Oleh : Dini Azra 
(Revowriter Malang)


Mediaoposisi.com- Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam telah diselenggarakan. Bertempat di Kuala Lumpur, Malaysia dan dihadiri sekitar 20 negara. Acara tersebut bertujuan untuk mengatasi isu paling sulit dinegara Islam. Dan untuk memahami mengapa Islam, umat Islam dan negara mereka berada dalam kondisi krisis, tak berdaya dan tak pantas untuk sebuah agama yang besar. 

Mereka membahas berbagai persoalan yang dihadapi umat, mulai dari konflik yang terjadi di Timur Tengah, Kashmir, Suriah, dan Yaman. Hingga genosida yang dialami muslim Rohingya dan dugaan persekusi atas etnis Muslim Uighur di Xinjiang.


Namun acara tersebut ditentang oleh Arab Saudi yang merupakan leader Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Sebab tidak diselenggarakan dibawah panji OKI, sehingga tidak mewakili negara-negara anggotanya yang berjumlah 57 negara. 

Arab Saudi juga menuduh Malaysia hendak membuat organisasi tandingan OKI. Padahal, yang mendorong diselenggarakannya KTT Islam tersebut adalah keresahan beberapa pemimpin Islam, terhadap OKI yang dinilai tumpul dalam membantu penyelesaian masalah yang dihadapi banyak negara Islam. Karena adanya faktor kepentingan negara tertentu. Tribun.Medan.com (20/12)

Akhirnya dari perwakilan beberapa negara yang hadir, dihasilkan beberapa ide juga proposal yang diharapkan bisa menjadi solusi umat Islam kedepan. Agar terbebas dari permasalahan yang membelenggu selama ini. Mengingat persepsi dunia akhir-akhir ini, yang terjangkit Islamofobia, menurunnya peradaban Islam, maka diperlukan reformasi pemerintahan oleh negara-negara Islam. 

Diantaranya muncul keinginan dari empat negara yang hadir, Malaysia, Iran, Turki, dan Qatar, untuk mempertimbangkan kerjasama perdagangan. Dengan menggunakan Dinnar sebagai alat pembayaran, menggantikan dollar AS.

Pertimbangan beberapa negara Islam untuk membuang dollar atau dedolarisasi ini ditanggapi oleh Pemrakarsa Modern Monetary Theory (MMT) Mardigu Wowiek. Dia menjelaskan bahwa hal itu dikarenakan negara-negara dunia saat ini terutama negara muslim, merasa bahwa ketergantungan terhadap Dollar AS tidak baik. 

Juga karena dollar bukanlah mata uang yang riil. Karena dollar dicetak tanpa jaminan emas. Pada 18 Agustus 1971 Amerika mulai mencetak dollar tanpa jaminan emas. Saat itu negara-negara dunia sudah menantang AS. Namun tidak dapat berbuat banyak karena posisi Amerika yang sedang kuat-kuatnya.

Mardigu menjelaskan menggunakan dinar untuk menggantikan dollar akan menghilangkan inflasi menjadi zero. Juga memiliki keuntungan dalam meredam inflasi dan stabilnya ekonomi. Meskipun ada sisi keterbatasan yaitu dalam hal fleksibilitas dan penyediaan uang. Dunia sedang menunggu hadirnya mata uang yang riil. Dan dinar akan menjadi mata uang internasional. CNBC Indonesia, 26/12/2019.

Keinginan negara-negara dunia untuk menggantikan dollar dengan dinar, selain untuk merubuhkan arogansi AS yang selama ini memonopoli ekonomi dunia. Juga menandakan bahwa solusi Islam mulai dilirik. Setelah terbukti gagalnya sistem ekonomi kapitalis mengatasi berbagai persoalan yang terjadi.

Dinar adalah mata uang berupa kepingan logam emas, dan dirham dari perak, telah dikenal oleh Bangsa Arab sebelum Islam datang. Karena mereka harus melakukan transaksi perdagangan dengan negara-negara sekitarnya. Setelah Islam datang dan membentuk pemerintahan, Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam membuat kebijakan, menjadikan dinar dan dirham sebagai alat pembayaran yang sah. 

Hal itu diteruskan oleh para Khalifah setelahnya hingga Dinasti Khilafah Utsmaniyah, Turki. Selama itu tidak pernah masyarakat mengenal mata uang kertas seperti sekarang. Dan terbukti, selama 14 abad emas dan perak menjadi alat tukar yang paling stabil yang dikenal dunia. Dengan nilai inflasinya nol persen.

Jadi meskipun asal muasalnya bukan dari Arab, namun Dinar dan Dirham sudah melekat dengan sejarah Islam. Dari Thawus dari Ibn Umar, Rasulullah salallahu alaihi wassalam bersabda:
Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran maka takaran penduduk Madinah. (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Namun demikian perlu disadari bahwa solusi Islam itu haruslah diambil secara menyeluruh (komprehensif). Tidak bisa mengambil sebagian saja yang dianggap cocok dan memberi maslahat untuk kehidupan sekarang. Mungkin saja, dengan kembali menggunakan dinar dan dirham, kondisi ekonomi akan lebih stabil. 

Tetapi untuk menerapkannya akan sulit, bila sistem yang diberlakukan masih kapitalisme. Lagipula, permasalahan yang dihadapi umat Islam sudah multidimensi. Disegala bidang, politik, ekonomi, pendidikan, farmasi dan sebagainya. Telah lama teracuni oleh paham-paham dari luar Islam. Akibatnya kaum muslimin banyak yang tak kenal agamanya sendiri. Menjauhkan ajaran agama yang benar dari kehidupannya, dan lebih condong mengikuti jalan hidup penganut agama lain.

Lantas, apakah mungkin bagi umat Islam untuk mengembalikan kejayaannya, dan memakai dinar dirham sebagai mata uang? Bukan hanya mungkin, tapi pasti terjadi. Asalkan syaratnya sudah terpenuhi. Yaitu ketika kaum muslimin telah kembali kepada ajaran Islam yang benar. 

Caranya dengan melaksanakan Islam secara total. Menyeluruh, mulai dari individu, masyarakatnya, hingga dalam urusan bernegara. Dimana kedaulatan tidak diserahkan kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala. Dan hanya Allah saja yang berhak menetapkan hukum. Negara hanya sebagai pelaksana, untuk mengurusi kehidupan masyarakatnya. Hal Itu hanya terjadi ketika Khilafah Islamiyah tegak berdiri.

Sebagaimana yang dijanjikan Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman- Nya: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur; 24:55)

Sebagian manusia boleh tak percaya, karena melihat kondisi kaum muslim yang saat ini lemah dan kalah. Dan mereka lebih memilih bersikap inferior, mengaku kalah dan menyerah mengikuti hegemoni kaum penjajah. Tapi tidak dengan kaum mukminin. 

Mereka tahu bahwa mereka adalah sebaik-baik umat manusia. Yang melihat segala sesuatu dengan kacamata iman. Maka apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya pasti menjadi kenyataan. Tugas muslim hanya berjuang mewujudkan, sampai Allahu ta'ala menghendaki.
Wallahu a'lam bish shawab.[mo\fk]








Posting Komentar