Oleh Chusnatul Jannah 
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Mediaoposisi.com-Wabah virus corona menghebohkan dunia. Wabah ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China. Epidemi virus ini merambah ke 13 kota di China dan 41 juta penduduk China dikarantina. Bahkan virus corona sudah tersebar di 13 negara, diantaranya Singapura, Jepang, Taiwan, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, Nepal, Thailand, Hong Kong, Makau, Amerika Serikat, dan Vietnam. Wabah virus corona hingga saat ini sudah menewaskan 80 orang di China dan menginfeksi lebih dari 2.750 secara global. Virus itu diduga berasal dari hewan yang dijual di pasar grosir makanan laut di Wuhan.

Melansir dari kompas.com, 27/1/2020, Sebelum jenis virus corona di Wuhan, ada beberapa jenis virus corona yang pernah menjadi penyebab wabah. Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle Eastern Respiratory Syndrome (MERS) adalah wabah yang pernah terjadi sebelumnya dan disebabkan oleh virus corona yang datang dari hewan. 

Melansir The Guardian, meskipun MERS diyakini ditularkan dari unta, kemungkinan besar inang utama dari kedua virus corona tersebut adalah kelelawar. Oleh karena itu, virus corona di Wuhan pun diduga berasal dari kelelawar atau ular, yang kemudian ditransmisikan ke manusia melalui spesies perantara. Pada tahun 2002, SARS menyebar dengan hampir tidak terkendali ke 37 negara. Kondisi ini menyebabkan ketakutan dunia.

Meski rasio angka kematian rendah, penyebaran virus corona lebih cepat dibanding SARS dan MERS. Karena lebih mudah menular inilah yang menjadi masalah besar. Mantan Komisioner FDA, Scott Gottlieb mengatakan penyebaran yang cepat dari wabah virus corona di China lebih mudah menular, tetapi tidak lebih mematikan daripada epidemi SARS tahun 2003.

Karena cepat terjadi dan penularannya menghebohkan dunia, muncullah berbagai pandangan, analisis, dan spekulasi yang bisa dirangkum dalam poin berikut. Pertama, senjata biologis. Ada dugaan bahwa pandemi virus corona bukan sekadar berasal dari hewan liar. Namun diduga ada kebocoran dari Laboratorium Wuhan. Menurut siaran Radio Free Asia, China memiliki penelitian virus paling maju yang dikenal dengan Wuhan Institute of Virology. Pendapat ini bermula dari pernyataan seorang mantan intelijen Israel, Dany Shoham. Ia mengatakan institut tersebut terkait dengan senjata biologi rahasia Beijing.

Senjata biologi adalah senjata yang menggunakan patogen (bakteri, virus, atau organisme penghasil penyakit lainnya) sebagai alat untuk membunuh, melukao, dan melumpuhkan musuh. Pembuatan dan penyimpanan senjata biologi telah dilarang oleh Konvensi Senjata Biologi 1972 yang ditandatangani oleh lebih dari 100 negara. 

Konvensi Senjata Biologi hanya melarang pembuatan dan penyimpanan senjata biologi, tetapi tidak melarang pemakaiannya. Hal ini menunjukkan setiap negara boleh saja memakai senjata biologis demi kepentingannya. Di masa lalu penggunaan senjata biologis pernah berlaku ketika perang. Semisal anthrax yang pernah membuat AS panik tak karuan.

Apa yang disampaikan Dany Shahom juga tidak serta merta dipercaya 100 persen. Namun, peluang bagi setiap negara menggunakan senjata biologis untuk kepentingan tertentu sangat terbuka lebar. Menyimpan senjata biologis boleh saja dilarang, namun memakainya tidak ada larangan. Logikanya, jika senjata ini dipakai, apakah otomatis langsung tersedia? Tentu saja harus melalui proses penelitian, pengembangan, penyimpanan, dan berakhir pada pemakaian.

