Oleh : Diana Bunda Marwa Salma
Mediaoposisi.com-Bermula dari legitimasi perkawinan sejenis yang disahkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat, menjadi jembatan legitimasi pernikahan sejenis di banyak tempat lainnya di dunia Barat. Tercorengnya nama Indonesia karena ‘prestasi’ buruk yang ditorehkan anak bangsa di Inggris membuat sejumlah pihak  bersuara untuk mencegah bahaya LGBT yang mewabah. Beberapa kebijakan dibuat agar kembali memperkuat pendidikan keluarga sebagai pencegah perilaku LGBT.

Kasus Reynhard Sinaga menggemparkan publik, tidak hanya Inggris dan Indonesia tetapi juga dunia. Reynhard Sinaga disebut-sebut sebagai predator seks terbesar dalam sejarah Inggris ("most prolific rapist in British legal history").

Berdasarkan Putusan Pengadilan Manchester, Reynhard terbukti bersalah melakukan kejahatan seksual terhadap 48 pria berbeda selama kurun waktu 2015-2017.  Polisi bahkan menyebut Reynhard telah mencabuli kurang lebih 195 pria muda yang tidak sadarkan diri dengan modus pemberian obat bius GHB (gamma-hydroxybutyric acid), hanya saya identitasnya beberapa pria tersebut belum diketahui. Naudzubillah.

Kehidupan serba liberal alias serba bebas yang sekarang berkembang, menggiring manusia untuk memuaskan nafsunya dengan sebebas bebasnya, hingga maksiat dianggap biasa dan LGBT pun dianggap lumrah dan hal yang bisa diterima. Fenomena gay dalam abad kapitalis, sekuler, seakan bukan sesuatu yang aneh, bahkan semakin besar jumlah pelakunya. Sungguh mengerikan.

Memperkuat ketahanan keluarga bukan solusi yang dapat menyelesaikan persoalan LGBT. Karena ini merupakan masalah yang sistemis, apalagi didukung gerakan global yang terus mengampanyekannya. Selama sistem demokrasi kapitalisme yang dipertahankan menjadi sebuah sistem negaranya, mustahil dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan baik guna penyembuhan bagi kaum pelangi.

Syariat Islam mengharuskan negara untuk menanamkan akidah Islam dan membangun ketakwaan pada diri rakyat. Hal itu ditempuh melalui semua sistem, terutama sistem pendidikan baik formal maupun nonformal melalui beragam institusi, saluran, dan sarana. Sehingga rakyat bisa menyaring informasi, pemikiran, dan budaya yang merusak termasuk LGBT. Penanaman keimanan dan ketakwaan juga akan membuat masyarakat tidak didominasi sikap hedonis, mengutamakan kepuasan hawa nafsu. 

Di samping itu, negara juga tidak akan membiarkan penyebaran pornografi dan pornoaksi lewat berbagai media. Sistem Islam pun dengan tegas menghukum pelakunya. Karena seluruh jalan dan celah sudah ditutup rapat, maka mereka yang menyimpang dalam kondisi seperti itu dianggap nekat. Menurut syariat Islam, pelaku homoseksual hukumannya dijatuhkan dari tempat yang tinggi sampai mati, bukan sekadar penjara seumur hidup. 

Rindu semakin menggelora pada sistem Islam, yang mengatur pergaulan dengan sebaik-baiknya. Hingga kecil kemungkinan, kasus Reinard akan terjadi. Sebab dalam Islam, satu kasus pun akan segera di hukum sesuai dengan hukum islam yang akan membuat efek jera dan mencegah orang lain melakukan kejahatan yang sama.[Mo/db]

Posting Komentar