Oleh: Indah Purnama

Mediaoposisi.com- Keberadaan Kapal China di perairan Natuna masih menjadi perhatian public hingga hari ini. Pasalnya belum ada tindakan yang dapat mengatasi kasus tersebut, sehingga kapal China belum beranjak dari laut Natuna.

Sebenarnya bukan baru-baru ini saja perairan Natuna dimasuki oleh kapal-kapal asing, tetapi sudah sejak jatuhnya kursi kekuasaan Soeharto pada tahun 1998. 

Kapal-kapal yang masuk ke perairan Natuna tidak hanya berasal dari China saja, tetapi juga dari Thailand, Vietnam, dll.

Hasil laut yang melimpah membuat setiap negara tergiur melihatnya. Bahkan potensi ikan yang ada di Natuna sekitar 1 juta ton per tahun.

Tidak hanya itu, perairan Natuna juga kaya akan mineral, gas bumi dan menjadi salah satu lokasi yang kaya lantaran menjadi tulang punggung dari infrastruktur.

Pantas saja China tidak mau beranjak dari Natuna melihat potensinya yang sangat besar bagi perekonomian.

Meskipun demikian, pemerintah lebih memilih jalur diplomasi dalam mengatasi kasus ini, tidak ada sikap tegas malah “Lembek” kepada Asing. Bahkan Prawobo mengatakan bahwa China adalah negara sahabat.

Padahal jelas-jelas china hanya ingin meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya dan merampok kekayaan alam Indonesia.

Sikap pemerintah kepada Asing berbanding terbalik dengan rakyatnya sendiri. Seolah-olah rakyat adalah lawan bagi pemerintah. Apalagi jika mereka yang menyeruakan islam. Tidak ada kata diplomsi, dalam hitungan jam kasusnya akan dilaporkan.

Begitukah sikap seharusnya? Lembek kepada asing tapi keras kepada rakyat sendiri. Negara seharusnya melindungi rakyat dan seisinya, baik itu alam dan kekayaanya dari Asing. Bukan malah menjualnya kepada Asing.

Dalam islam negara berkewajiban untuk melindungi rakyat dan menjamin kesejahteraan rakyat. Tidak hanya itu, negaralah yang mengelola kekayaan alam yang nantinya akan digunakan untuk mensejahterakan rakyat. [MO/ip]

Posting Komentar