Oleh : Zulfa Rasyida

(Aktivis Dakwah, Mahasiswi, Pemerhati Sosial)
Mediaoposisi.com-Wanita adalah makhluk dengan sejuta keistimewaan. Ketika menjadi anak ia adalah penyejuk hati orangtuanya, ketika menjadi istri ia penyempurna agama suaminya, dan ketika menjadi ibu surga berada di bawah telapak kakinya.

Menjadi seorang wanita pada umumnya dan menjadi wanita muslimah pada khususnya, tentu menjadi suatu kehormatan yang wajib dijaga. Menjadi pribadi yang santun tidaklah cukup untuk menjadi tameng penghalang kejahatan baginya.
Di era yang semakin canggih ini, kejahatan dan pelecehan terhadap wanita semakin canggih pula. Tidak hanya di dunia nyata tetapi sudah merambah ke dunia maya yang seluruh dunia mampu mengaksesnya.
Tanpa sebuah aturan yang melahirkan hukum tegas untuk melindungi harkat dan martabat wanita, tentu nilainya akan semakin murah. Bukankah kemajuan suatu negara tergantung bagaimana negara itu memperlakukan wanitanya?
TEMPO.CO, Jakarta - Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab.
Salah satu tokoh wanita di negara yang penuh kontroversi ini, menyoal kewajiban jilbab bagi muslimah. Menurutnya wanita muslimah tidak wajib memakai jilbab. Benarkah demikian?
Inayah Wulandari Wahid, putri Presiden RI ke-4 sepakat dengan ibunya dan mengaku heran terhadap justifikasi bagi wanita muslimah yang tidak memakai hijab itu lantaran belum mendapatkan hidayah.
"Padahal, istri-istri ulama terdahulu (Nyai) atau istri pendiri Nahdlatul Ulama (NU) memakai kerudung. Bahkan, pejuang perempuan RA Kartini pun tidak berhijab. Makanya, apakah mereka juga disebut belum mendapatkan hidayah?", ucap Inayah pada saat acara bersama Dedy Corbuzier, dilansir oleh Viva.co.id.
Tapi, Inayah sampai hari ini tidak mau menjawab kenapa memilih tidak memakai hijab karena mereka tidak memberikan ruang untuk diskusi. Padahal, alasannya bukan karena belum mendapatkan hidayah, sehingga tak pakai hijab.
Dalih karena di-bully  dan lain sebagainya, menjadi salah satu alasan kenapa keluarga pendiri NU ini tidak berjilbab. Pantaskah demikian?
Kedudukan Wanita dalam Islam
Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim.
Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal.
Kedudukan ibu terhadap anak-anaknya lebih didahulukan daripada kedudukan seorang ayah. Terdapat beberapa ayat dalam Al-Qur'an dan beberapa hadits yang berisi mengenai kewajiban berbakti kepada kedua orangtua.
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata,
“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku baik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.”  Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?”  Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?”  Nabi menjawab, “Ibumu.”  Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?”  Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw menyebutkan ibu sebanyak tiga kali sebagai orang yang wajib untuk kita berbuat baik padanya. Tentu ini adalah suatu keistimewaan bagi seorang wanita terutama seorang ibu yang perjuangannya tiada lelah.
Kedudukan istri dan pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa seseorang (suami) juga telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21)
Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan pengertian firman Allah: “mawaddah wa rahmah” bahwa mawaddah adalah rasa cinta, dan rahmah adalah rasa kasih sayang. Rasa cinta dan kasih sayang ini menjadi warna yang wajib ada dalam kehidupan, baik dalam keluarga hingga tatanan negara.
Kita bisa melihat teladan yang baik dalam masalah ini dari Khadijah, istri Rasulullah saw, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah saw ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di goa Hira’.
