Oleh : Muffarohah
(Mahasiswi STEI Hamfara)

Mediaoposisi.com-Guru adalah penentu kualitas generasi yang akan datang,seorang guru merupakan ujung tombak dalam memajukan genarasi bangsa khususnya dalam lingkup sekolah. Tanpa seorang guru apalah jadinya dunia pendidikan, sehingga peran guru tak dapat dipisahkan dari aktifitas belajar mengajar. Untuk meningkatkan mutu generasi, maka perlu adanya adanya seorang yang dapat membimbing anak bangsa dengat tepat. Dalam melaksanakan tanggung jawab itu harus diiringi dengan pemenuhan hak, kesejahteraan sesuai dengan besarnya tanggung jawab sang guru.

Di Negara Indonesia ada dua kategori guru, yaitu : Pertama guru PNS ( Pegawai Negeri Sipil ). dengan pendapatan gaji 3 – 4 juta perbulan ditambah dengan tunjangan dari pemerintah, sedangkan yang Kedua guru honorer/guru bantu disebuah instansi dengan gaji dari sekolah dimana ia bekerja dengan pendatan/gaji Rp. 150.000 – Rp. 300.000,bahkan lebih miris lagi ada sebagian guru honorer tanpa di gaji sama sekali,padahal mereka mempunyai tanggung jawab yang sama dengan para PNS, baik dalam hal mengajar,mengawasi saat siswa ujian, bahkan membina siswa saat pembelajaraan berlangsung.

Nasib Para Guru Honorer….??

saat nasib para honorer tidak jelas akan dibawa kemana,pemerintah dengan kebijakannya akan menghapus tanaga honorer. “ Menteri PAN – RB Tjahjo Kumolo akhirnya buka-bukaan soal remcana penghapusan tenaga honorer diseluruh instansi pemerintah,baik pusat maupun daerah. Rencana penghapusan ditargetkan pada tahun 2021 sudah rampung “. Tjahjo Kumolo menceritakan penghapusan tenaga honore merupakan rencana lama. Pemerintah sendiri sudah melakukan pengangkatan honorer menjadi PNS sejak tahun 2005- tahun 2014 sebanyak 1.070.092 orang. Saat ini tersisa 438.590 orang dengan status kategori II ( THK II ).

Penghapusan tenaga honorer merupan mandate UU Nomor 5 tahun 2014 tentang aparatur sipil negara ( ASN ) san Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja ( pppk ). sehingga diluar hal itu tidak di atur dan harus dihapuskan.Untuk penghapusan status tenaga honorer, Tjahjo Kumolo mendorong untuk mengikuti seleksi CPNS atau PPPK. ( detik.com )

Bagaimanakah nasib sang guru honorer ??

Dari fakta di atas, sadarlah kita bahwa sistem pendidikan kapitalisme begitu kejam dan mendholimi rakyat,pemerintah tidak peduli dengan nasib sang guru,pada dasarkan sang guru telah mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya hanya untuk mencerdaskan anak bangsa.sehingga peran guru sangatlah besar apalagi di dunia pendidikan.sistem demokrasi kapitalis memandang guru honorer hanya sebelah mata.mereka tidak mendapatkan hak yang semestinya.Gaji yang mereka dapatkan tidak sepadan dengan tanggung jawab yang mereka kerjakan.

lalu…siapa yang harus bertanggung jawab ?

Akar masalahnya adalah hasil dari diterapkannya sistem demokrasi kapitalis.Kapitalisme memanglah sistem bobrok dan dhalim yang memberikan pengaruh besar dalam segala aspek kehidupan, khususnya dalam aspek pendidikan. Kapitalismelah yang membuat negeri ini hancar bahkan carut – marut. Pendidikan ala kapitalisme hanya akan melahirkan sudut pandang materialistic,agama bukan tolok ukur perbuatan namun segala sesuatunya di ukur atas dasar manfaat yakni sistem untung rugi.sungguh miris nasib sang guru honorer. Hidup dalam sistem demokrasi kapitalis hanya membuat rakyat menderita yang semakin hari semakin terpuruk.

Posisi Guru Dalam Islam

Menjadi guru merupakan profesi mulia dan terhormat, tidak ada perbadaan status guru negeri dan honorer baik dari segi keilmuannya, tsaqofah bahkan nafsiyahnya.guru adalah sosok tauladan yang dikarunia ilmu yang luar biasa oleh Allah SWT,ia sangat di hormati dan dicintai oleh murid-muridnya.dengan ilmunya ia memiliki tujuan mengajar anak didiknya dengan mempunyai karakter yang beriman,bertaqwa,berakhlakul karimah,menguasai sains dan tekhnologi serta mempuni berbagai keterampilan.semua itu hanya bisa terwujud dengan diterapkannya sistem pendidikan islam.

