Oleh : Khadijah
(Founder Pena Muslimah Cilacap dan Aktifis Remaja Cilacap)


Mediaoposisi.com- Musibah banjir masih menghantui negeri. Banjir yang melanda sejumlah wilayah seperti Jabotabek, Jabodetabek dan sejumlah wilayah diluar pulau Jawa seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat hujan turun terus-menerus sejak malam pergantian tahun baru sampai hari ini. Ada 63 titik banjir yang menyebar di kawasan Jakarta, menurut BMKG hujan turun di malam tahun baru kali ini paling extrim dalam kurung waktu 24 tahun terakhir.Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) merilis data terbaru sampai dengan Kamis (2/1) pukul 21.00 WIB jumlah korban meninggal akibat banjir di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) sebanyak 30 orang.

Rincian korban meninggal terbanyak berada di Kabupaten Bogor 11 orang, kemudian Jakarta Timur 7 orang, Kota Bekasi dan Kota Depok masing-masing 3 orang, dan masing-masing 1 orang untuk Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Kabupaten Bekasi, Kota Bogor dan Kota Tangerang. Akibat banjir yang tak kunjung surut membuat lumpuh aktifitas di sejumlah kota. Bukan hanya itu, sedikitnya 150 rumah rusak di Bandung, 11 rumah rusak dari 6 Kecamatan di Karawang. Temuan angka tersebut merupakan angka yang tercatat, sementara hujan yang terus-menerus diprediksi akan menambah jumlah kerusakan dan korban.

Dengan hadirnya musibah ini, mencuat beberapa pertanyaan mengapa banjir terus melanda berbagai wilayah di Indonesian. Jawabanya pun beragam sesuai dengan kemampuan yang diindera. Mulai dari kesalahan tata ruang, buruknya drainase sampai pada takdir (ketetapan) tuhan. Jawaban akan pertanyaan-pertanyaan tersebut tidaklah salah, namun jika masyarakat berfikir lebih jeli maka akan didapati problem yang saling bersinambungan antara jawaban satu dengan lainya karena merupakan kesalahan yang kolektif. Mari kita detaili satu persatu.

Musibah banjir yang melanda memang merupakan takdir. Namun juga dipengaruhi oleh kesalahan manusia seperti kesalahn tata ruang menjadi salah satu penyebab musibah banjir seperti pengalih fungsian rawa, laut dan drainase menjadi pemukiman membuat air tak memiliki tempat, sehingga ketika musim hujan tiba air menggenangi kota. Pembangunan properti yang jor-joran tanpa melihat fungsi tanah membuat erosi diberbagai lini. Akibat pembangunan infrastruktur yang digenjot sedemikian rupa, sementara tata ruang masih amburadul membuat air tak mengalir ke tempat yang seharusnya.

Kemiskinan juga menjadi penyebab musibah banjir melanda. Kemiskinan membuat warga dipengaruhi pola kehidupan yang tidak sehat dan tidak menjaga kebersihan seperti membuang sampah sembarangan dan membuat pemukiman dibantaran sungai karena tidak adanya lahan atau mahalnya lahan pemukiman di wilayah ibu kota. Ini berarti terdapat kesalahan kemakmuran dan kesejahteraan sehingga membuat orang berlari dari desa menuju kota, akibatnya kepadatan penduduk tak mampu dibendung.

Tidak salah jika muncul analisa diatas, namun perlu difahami bersama bahwa semua problematika tersebut bermuara pada satu masalah yakni penerapan sistem Demokrasi yang berhaluan Kapitalisme. Sistem Demokrasi Kapitalis yang menjadikan penguasa tunduk terhadap para Kapitalis (pemodal).

Banjir berulang setiap tahun  jelas bukan karena  faktor alam semata. Juga tidak hanya problem teknis (tidak berfungsi drainase, resapan air, kurang kanal dsb) tapi masalah sistemik yang lahir dari berlakunya sistem kapitalistik. Tata kota dan pembangunan infrastruktur diserahkan pada kemauan kaum kapitalis berorientasi memenangkan bisnis dan tidak memperhatikan lingkungan, sementara itu  masih terjadi kemiskinan massal yang mempengaruhi pola kehidupan (perumahan di bantar kali, tidak bisa menjaga kebersihan lingkungan dst).

