Oleh: Dayang Sari Ahmad 
(Mahasiswi dan Aktivis Dakwah)

Mediaoposisi.com-Jilbab tidak wajib!”Begitulah statement tegas dari seorang yang beliau itu bukanlah istri Nabi, bukan sahabat Nabi, bukan tetangga Nabi, hidup di zaman Nabi pun tidak. Tetapi berani dengan lantang menolak perintah Allah, menyelisih perkataan Nabi dan pendapat serta kesepakatan para ulama Mu’tabar.

Istri Kyai, begitulah gelar yang beliau sandang, dengan dalih seorang istri Kyai dan mengaku hidup dilingkungan pondok, serta merujuk pada orang terdahulu dan tokoh tertentu, beliau dengan yakin mengatakan bahwasanya jilbab itu tidak wajib bagi Muslimah. Hal ini tentu merupakan upaya pengaburan terhadap syariat Islam, apalagi beliau adalah seorang Istri Kyai yang juga berarti adalah seorang Public Figure, maka pernyataan seperti ini akan menciptakan kegaduhan opini ditengah-tengah masyarakat antara wajib tidaknya seorang Muslimah mengenakan jilbab.

Padahal, terkait dengan hukum penggunaan jilbab atau menutup aurat bagi wanita telah jelas adanya bahwa itu adalah suatu kewajiban, para ulama terdahulu bahkan ke empat Imam Mazhabpun menyepakati wajibnya menutup aurat bagi Muslimah dan tidak ada ikhtilaf didalamnya.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al-Ahzab ayat 59 yang terjemahannya :
Wahai Nabi! Katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan mu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ayat ini turun sebagai perintah kepada Muslimah untuk menutup aurat mereka menggunakan jilbab. Arti jilbab sendiri didalam kamus Al-Muhith adalah Sirdap (terowongan) atau Sinmar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.

Sedangkan mengenai batasan aurat wanita hal ini didasarkan pada hadits Nabi saw. Dari ‘Aisyah ra. Bahwa  Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah saw. Dengan memakai pakaian yang tipis (transparan). Rasulullah saw. Pun berpaling dari dia dan bersabda:

Asma’, sungguh seorang wanita itu, jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini.” Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangan beliau. (HR Abu Dawud)

Berdasarkan hadits ini, Az-Zarqani berkata, “Aurat wanita di depan lelaki Muslim ajnabi (non-mahram) adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan.” (Syarh Mukhtashar Khalil, 176).
Dari sini maka jelas seorang Muslimah wajib menutup auratnya dengan menggunakan jilbab, selain jilbab kaum Muslimah juga wajib mengenakan kerudung (Khimar), khimar sendiri berbeda dengan jilbab, menurut Imam Ali ash-Shabuni khimar atau kerudung adalah penutup kepala hingga mencapai dada agar leher dan dadanya tidak tampak. Kewajiban menggunakan khimar ini didasarkan pada Q.S An-Nur ayat 31 yang terjemahannya :

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya...

Saking wajibnya menutup aurat bagi seorang Muslimah, Rasulullah saw. bahkan memerintahkan untuk meminjamkan jilbab bagi wanita yang tidak memiliki jilbab. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ummu ‘Athiyyah beliau berkata: Pada dua hari raya kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haidh dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum Muslim dan doa mereka. Namun, wanita-wanita haidh harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang wanita diantara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Lalu Rasulullah saw. Bersabda, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadits diatas menggambarkan bahwasanya Rasulullah saw. sebagai kepala negara juga turut mengatur bagaimana agar setiap Muslimah menjalankan kewajibannya dalam menutup aurat.
Berbeda halnya dengan pemimpin hari ini yang abai terhadap urusan kaum Muslimin, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sudah sepatutnya pemimpin di negeri ini memberi dorongan terhadap pelaksanaan syariat Islam, bukan malah membiarkan banyak opini miring nan nyeleneh yang diangkat melalui public figure untuk menyudutkan Islam dan menyesatkan pemahaman umat.

Adapun terkait dengan pernyataan bahwa beberapa tokoh Muslim dahulu yang tidak mengenakan jilbab seperti istri Kyai, RA Kartini dan lain sebagainya, hal itu tidak bisa dijadikan landasan dalam menetapkan suatu hukum dalam Islam. Sebab sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwasanya sumber hukum dalam Islam hanya ada 4, yaitu : Al-Quran, As-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas.
Dari pembahasan diatas, sebagai seorang Muslim kita sudah bisa simpulkan, bahwasanya mana yang harus kita jadikan rujukan dalam ber-Islam dan manakah yang harus kita antisipasi opininya manakala itu bisa membahayakan akidah umat.[MO/sr]

Posting Komentar