Kedua, bisnis vaksin ala kapitalis. Wabah yang cepat merebak tentu menjadi ancaman dunia. Dulu pernah ada wabah SARS, MERS, flu burung (H5n1), dan ebola. Lama-lama wabah ini berkurang. Mengapa? Sebab ada upaya menemukan vaksin dari wabah tersebut. 

Setelah vaksin ditemukan, diproduksi secara luas agar negara-negara yang terdampak wabah segera membelinya. Hal ini pernah terjadi pada Indonesia. Saat wabah flu burung menyebar, Menkes saat itu, Siti Fadilah Supari menghentikan mengirim virus-virusnya ke WHO. 

Diduga ada penyalahgunaan kiriman virus flu burung Indonesia. Virus itu dipindahtangankna lalu dikembangkan oleh perusahaan untuk dibuat vaksinnya. Kemudian vaksin vaksin ini menjadi sangat mahal dan tidak tersedia di negara yang terkena dampak virus, sementara di negara industri yang kaya sibuk menimbun vaksin untuk berjaga jaga saat wabah melanda. Pernyataannya ini kemudian dibukukan dengan judul "It's Time For The World To Change"

Nampaknya corona bernasib sama. Tak butuh waktu lama, perusahaan vaksin dunia ikut ambil peran dalam menanggulangi penularan virus. Seperti dilansir Kompa.com dari MarketWatch, saham perusahaan vaksin Inovio Pharmaceuticals Inc atau INO mengalami lonjakan tajam hingga 10,42 persen pada penutupan perdagangan saham pada Jumat (24/1/2020).

Perusahaan.tersebut telah menerima bantuan hibah hingga 9 juta dollar AS dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Dana hibah tersebut digunakan untuk riset pengembangan vaksin jenis baru untuk virus corona yang berasal dari Wuhan, 2019-nCoV.

Ketiga, kecerdasan jika tidak diimbangi petunjuk wahyu hanya akan menimbulkan kerusakan baru. Virus corona yang merebak dengan cepat di Wuhan adalah coronavirus yang masih satu rumpun dengan SARS dan MERS. Gejala virus ini menyerupai influenza. Berawal dari unggas ke manusia lalu bermutasi dari manusia ke manusia. 

Yang namanya jenis mikroorganisme, kapan dia bermutasi atau berevolusi membentuk jenis virus baru tidak ada yang tahu. Andaikata benar bahwa China sedang membangun proyek senjata biologis dengadengan virus, bukankah sebaran virus corona seperti senjata makan tuan? Maksud hati mengembangkan bioteknologi, malah terdampak wabah yang begitu cepat tersebar. Akibat terlalu rakus, justru China terkena getahnya.

Keempat, kebengisan China bisa dimaknai bahwa wabah corona adalah hukum alam atas mereka. Mengarantina jutaan muslim uyghur, mereka harus merasakan bagaimana rasanya mengarantina puluhan juta  penduduknya sendiri. Belakangan diketahui, salah satu warga uyghur teinfeksi virus corona. Bagai buah simalakama. 

China kelimpungan sendiri menghadapi epidemi makhluk mikroorganisme ini. Seakan ingin memberi pelajaran berharga padanya. Baru satu virus saja sudah membuat kepanikan dahsyat. Terus menahan muslim uyghur di kamp-kamp pengasingan, hanya akan mempercepat penyebaran virus tersebut. Karena lingkungan yang kotor, pengap, dan kurangnya perawatan medis memiliki konsekuensi bencana yang lebih besar. Atau jangan-jangan China membiarkan itu terjadi? Penduduk mati karena wabah. Bukankah hal itu terlihat alamiah? Wallahu a'lam.

Epidemi virus corona, tidak bisa dipandang remeh dan dangkal. Karena besar kemungkinan ada kepentingan ideologis, politis, bisnis, ataupun medis. Semua boleh berspekulasi. Namun, ada apa dibalik semua peristiwa ini haruslah diwaspadai. [MO/s]

Posting Komentar