Penyelesaian tidak cukup hanya perbaikan teknis tapi harus menyentuh perubahan ideologis. Dengan menyadari system kapitalistik mufsiduna fil ardh (hanya membuat kerusakan). Momentum banjir harus menjadi pengingat agar dilakukan taubat nasional, mengubah pola hidup dan membuang pandangan hidup kapitalisme serta mengadopsi Islam.

Jauh sebelum dunia barat mengenal tata kelola ruang dan infrastruktur, dunia Islam telah lebih dulu mengenalkanya. Tata kelola ruang merupakan buah dari tata kelola negara. Kebebasan-kebebasan yang ditawarkan barat telah terbukti melahirkan kerusakan karena bermuara pada satu titik focus yakni materi  (uang). Tata negara dalam Islam merupakan  amalan praktis sebagai bukti negara yang serius dan bertanggung jawab atas urusan rakyatnya. Dibuktikan dalam sejarah keemasanya. Disebut sebagai kota yang terencana. Seribu tahun lalu tidak banyak kota besar di dunia dengan penduduk diatas 100.000 jiwa. Menurut sejahrawan perkotaan Modelski maupun Chandler, Baghdad dan Irak memegang rekor kota terbesar di dunia dari abad 8 M sampai abad 13 M. Penduduk Baghdad pada tahun 1000 M ditaksir sudah 1.500.000 jiwa. Peringkat kedua diduduki oleh Cordoba di Spanyol yang saat itu juga wilayah Islam dengan 500.000 jiwa dan baru Konstantinopel yang saat itu masih Ibu Kota Romawi-Bizantyum dengan 300.000 jiwa.

Meskipun demikian, kota Islam merupakan kita yang terencana, tertata rapi, jalanan yang bersih, sistem drainase dan sanitasi saluran najis serta jalan-jalan diberikan penerangan di malam hari. Modal dasar tersebut tentu tidak efektif tanpa perencanaan yang luar biasa. Semua itu dilakukan atas dorongan keimanan  sehingga membuahkan hasil yang luar biasa kemajuanya. Pada masa itu, kota-kota di wilayah kekuasaan Islam masuk dalam kategori  World Class City  (Kota kelas dunia), tanpa tanpa meninggalkan masalah kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. 

Demikianlah ketika akar pohon Khilafah beridiri. Berbeda ketika sistem Demokrasi yang bersumber dari hawa nafsu manusia memimpin dunia, kerusakan dan musibah terus melanda sebagaimana firman Allah ta'ala :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi, dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia. Maka ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah inti “kerusakan” yang sebenarnya dan merupakan sumber utama kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi.

Sedangkan kemaksiyatan akbar yang dilakukan manusia hari ini adalah mencampakan Islam, menggantinya dengan sistem Demokrasi  (menerapkan), sebagaimana telah Allah firmankan.
Allah SWT berfirman:


وَاَ نِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَ ۗ فَاِ نْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ اَنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَـعْضِ ذُنُوْبِهِمْ ۗ وَاِ نَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ لَفٰسِقُوْنَ
wa anihkum bainahum bimaaa anzalallohu wa laa tattabi' ahwaaa`ahum wahzar-hum ay yaftinuuka 'am ba'dhi maaa anzalallohu ilaiik, fa in tawallau fa'lam annamaa yuriidullohu ay yushiibahum biba'dhi zunuubihim, wa inna kasiirom minan-naasi lafaasiquun

"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memerdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 49)

Allah SWT berfirman:

اَفَحُكْمَ الْجَـاهِلِيَّةِ يَـبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّـقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
a fa hukmal-jaahiliyyati yabghuun, wa man ahsanu minallohi hukmal liqoumiy yuuqinuun

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 50)

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar