Oleh : Mila Afiah,S.Pd. 
( Praktisi Pendidikan )

Mediaoposisi.com-Muktamar Tafsir Nasional 2020 yang diselenggarakan  Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Universitas Nurul Jadid (Unuja) Probolinggo menghasilkan beberapa rekomendasi. Di antaranya, ratusan peserta muktamar tersebut sepakat untuk mempromosikan moderasi Islam atau Islam moderat, Salah satu pembicara muktamar tersebut, Prof Abdul Mustaqim, mengatakan, untuk menghasilkan tafsir Alquran dan hadits yang mengedepankan moderasi diperlukan adanya sinergitas antar berbagai pihak. 

Menurut hemat saya perlu membangun sinergitas program atau kegiatan yang bisa mempertemukan para akademisi, termasuk tentunya dosen para mubaligh, dai, termasuk kalangan pesantren untuk merumuskan konsep dakwah yang mengacu pada nilai-nilai moderasi,

Sebenarnya islam itu turun sebagai Rahmatan lil aalamiin, artinya rahmat bagi seluruh alam, tentunya islam membawa rahmat untuk seluruh manusia, apa yang berasal dari wahyu baik itu Al quran atau al hadist pasti membawa kebaikan jika seluruh hukum-hukumnya bisa di terapkan dalam kehidupan. Tidak ada satupun hukum syara' yang membuat manusia itu semakin sengsara atau membawa kedholiman. Bahkan syariat islam adalah satu-satunya hukum yang bisa memberikan solusi tuntas atas segala permasalahan kehidupan.

Untuk itu tidak perlu lah kita sebagai muslim menaruh keraguan atas apa-apa yang tertera dalam hukum islam, sehingga banyak dari kita mencari cari tafsir yang sesuai dengan kondisi hari ini, mencari penafsiran yang sesuai dengan keinginan kita, sehingga hukum islam menjadi kabur maknanya, tidak sesuai dengan makna hukum asalnya, insyaAllah muslim yang mempunyai keimanan yang tinggi adalah menerima syariat islam tanpa berat hati, bukan malah mencari pembenaran atas keinginan/nafsu.

mereka dengan mencari tafsir tafsir yang malah berusaha menjauhkan umat islam dengan kemurnian hukum islam itu sendiri. Allah berfirman , “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65).

Umat islam hari ini semakin bimbang karena banyaknya ahli tafsir yang malah membuat buat penafsiran Al quran dan Al hadist dengan mensinkronkan fakta hari ini, menyesuaikan kondisi permasalahan hari ini dengan dalih untuk menjadi jembatan antara kaum fundamentalis dan kaum liberalis. Sebenarnya islam tidak lah mengenal istilah keduanya. Yang ada hanya lah ummatan wahidah, yang bersedia menerapkan seluruh hukum Allah di muka bumi ini, ber islam dengan syamilan wa kamilan, sempurna dan menyeluruh sebagaimana firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah: 208).

Ketika kita masuk islam secara kaaffah maka kita terima semua syariat islam yang ada, tanpa harus mencari pembenaran atas keinginan nafsu kita, sehingga jika tidak sesuai dengan nafsu kita maka akan mencari tafsir tafsir atau penakwilan Al quran dan Al hadist yang jelas menyimpang dari makna yang terkandung dalam syariat islam. 

Semakin banyak ulama yang malah mengajak untuk menyerukan penafsiran yang nyeleneh dari ajaran islam sebenarnya, dengan tujuan memoderatisasi hukum islam sehingga menurut mereka penafsiran yang sesuai dengan keinginan mereka lah yang harus diambil oleh umat, mereka bahkan tidak menyadari islam bukanlah agama kompromi, tidak mengenal percampuran antara haq dan bathil. 

Hal ini malah menjadi monster bagi umat islam untuk kembali kepada islam yang murni, islam yang kaaffah, serta menodai pemikiran umat islam yang telah berabad abad mereka mengenal islam dengan memegang teguh kemurnian Al quran dan hadist . Dengan mengambil jalan tengah makan kita termasuk umat yang tidak jelas arah tujuan hidup kita untuk apa dan akan kemanakah kita kembali.

Wallahu'alam bishowab [MO/s]

Posting Komentar