Oleh : Nasya berliana
(Mahasiswi, Aktivis dakwah)
  
Mediaoposisi.com-Indonesia merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Hal ini terbukti dengan keadaan tanah Indonesia yang sangat subur. Negara Indonesia memiliki peran penting sebagai produsen bahan pangan di mata dunia. Indonesia adalah produsen beras terbesar ketiga dunia setelah China dan India. Namun hingga saat ini, masalah beras masih menjadi kontroversi yang kian mencuat.

Beras merupakan kebutuhan pokok manusia. Di negara kita, beras biasa di konsumsi setiap hari nya 3 kali. Bahkan masyarakat umum telah mencetuskan bahwa jika selama sehari belum makan nasi, maka apa yang dimakannya selama satu hari tersebut tidak dianggap sebagai makan. Meskipun sudah makan indomie, ayam, tahu , tempe berkilo kilo dalam sehari.

Paradigma tersebut menghasilkan setidaknya tidak kurang dari 2 juta ton harus disediakan setiap tahunnya oleh pemerintah. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pengusaha dan mafia impor untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Sebab dengan impor tersebut, mereka ini tetap hidup dan membeli segala kemewahannya. Bahkan, mengontrol negara dan mendiktenya, ya, sangat kejam dan miris.

Dalam hal Ekspor dan Impor, ternyata Indonesia yang dikenal dengan segala keunggulan dibidang pertanian khususnya dalam hal komoditi beras, masih membeli (Impor) beras dari negara lain. Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), sejak tahun 2000 hingga saat ini, belum pernah Indonesia absen dari yang namanya impor beras. Diketahui Indonesia telah menjalin kerjasama dengan negara penghasil pangan seperti Thailand dan Vietnam.

Pada tahun 2018, Indonesia melakukan impor beras tidak kurang 500rb ton dari Vietnam dan Thailand. Sedangkan periode Februari dan Maret adalah puncak panen padi oleh petani. Belum lagi target pertengahan tahun lalu Bulog, telah menyerap 1,5jt ton dari target nasional 3,7jt ton. Dan kebutuhan masyarakat Indonesia adalah 2,5jt ton. Tentu hal ini sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan nasional. Justru dengan fakta tersebut, seharusnya pemerintah dapat melakukan ekspor beras untuk menjual berasnya yang berlebih ke luar negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras pada 2018 mencapai 32,42 juta ton. Sedangkan konsumsinya sekitar 29,57 juta ton, dengan rata-rata per bulan di kisaran 2,46 juta ton. Selisih antara jumlah beras yang diproduksi dengan jumlah beras yang dikonsumsi menunjukkan bahwa sebenarnya negara kita mengalami surplus sebesar 2,85 juta ton beras.

Sekalipun mengalami surplus, nyatanya pemerintah tetap melakukan impor. Tercatat sejak 2014 sampai 2018, pemerintah selalu melakukan impor beras. Jumlah impor beras pada rentang 2014-2018 secara berturut-turut sebanyak 844 ribu ton, 861 ribu ton, 1,28 juta ton, 305 ribu ton, dan 2,25 juta ton.






Akar masalah

Menteri Perdagangan Enggartiaso Lukita sempat berdalih bahwa keputusan impor demi antisipasi kenaikan harga beras. Pemerintah kala itu menduga stok yang ada kurang memenuhi permintaan pasar. Makanya, rapat koordinasi terbatas di tingkat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memutuskan kuota impor ditambah.

Dalam masalah seperti ini, ada beberapa faktor penyebab kenapa Indonesia masih melakukan impor beras dari luar negri sedangkan kita sama-sama mengetahui bahwa negara kita Indonesia ini termasuk negara yang sangat subur. Dalam konteks pertanian umum, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Diantara nya seperti kelapa sawit, karet, dan coklat produksi Indonesia mulai bergerak menguasai pasar dunia. Namun, dalam konteks produksi pangan memang ada suatu keunikan. Meski menduduki posisi ketiga sebagai negara penghasil pangan di dunia, negara kita ini masih saja berulang kali menghadapai persoalan produksi beras di setiap tahun nya.

Selain itu, Indonesia masih mengimpor komoditas pangan lainnya seperti 45% kebutuhan kedelai dalam negeri, 50% kebutuhan garam dalam negeri, bahkan 70% kebutuhan susu dalam negeri dipenuhi melalui impor.

Faktor yang menjadi pendorong bahan pangan adalah iklim, seperti yang sering terjadi pergeseran musim hujan dan musim kemarau menyebabkan petani kesulitan dalam menetapkan waktu yang tepat untuk mengawali masa tanam, benih besarta pupuk yang digunakan, dan sistem pertanaman yang digunakan. Akhirnya hasil produksi pangan pada waktu itu menurun.

Penyebab selanjutnya yang menjadinya import bahan pangan di Indonesia adalah luas lahan pertanian yang semakin sempit. Dan juga, disebabkan oleh biaya-biaya transportasi Indonesia yang mencapai 34 sen dolar AS per kilometer. Bandingkan dengan negara lain seperti Thailand, China, dan Vietnam yang rata-rata sebesar 22 sen dolar AS per kilometer. Selama pasokan tidak memiliki kepastian yang tetap dan biaya transportasi yang tetap tinggi maka industri produk pangan akan selalu memiliki ketergantungan impor bahan baku.

Di antara faktor faktor yang mendorong tersebut, kegiatan ini diperparah lagi karena adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang semakin menambah ketergantungan kita akan produksi pangan luar negeri. Seperti kebijakan dan praktek privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi.
Lebih besar dari itu, ternyata negara dan rakyat Indonesia tidak lagi punya kedaulatan, yakni kekuatan dalam mengatur produksi, distribusi dan konsumsi di sektor pangan.

Sekarang ini dalam konteks produksi pangan, kita telah tergantung oleh mekanisme pasar yang dikuasai oleh segelintir perusahaan raksasa. Ini dikarenakan Indonesia banyak melakukan perjanjian-perjanjian dengan beberapa negara penghasil bahan pangan. Salah satu nya Thailand, dalam isi perjanjian tersebut Indonesia harus meng-Impor beras dari Thailand.
Tidak memperdulikan bagaimana kondisi beras yang di produksi dalam negeri. Sehingga mengakibatkan beras yang ada di dalam negeri mengalami penumpukkan.

Dalam hal ini islamlah yang dapat menyelesaikan seluruh probelematika yang terjadi, termasuk dalam mengelola seluruh kekayaan yang ada di bumi ini semata-mata hanya untuk kesejahteraan umat. Di dalam negara islam, semua aspek aspek kehidupan akan diatur dan urusin oleh negara seperti aspek sandang, pangan , dan papan umat yang ada didalam daulah.

Seperti pada masa khilafah ummar bin khattab, ketika mengetahui ada rakyatnya yang kehabisan makanan beliau langsung membawa sekarung gandum dan daging untuk diberikan kepada rakyat tersebut.

Maka hal yang sangat kita butuh kan saat ini adalah sistem yang dapat mengatur dan menjamin seluruh aspek kehidupan manusia. Sistem yang dimaksud adalah sistem islam yaitu negara yang menerapkan segala aturan sesuai dengan syari’at berdasarkan Al-Quran dan As sunnah.
Wallahua’lam.

Posting Komentar