Oleh: Casnawati

Mediaoposisi.com- Bagi rakyat Indonesia, Sungguh begitu banyak peristiwa  yang menyayat hati di awal tahun baru 2020. Bencana  banjir dan tanah longsor  melanda beberapa wilayah di negeri ini hingga menimbulkan korban jiwa dan harta yang tak sedikit jumlahnya.Ditambah dengan kabar kebijakan yang dibuat oleh penguasa yang seolah tak pernah peduli terhadap nasib rakyatnya. Menggenapi seluruh duka bagi rakyat golongan menengah kebawah.

Rencana dicabutnya subsidi si melon, gas elpiji ukuran 3 kg pada semester ll tahun ini menjadi salah satu kebijakan yang hampir bisa dipastikan akan menambah beban rakyat.Sebab gas elpiji yang sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah kebawah di perkirakan akan mengalami kenaikan harga hingga mencapai 35.000/tabung. Jelas ini akan berdampak besar bagi rakyat yang sudah di hadiahi kado tahun baru dengan berbagai kenaikan iuran. Mulai dari iuran BPJS hingga tarif listrik yang semakin merangkak tinggi.

Semua kebutuhan rakyat, baiik primer atau sekunder, serta yang menjadi kebutuhan dasar bagi rakyat, tidak bisa dinikmati secara murah apalagi gratis. Kondisi ini, dimana hubungan rakyat dengan negara layaknya penjual dan pembeli sudah lama berlangsung di negeri zamrud khatulistiwa ini.
     
Ironisnya, disaat kebutuhan rakyat makin tinggi lapangan kerja bagi rakyat justru semakin sulit,banyak yang sudah tak mampu lagi memenuhi hajat hidupnya, bahkan hanya untuk sekedar makan. Karena kesempatan bekerja yang seharusnya menjadi hak rakyat justru oleh pemerintah diberikan kepada asing dan aseng dengan berbagai kesepakatan yang sudah dibuat.

Bagi negara yang menganut sistem kapitalisme liberal. Pemerintah dengan rakyat hubungannya hanya berkutat pada permasalahan untung dan rugi. Kebijakan yang diambil tidak lain hanyalah motif mencari keuntungan semata. Bukan dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai pengurus urusan rakyat.Terbukti dalam setiap kebijakannya sama sekali tak memihak kepada rakyat.

Hal yang berbeda kita dapati pada masa Islam berkuasa. Dalam sebuah periwayatan dari Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat, dengan sanadnya dari jalan Abdullah bin Umar menuliskan, Aslam berkata, “Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di mushalla, maka Umar ra. berkata kepada Abdurrahman bin Auf, ‘Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?’

Abdurrahman berkata, ‘Ya, aku setuju!’ Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat. Namun tiba-tiba Umar ra. mendengar suara anak kecil menangis, segera Umar ra. menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, ‘Takutlah engkau kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu.’

Kemudian Umar ra. kembali ke tempatnya. Kemudian ia mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan ia tadi. Setelah itu Umar ra. kembali ke tempatnya semula.

Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar ra. segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, ‘Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam?

Wanita itu menjawab, ‘Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu.’

Umar ra. bertanya, ‘Kenapa engkau akan menyapihnya?

Wanita itu menjawab, ‘Karena Umar ra. hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja.

Umar ra. bertanya kepadanya, ‘Berapa usia anakmu?

Dia menjawab, ‘Baru beberapa bulan saja.

Maka Umar ra. berkata, ‘Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya?'

Maka ketika shalat subuh bacaan ia nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya. Ia berkata, ‘Celakalah engkau wahai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh.

Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, 'Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam.

Umar ra. segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya.

Berkaca dari kisah diatas, sungguh islam telah mengatur masalah subsidi. Seorang pemimpin dalam islam tidak akan membuat kebijakan yang akan mendzholimi rakyatnya, justru sebaliknya setiap rakyat akan mendapatkan hak yang sama untuk kesejahteraannya.

Selain itu dalam sebuah hadist juga disebutkan bahwa kaum muslim itu berserikat dalam tiga perkara yaitu air,padang gembala dan api(bahan bakar). Dimana pemerintah hadir untuk mengelolanya kemudian dikembalikan kepada rakyat untuk di gunakan oleh rakyat tanpa pandang bulu, baik yang kaya maupun yang miskin.

Begitulah islam mengatur segala kepentingan yang berkaitan dengan hak-hak rakyat. Dengan syariat Allah pemerintah yang diberi kewenangan mengurusi rakyat akan senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh umat manusia.[MO/sr]

Posting Komentar