kita upayakan. Demi mengembalikan Izzah umat Islam. Wallahu A'lam bi Showab.[mo\fk]

Posting Komentar