Oleh: Novita Sari Gunawan
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-Dunia dihebohkan oleh virus corona yang tengah melanda Negeri Panda. Menariknya, virus ini mewabah kala China yang kini menduduki posisi sebagai kekuatan ekonomi ke dua sedang mengembangkan industri farmasi dan industri kesehatannya. Wisatawan yang berkunjung ke China tentu tak lupa menyaksikan keunggulan pendekatan medis China termasuk dengan herbalnya.

Virus corona menghantam ekonomi China yang sedang dalam mode mengelola (manage) untuk mencoba mengimbangi dampak perang dagang. Tentunya hal ini akan semakin tidak menguntungkan bagi China. Di sisi lain, isu ini menguntungkan bagi AS. Di saat virus ini menghantam perekonomian China. Sementara, dolar AS tetap terangkat naik.

Virus corona telah mengguncang pasar China, dan mengacaukan rencana liburan Tahun Baru Imlek, musim migrasi manusia tahunan terbesar. Direktur Riset Pasar China Rhodium Group Logan Wright mengatakan apabila persoalan virus corona gagal diatasi dengan cepat, maka ekonomi China bakal semakin terpukul.

Menyimak sepak terjangnya dalam percaturan politik global, China sedang mencari kedudukannya di matahari. Bahkan China meyakini bahwa suatu saat akan merebut posisi sebenarnya sebagai matahari dari AS yang saat ini tengah menjadi raksasa penguasa peradaban dunia.

Dimana China telah lama menghadapi krisis legitimasi. Bernostalgia pada kondisi China, mulai dari Perang Opium hingga jatuhnya kaisar Qing terakhir pada tahun 1911. Namun China tak tinggal diam, ia terus berupaya menuju kelahirannya kembali.

Hingga China kita saksikan telah sedikit demi sedikit menuai apa yang telah ditanam. Transformasi China yang dilakukan Xi menjadi negara berteknologi tinggi dan pertumbuhan ekonominya yang pesat nyatanya dapat mempercepat krisis ini.

Terendus kabar bahwa virus ini akibat bocornya senjata kimia produksi laboratorium di Wuhan karena rendahnya kualitas disiplin kesehatan dan keselamatan lingkungan (health, safety, and enviromentals) China. Walau fakta ini perlu pembuktian lebih mendalam.  Jika benar adanya, maka laboratorium di Wuhan itu sendiri  menjadi bukti bahwa China sedang menyiapkan serta mengakumulasi segenap kekuatannya atas mimpi besarnya itu.

Xi Jinping pernah tampil percaya diri. Dengan lantang mengatakan bahwa China mempunyai tongkat penggebuk yang besar. Tak suatu negara pun yang mampu menghalangi tujuan China menjadi negara adidaya di panggung global (global superpower). Impian itu dinyatakan akan terwujud pada 2049 dalam peringatan 100 tahun RRC.

Dalam lingkup baku hantam antara AS versus China, masyarakat dunia diajak masuk dalam perang dagang dan perang teknologi informasi (Huawei 5G). China dan sekutunya bermaksud menyingkirkan penggunaan dolar AS pada 2015. Dalam rangka strategi meminimalkan peran Bank Dunia dan ASEAN Development Bank. Lalu menggantinya dengan New Development Bank dan Asean Infrastructure Investmet Bank. Kemudian perang uang digitial (digital currency) termasuk perang penggunaan Electric Vehicle.

Bagi AS, pendaratan luar angkasa China di bulan dalam posisi terjauh, disergapnya drone AS oleh China di Laut Cina Selatan, yang sedang melakukan kegiatan intelegen tanpa awak, dan kuatnya kepercayaan diri China karena ketergantungan Barat pada mineral rare earth (bahan penting untuk industri teknologi, militer, dan lainnya) Menunjukkan kuatnya perlawanan atas tekanan Presiden AS ke 45, Donald Trump.

China pun mengembangkan kemampuannya dengan cepat, mengubah keseimbangan kekuasaan di Asia menjadi keuntungannya. Institute for International Strategic Studies memperkirakan bahwa, sejak tahun 2014, Angkatan Laut Pembebasan Rakyat telah “meluncurkan lebih banyak kapal selam, kapal perang, serta kapal amfibi utama dan kapal auxiliary dari jumlah total kapal yang saat ini melayani di angkatan laut Jerman, India, Spanyol, Taiwan, dan Inggris Raya.

Program pembuatan kapal China telah melampaui AS. China juga menghabiskan banyak uang untuk teknologi terobosan baru seperti kecerdasan buatan, hipersonik, dan robot yang dapat memanfaatkan sifat peperangan demi keuntungannya. Ditambah inisiatif geoekonomi China yang terlihat dalam inisiatif andalan Xi, One Belt One Road (OBOR). AS yang selalu berusaha untuk unggul kini tengah ketar-ketir karena tidak mengizinkan untuk China menyalipnya. Serta kelabakan menjauhkan tampilnya China sebagai global superpower.

Sekelumit pertarungan kubu Kapitalisme Barat dan kubu Kapitalisme Timur tersebut menampakkan tabiat kapitalisme yang serakah. Pertarungan yang terjadi akibat arogansi untuk menjadi penguasa dunia. Logikanya apabila ada yang berkuasa, maka akan ada yang dikuasai. Dan fakta di balik kedigdayaan AS dan China, tersimpan penderitaan bagi negara-negara jajahannya.

Mereka tak segan melakukan upaya intervensi, dikte politik dan ekonomi bahkan perampokan kekayaan alam di negeri-negeri yang melimpah ruah SDA nya. Berbagai upaya akan terus dilakukan demi mengukuhkan eksistensi dan melindungi kepentingannya. Perang makar, konspirasi, skenario politik, memanfaatkan isu dan sebagainya menjadi hal yang lumrah. Seperti pada kasus isu Corona ini yang dimanfaatkan AS untuk membangun opini dalam mematikan lawannya. [MOsr]

Posting Komentar