Oleh: Rini Andriani 
(Lingkar Studi perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-Ditengah kado pahit yang di terima rakyat dimana semua tarif naik, muncul fenomena menggelitik yang patut dicermati. Dalam pekan yg berdekatan muncul kerajaan-kerajaan baru yang mengeklaim bahwa seluruh dunia bagian dari wilayahnya, yaitu fenomena kerajaan Agung Sejagat dan Sunda Empire (Empire-Earth). Anehnya pengikut dari keduanya juga tidak sedikit. Mereka berhasil menghimpun ratusan orang untuk menjadi pengikutnya.

Dari alasan-alasan yang dikemukakan para pemimpin dari kerajaan tersebut sungguh nyata alasan yang irasional. Apalagi sudah terbukti pada tanggal 14 Januari sang raja dan sang ratu Kerajaan Agung Sejagat sudah di tangkap pihak kepolisian yg memang terbukti bahwa kerajaannya adalah fiktif. Artinya visi misi yang diusung pun juga fiktif.

Kira-kira apa yang membuat begitu banyaknya masyarakat yang sudah bergabung di dalamnya? Adakah motif-motif tertentu yang menjadi pendorong masuknya masyarakat untuk menjadi bagian dari anggotanya?

Jika dilihat dari kaca mata ekonomi, fenomena yang terjadi ini menunjukkan adanya masyarakat yang frustasi. Karena kerajaan ini menawarkan harapan-harapan baru di tengah kondisi ekonomi yang lesu. 

Ketika ada seseorang datang dan mengaku-ngaku raja, kemudian menawarkan dana Bank Dunia dan mimpi-mimpi yang fiktif langsung saja ada yang percaya untuk menjadi pengikutnya. Itu tanda-tanda irrational behavior di masyarakat. Kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance.

Dari sini kita bisa mencermati bahwa masyarakat mulai jumud dengan penawaran-penawaran atau solusi praktis ala kapitalisme yang diberikan penguasa atas permasalahannya. Bisa dilihat bahwa pengikut-pengikut kerajaan fiktif ini sebagian besar adalah kalangan grassroot yang berpendidikan rendah. Iming-iming apa pun yang ada di depan mereka dan mampu mengubah kehidupan mereka menjadi angin segar bagi mereka.

Ini jugalah yang kemudian menjadikan pemerintah memandang mereka sebelah mata dalam hal membuat kebijaksanaan. Dalam hal keadilan, siapa yang tidak tahu hukum tajam kebawah tumpul keatas. Dalam hal sosial, masyarakat pun dipaksa untuk memelihara/meriayah diri mereka sendiri. 

Semua penanganan kesehatan diarahkan ke swasta, penanganan listrik, air, bahkan makanan pun diarahkan ke swasta karena pemerintah lebih suka meng-import sekalipun negeri ini masih mampu memproduksi sendiri. Tabung melon, listrik, dan bahan bakar lainnya tak lagi bersubsidi.

Janji-janji manis ala pemimpin kapitalis, hanya jadi bualan. Rakyat dirangkul saat dibutuhkan untuk menggiring calon pemimpin kapitalis di singgasana kekuasaan. Setelah itu, rakyat juga yang dicampakkan. Alih-alih kebijakan pro rakyat, nyatanya kebijakan yang ada pro asing.

Inilah yang membuat rakyat kecil kehilangan akal, mereka memutar otak bagaimana caranya bisa sejahtera dibawa kebijakan-kebijakan pro asing. Apa pun mereka lakukan untuk membahagiakan, mensejahterakan diri mereka. Tak pelak iming-iming fiktif pun diambilnya.

Buah kapitalis hanya membuat rakyat sengsara. Kekecewaan, kemarahan, kesedihan yang rakyat pendam tidak bisa diakomodir. Sehingga terlampiaskan pada fenomena-fenomena yg tidak bisa dinalar. Moral apalagi rasa beragama sudah hilang, tak ada lagi standar halal-haram.

Berbeda bagaimana Islam mensejahterakan rakyatnya pada masa kejayaan. Sang Kholifah Ali bahkan memanggul sendiri gandum dan mendistribusikan sendiri.

Seharusnya ini menjadi tamparan besar bagi penguasa. Saatnya penguasa sadar, mau mengubah minda mereka untuk merealisasikan janji-janji yang pernah terlontar, janji-janji yang menjadi harapan besar bagi rakyat untuk kesejahteraan hidup mereka. Semua janji itu tidak akan terlaksana jika kapitalisme masih bercokol di negeri ini. Hanya penerapan Islam kaffah melalui institusi khilafah lah yang dapat memberikan solusi tepat dan tuntas bagi setiap permasalahan manusia. [MO/ia]

Posting Komentar