Kita juga mampu melihat teladan ini dengan peran ‘Aisyah. Banyak para sahabat, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, menerima hadits darinya berkenaan dengan hukum-hukum agama.
Kita juga perlu mengetahui sebuah kisah yang terjadi belum lama ini berkenaan dengan istri Imam Muhammad bin Su’ud, raja pertama kerajaan Arab Saudi. Dapat kita ketahui bahwa istri beliau menasehati suaminya yang seorang raja itu untuk menerima dakwah Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab.
Begitu besarnya peran wanita hingga ada pepatah yang mengatakan, "Ada wanita tangguh dibalik pria yang sukses" .
Bagaimana Islam Menjaga Wanita?
Banyaknya keistimewaan yang dimiliki oleh wanita ini tentu wajib menjadi perhatian. Salah satunya adalah dengan aturan yang melindungi mereka.
Peraturan yang melahirkan suatu hukum baku dan sanksi yang membuat jera para pembangkangnya. Aturan yang lahir dari sebuah ideologi, bersifat fundamentalis, dan sesuai dengan fitrah manusia.
Islam sebagai satu-satunya agama sekaligus ideologi yang memiliki aturan dari Allah SWT, tentu mampu menyelesaikan berbagai macam problematika kehidupan masyarakat. Melindungi kehormatan wanita juga termasuk di dalamnya.
Wanita muslimah diwajibkan menutup auratnya, tidak merendahkan suaranya ketika berbicara, menundukkan pandangannya, menjaga kemaluannya, serta tidak bertabarruj. Kewajiban menutup aurat ini jelas terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya,
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Jilbab disini bermakna baju kurung seperti terowongan. Tidak berpotongan, tidak tipis, tidak transparan, dan tidak membentuk lekuk tubuh.
Serta dalam surat An-Nuur ayat 31,
"...Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya..."
Kerudung adalah kain yang menutupi bagian kepala hingga menutupi dada. Bukan dililit hingga nampak bagian dada dari seorang wanita tersebut.
Dari kedua dalil diatas, jelas bahwa menutup aurat, dalam konteks ini memakai jilbab dan kerudung adalah sebuah perintah. Perintah dari Allah SWT adalah sebuah kewajiban yang apabila dilaksanakan mendapat pahala dan tidak diamalkan akan mendapat dosa.
Sesimpel itu Islam melindungi kehormatan dan memberi keistimewaan bagi makhluk yang spesial ini. Tidak perlu ribet dengan RUU PKS, penyetaraan gender, dan lain sebagainya yang hanya akan menimbulkan problem baru dalam masyarakat.
"Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Hidayah Untuk Semua Manusia
"Kan belum dapet hidayah". Perlu diperhatikan, hidayah itu terbagi menjadi tiga. Hidayah khalqiyah, hidayah irsyad wal bayan, dan hidayah taufiq.
Hidayah khalqiyah adalah hidayah yang dimiliki seluruh manusia di muka bumi, sebagai pembeda dengan makhluk hidup lainnya, yakni akal. Dengan akalnya, manusia mampu berfikir sebelum bertindak, dan mampu memikirkan untuk apa ia diciptakan di dunia ini.
Hidayah irsyad wal bayan adalah hidayah diutusnya Rasul dan diturunkannya Al-Qur'an. Setiap kaum oleh Allah diturunkan kepada mereka masing-masing seorang Rasul pembawa risalah untuk mengatur kehidupan manusia.
Hidayah taufiq adalah hidayah tambahan yang Allah berikan kepada kaum muslimin sebagai bukti cinta-Nya dan ini adalah hak Allah semata.
Hidaya pertama dan kedua dimiliki oleh semua manusia. Baik dia muslim maupun non-muslim. Sejak ia lahir, hingga ajal menjemput.
Jelas bahwa tidak berjilbab dan tidak berkerudung dengan dalih belum mendapatkan hidayah adalah kebohongan semata. Sebab semua manusia diberi potensi yang sama yakni akal dan diutusnya Rasul serta diturunkannya Al-Qur'an.
So, mau berdalih apa lagi?
Berjilbab itu adalah sebuah kewajiban. Bukti ketaatan seorang muslimah kepada Allah SWT. Bukan sebab ia ingin dipuji, untuk mencari suami, atau mendapat job pekerjaan yang menjanjikan.
Tapi muslimah berjilbab dan berkerudung hanyalah sebab ia taat pada Rabbnya.
wallahua'lam bish-shawab.[Mo;db]

Posting Komentar