Oleh: Hafshah Damayanti, S.Pd

(Pegiat Literasi Umat)
Mediaoposisi.com-Lagi-lagi dedengkot pembenci Khilafah membuat narasi penolakan terhadap upaya kaum muslimin yang ingin menegakkan Khilafah. Narasi tanpa dasar ini dilontarkan untuk melemahkan kesadaran kaum muslimin akan kewajiban menegakkan Khilafah sebagai ajaran Islam yang mulia.

Dilansir dari media NU Online, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menegaskan bahwa meniru sistem pemerintahan Nabi Muhammad Saw haram hukumnya. Ia menegaskan hal itu pada Diskusi Panel Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia-Malaysia di Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (25/1).   Menurut Mahfud, pemerintahan Nabi Muhammad menggunakan sistem legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Semua peran itu berada dalam diri Nabi Muhammad Saw sendiri. Nabi berhak dan boleh memerankan ketiga-tiganya karena dibimbing langsung oleh Allah Swt. 
Menurutnya, saat ini tidak ada satu pun muslim yang mampu memerankan ketiga fungsi kekuasaan sekaligus seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya,  kaum muslimin dilarang mendirikan negara seperti yang didirikan Nabi Muhammad SAW. 
Dia pun menawarkan konsep negara islami yang pemerintah dan masyarakatnya menjalankan nilai-nilai Islam seperti taat hukum, sportif, tepat waktu, anti korupsi dan nilai-nilai Islam lainnya. Menurutnya, negara seperti New Zealand dan Jepang adalah negara yang islami. www.nuonline.or.id(26/1).
Sehingga, saat ini yang penting adalah membangun negara islami dalam bentuk apa saja. Kaum muslimin  Indonesia tak perlu lagi susah payah membentuk negara Islam apalagi khilafah, karena hal itu haram. Begitulah kira-kira kesimpulan Mahfud MD.
Narasi Menko Polhukam ini tidak lah mengherakan, untuk sekian kalinya Mahfud MD mengeluarkan  pernyataan yang melukai perasaan umat Islam di Indonesia. Kali ini bahkan mencederai keimanan seorang muslim. Seringkali pernyataan yang tak berdasar terlontar darinya, seolah mencerminkan kebencian yang mendalam terhadap ajaran Islam, khususnya Khilafah. Sebut saja ujarannya yang mengatakan perda syariah adalah radikal. Pernyataan  menyesatkan ini, sangat disayangkan keluar dari seorang muslim. Terlebih seorang pejabat publik yang seharusnya mampu menjaga ucapannya agar tak menimbulkan kegaduhan yang meresahkan. 
Respon keras pun disampaikan oleh salah satu pengurus MUI. Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat Anton Tabah mengaku heran dengan Mahfud yang tidak jera-jeranya keseleo lidah. Dia pun meminta mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu segera memperbanyak doa. Pernyataan Mahfud MD yang mengharamkan umat Islam mengikuti Nabi dalam mendirikan negara adalah suatu yang vulgar dan meminta Mahfud untuk segera bertaubat. www.rmol.id(26/1).
Inilah buah dari sekulerisasi di dalam kehidupan saat ini. Telah sukses menjadikan umat Islam berpaling dari aturan Allah. Tak ada lagi ketakwaan yang melekat erat  hingga mudah saja ajaran agamanya dihujat. Semakin berani mencela ajaran Islam yang mulia semakin bangga karena aqidah telah tergadai dengan secuil kenikmatan dunia. Sungguh   mengenaskan!
Melarang umat Islam untuk mencontoh Rasulullah SAW dalam menegakkan negara adalah perkataan yang menyimpang dari al-Quran.  Di dalam al-Quran Allah SWT telah menjelaskan dan menetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan terbaik bagi orang beriman. 
(لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِی رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلۡیَوۡمَ ٱلۡـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِیرًا)
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
[Surat Al-Ahzab: 21].
Meski harus dipahami ada beberapa perbuatan yang memang  dikhususkan hanya untuk dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, tidak boleh dilakukan oleh umatnya. Misal ketika Nabi Muhammad SAW dibolehkan  memiliki lebih dari empat istri. 
Namun pelaksanaan hukum-hukum  Islam yang tidak khusus diperuntukkan oleh Nabi, termasuk menegakkan negara harus lah merujuk pada apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Karena sesungguhnya apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW hanya berasal dari wahyu semata dan bukti dari kesempurnaan iman seorang hamba.
"Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."
[Surat An-Najm 3 - 4]
Nabi Muhammad SAW telah melakukan praktik bernegara ketika di Madinah kemudian dilanjutkan oleh para Sahabat Nabi dalam bentuk kekhilafahan yang mengikuti jalan kenabian. Jelas, Khilafah adalah sistem pemerintahan yang baku,  penerus negara Islam yang dicontohkan Rasulullah SAW. Khilafah bukanlah sistem pemerintahan karangan suka-suka para Sahabat Nabi. Kekhilafan jelas dalilnya, baik di dalam al Quran, Hadist maupun ijma' Sahabat. Sehingga menolak  dan menentang Khilafah sama saja dengan menolak dan menentang ajaran Islam, itu berarti menantang Allah dan Rasul-Nya!
Wallahu'alam bi ash Shawwab. [Mo.db]

Posting Komentar