Gaji guru dalam sistem islam

sejarah telah mencatat bahwa guru mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara termasuk pemberian gaji yang bisa melampaui kebutuhannya. Diriwatkan dari Ibnu Abi Syaibah,dari Sadaqoh ad-Dimasyqi,dar al-Wald-iah bin Atha.bahwasannya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak Madinah.Kholifah  Umar bin Khattab memberi gaji 15 dinar. kalau di ukur dengan kondisi saat ini. 1 dinar = 4,25 gram emas.15 dinar = 63,75 gram emas ) jika saat ini harga 1 gram emas Rp.500.000 x 63,75 gram emas = Rp. 31.875.000 perbulan.sungguh luar biasa.

Pada masa Daulah Abbasiyah,tunjangan yang diberikan kepada guru begitu tinggi seperti yang diterma oleh guru bernama Zujaj sebesar 200 dinar perbulan.sementara Ibnu Duraid digaji 50 dinar perbulan.

Pada masa Panglima Salahuddin Al-Aiyubi Rahimahullah,tunjangan yang diberikan kepada para guru sangat besar,misalnya Syekh Najmuddin Al-Khabusyani Rahimahullah yang menjadi guru madrasahAs-Shalahiyyah setipa bulannya digaji 40 dinar dan 10 dinar untuk mengawasi waqaf madrasah.disamping itu juga diberi 60 potong roti perhari serta air minum segar dari sungai Nil.

Sungguh sangatlah menakjubkan berada dibawah naungan khilafah guru beserta keluarganya akan terjamin kesejahteraannya.sehingga tidak perlu lagi mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.para guru juga akan diberi kemudahan dalam mengakses sarana dan prasana untuk menunjang kegiatan belajar mengajarnya.hal tersebut akan membuat guru fokus menjalankan tugasnya.yang akan mencetak generasi yang berkualitas,yang hanya taat kepada aturan Allah dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Penghormatan Para Khalifah terhadap Guru

Pada masa keemasan Islam, guru begitu dihormati baik oleh masyarakat ataupun negara. Mehdi Nakosteen dalam bukunya yang berjudul "Kontribusi Islam atas Intelektual Dunia Barat" mencatat bahwa guru dalam sistem pendidikan Islam begitu dihormati.

Terkait dengan penghormatan kepada guru, Ali bin Abi Thalib r.a. pernah menuturkan : "Diantara hak seorang 'alim (guru) kepadamu adalah engkau memberikan salam kepada orang banyak secara umum dan memberikan salam penghormatan kepadanya secara khusus, engkau duduk di hadapannya, jangan sekali-kali engkau menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan tanganmu, tidak memelototkan mata kepadanya, tidak banyak bertanya kepadanya,

tidak sok tahu terhadapnya, tidak mencaci makinya jika ia salah, tidak memaksanya jika ia telah lelah, tidak menarik-narik bajunya ketika ia bangkit, tidak membuka rahasianya, tidak menggunjingnya di hadapan orang lain, dan tidak mencari-cari kesalahannya. Apabila ia salah bicara harus dimaklumi, tidak boleh berkata dihadapannya, "Aku mendengar si fulan berkata begini berbeda dengan pendapatmu". Jangan mengatakan di hadapannya bahwa ia adalah seorang ulama, jangan terus-menerus menuertainya, jangan sungkan untuk berbaik hati kepadanya, jika di ketahui bahwa ia mempunyai suatu keperluan, maka keperluannya harus segera dipenuhi. Kedudukan dirinya adalah seperti pohon kurma, sementara engkau menantikan apa yang akan jatuh darinya". (Adabul 'Alim wal Muta'allim)

Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, anak usia 8 tahun sudah hafal Al-Qur'an, atau anak 11 tahun sudah menguasai ilmu fiqih, meriwayatkan hadits, serta berdialog dengan guru. Mengapa bisa demikian? Ini karena kepedulian Khalifah Harun Ar-Rasyid terhadap ilmu, guru, juga murid. Untuk mencapai tujuan itu, banyak sekali dana yang dikeluarkan oleh beliau. Marwah guru di mata beliau sangat angung, sehingga diperlakukan dengan sangat hormat. Bahkan Abdullah bin Mubarok Rahimahullah sampai menuturkan bahwa beliau belum pernah menjumpai guru, ahli Qur'an, orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan dan menjaga diri dari larangan-larangan Allah SWT. sejak masa Rasulullah .SAW. hingga sekarang melebihi apa yanh ada di zaman Khalifan Harun Ar-Rasyid.

Pada masa Daulah Abbasiyah perhatian terhadap guru juga diwujudkan dalam bentuk mencukupi kebutuhan anak-anak guru. Kebutuhan pokok dan biaya sekolahnya ditanggung oleh negara (daulah), sehingga kehidupan mereka menjadi nyaman dan sejahtera. (Madza Qaddama Al-Muslimuna li Al-'Alam

[Mo/db]

Posting Komentar