Oleh : Dwi Rahmawati Djohan

Mediaoposisi.com-PT Asuransi Jiwasraya adalah BUMN yang bergerak di bidang asuransi. Berdiri sejak tanggal 31 Desember 1859 dengan nama Nederlandsch Indiesche Levensuerzekesingen Liffrente Maatschappij van 1859 . Lalu pada tahun 1958 berubah nama menjadi PT Perusahaan Peetanggungan Djiwa Sedjahtera. Lalu tahun 1961 berubah lagi menjadi Perusahaan Negara Asuransi Djiwa Eka Sedjahtera.

4 (empat) tahun kemudian tepat tanggal 1 Januari 1965 diubah menjadi Perusahaan Negara Asuransi Djiwa Djasa Sedjahtera. Setshun kemudian pada tanggal 1 Januari 1966 dilebur dan berganti nama Perusahaan Negara Asuransi Djiwasraya dimana sudah dikuasai oleh negara. Itulah lika-liku perjalanan perubahan nama dari sebuah perusahaan besar asuransi bernama PT Asuransi Jiwasraya. Harapan besar ada pada Jiwasraya di benak para nasabah. Saat mereka butuh dana kesehatan di saat dompet lagi tipis maka Jiwasraya akan hadir sebagai Pahlawan 

Adapun prestasi terbesar Jiwasraya dibandingkan asuransi di Indonesia yang lain adalah saat menjadi sponsorship selama 4 (empat) tahun dengan salah satu klub papan atas Liga Inggris, Manchester City, pada tahun 2014 silam. Sedang total biaya sponsorship tersebut ditaksir Rp 38 milliar. Nilai kontrak yang fantastik di tengan hutang yang melilit Indonesia.
Menjelang akhir tahun 2019, berita tidak menyenangkan. Sang Pahlawan Asuransi sedang sakit. Jiwasraya mengumumkan tidak bisa nembayar klaim jatuh tempo produk JS Saving Plan sejak Oktober 2018 lalu. Nilai tunggakannya mencapai  Rp 802 miliar. Dirur Jiwasraya, Hexana Tri Sasongko, menyatakan perusahaan sedang mengalami persoalan likuiditas. Ekuitas Perusahaan minus Rp 10,24 triliun dan merugi hingga 15,83 triliun. Woow…. Nilai kerugian yang fantastik dengan jumlah nasabah yang besar.
Fenomena finansial perusahaan asuransi semacam Jiwasraya seperti itu, tidaklah mengagetkan. Mengingat arus perputaran penggunaan uang nasabahnya dengan sistem kapitalistik. Dimana uang diputar untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya. Entah diputar untuk pinjaman ke sektor riil yang lain, atau pembelian saham-saham yang dinilai menguntungkan, atau bisa jadi malah dijadikan talangan untuk proyek pribadi para pembesar perusahaan. Hingga akhirnya entah kemana uang tersebut tersebar tanpa ada secercah keuntungan yang ada. Bukankah amburadul sistem tersebut ???
Kembali Islam menawarkan sistem / aturan yang telah Allah tetapkan. Mengatur perekonomian negara yang mencakup hajat orang banyak dengan Islam. Tidak berpihak pada penguasa, lebih fokus penyelesaian masalah yang ada dan pastinya untuk menjemput ridlo Allah. Kemaslahatan didapat, kesejahteraan pun diraih. In sya Allah. Wallahu a’lam [Mo/db]

Posting Komentar