Oleh : Mira Susanti 
(Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi)

Mediaoposisi.com-Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Perdagangan dan Sucofindo selaku BUMN yang berfokus pada layanan jasa pemeriksaan dan pengawasan perdagangan ekspor impor, melakukan inspeksi mendadak ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (23/1/2020).

Dari hasil sidak tersebut Komisi IV DPR RI menemukan kontainer-kontainer berisi sampah dari luar negeri. Sampah -sampah  tersebut diimpor untuk dijadikan bahan baku daur ulang. Namun dari hasil pemeriksaan ternyata isinya sampah. Sementara  importir berargumentasi itu bahan baku untuk recycle. Menurut peraturan Menteri Perdagangan, bahan baku untuk recycle yang masuk ke Indonesia harus sudah  bersih bukan sampah.

Ternyata sampah tersebut berasal  dari TPA Amerika yang dipress lalu  dimasukkan kontainer. Jadi terbukti bahwa Indonesia telah mengimpor sampah dari luar negeri. Bahkan jumlah kontainer yang berisi sampah impor yang masuk ke Pelabuhan Tanjungpriok sekitar 70 kontainer. Dari total jumlah kontainer  yang masuk  diperkirakan mencapai 1.015 kontainer.

Ini merupakan angka yang sangat  tinggi untuk volume sampah asing. Lalu dimana peran sucofindo yang telah di amanahi untuk memfilter  barang-barang impor yang masuk ke dalam negeri?. Hal ini jelas menunjukan kelalaian dari pihak terkait yang mengurusi keluar masuknya barang di pelabuhan. Sehingga sampah - sampah asing dapat lolos masuk dengan mudahnya.

Ternyata problem utamanya adalah Sucofindo sebagai mitra Kementerian Perdagangan untuk melakukan survei dari sisi barang impor itu justru tidak melakukan pemeriksaan. Sucofindo hanya melakukan pemeriksaan administrasi saja. Wajar saja kondisi tersebut memunculkan kekhawatirkan yang dapat mengancam keamanan negara. Bagaimana tidak, mungkin saja  kontainer- kontainer tersebut berisi bukan sampah bersih, tapi narkoba, limbah beracun atau berupa  senjata. Ini jelas berbahaya.

Memang benar, Indonesia merupakan salah satu target pasar dunia untuk memasarkan produk- produk buatan negara luar. Bukan berarti jenis barang apapun boleh masuk termasuk sampah kotor. Sungguh sangat disayangkan, tindakan ceroboh tersebut bisa fatal akibatnya. Jangan hanya karena ingin mendapatkan keuntungan lalu kita mengabaikan dari sisi keamanan dalam negeri.

Tak bisa dipungkiri juga bahwa hal itu sudah menjadi rahasia umum. Dimana tindakan pelaku kecurangan kerap sekali terjadi. Apalagi menyangkut masalah rupiah semua masalah pasti beres. Meskipun keterbutuhan bahan baku  dalam negeri masih bisa dipenuhi. Namun aktivitas impor dalam negeri terhadap produk impor sungguh sangat mengila. 

Serta  jumlah dan jenisnya beragam seperti garam, beras, gula, kedelai, hingga sampah . Sebagian pihak merasa di untungkan dengan adanya bisnis impor barang tersebut. Lagi - lagi demi  karena rupiah tanpa harus memikirkan kerugian yang akan  diderita oleh rakyat.

Belumkah cukup bagi kita sebagai rakyat merasakan pahitnya diduakan oleh pemimpin sendiri. Mereka lebih perhatian kepada produk impor dibandingkan hasil  produk negerinya sendiri. Disisi lain, Indonesia juga memiliki persoalan pelik  tentang sampah yang tak berkesudahan. 

Jumlahnya sampai mengunung. Apalagi ketika hujan melanda ibu kota,tumpukkan sampah menjadi salah satu penyebab banjir. Hal ini belumlah tuntas bagi negara kita. Apalagi itu harus ditambah dengan impor sampah. Tenggelam sudahlah negeri ini.

Maka solusi persoalan ini seharusnya  pemerintah mulai  untuk mengurangi aktivitas impor itu sendiri. Selama keterbutuhan bahan baku tersebut masih bisa di produksi sendiri. Karena ketergantungan kita pada impor asing membuat rakyat dan negara tidak mandiri. Bahkan mudah dikendalikan oleh asing. 

Oleh sebab itu kita  butuh pada sosok pemimpin yang memiliki jiwa kemandirian dan tidak selalu bergantung pada produk impor. Agar rakyat tak lagi di buat semakin tekor. Semua itu akan terwujud apabila kita menerapkan sistem terbaik yaitu Islam bukan kapitalis sekuler. Karena sistem kapitalis sekuler telah nyata kebobrokannya tak pernah berpihak kepada rakyat kecuali pada pemilik rupiah saja.[MO\ia]

Posting Komentar