Oleh : Anggie (Ibu Rumah Tangga)Surabaya


Mediaoposisi.com- Baru-baru ini negeri ini digemparkan dengan pernyataan istri dan putri mantan presiden yang menyatakan bahwa jilbab tidak wajib bagi muslimah. Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab.

Ia mengakui bahwa setiap muslimah tidak wajib untuk mengenakan jilbab karena memang begitu adanya yang tertulis di Al Quran jika memaknainya dengan tepat. "Enggak juga (semua muslimah harus memakai jilbab), kalau kita mengartikan ayat  dalam Al Quran itu secara benar," kata Sinta.

Selama ini ia berusaha mengartikan ayat-ayat Al Quran secara kontekstual bukan tekstual. Sinta juga mengakui bahwa kaum muslim banyak yang keliru mengartikan ayat-ayat Al Quran karena sudah melewati banyak terjemahan dari berbagai pihak yang mungkin saja memiliki kepentingan pribadi.

Baca juga : https://www.mediaoposisi.com/2020/01/fpi-sang-laskar-penyelamat-yang.html

Sedangkan Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wulandari Wahid mengaku heran terhadap justifikasi bagi wanita muslimah yang tidak memakai hijab itu lantaran belum mendapatkan hidayah. Padahal, kata dia, istri-istri ulama terdahulu (Nyai) atau istri pendiri Nahdlatul Ulama (NU) memakai kerudung. Bahkan, pejuang perempuan RA Kartini pun tidak berhijab. Makanya, apakah mereka juga disebut belum mendapatkan hidayah? 

Lebih lanjut kata dia, sekarang saja di Arab Saudi, Riyahd, keluarga kerajaan sudah buka-buka, tidak pakai hijab lagi. Islam sebagai agama yang sempurna,  telah memberikan seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan sehari - hari. Termasuk pakaian seorang muslimah ketika keluar rumah. Islam mewajibkan seorang muslimah memakai khimar dan jilbab untuk menutup auratnya saat berada di luar rumah atau tempat umum. Islam juga mengatur agar setiap muslimah tidak bertabarruj.

Dalil wajibnya seorang muslimah untuk berkerudung ada di dalam al-Qur’an surah An-Nuur [24]: 31 disebut dengan istilah khimar (jamaknya: khumur) :

“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (TQS. An-Nuur [24]: 31)

Adapun jilbab yang terdapat dalam surah al-Ahzab [33]: 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah :

“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya. (TQS: al-Ahzab [33]: 59).

Rasulullah memerintahkan setiap muslimah ketika keluar dari rumahnya untuk memakai jilbab, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah r.a., bahwa dia berkata:

“Rasulullah Saw memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata, ‘Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?’ Maka Rasulullah Saw menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!’” [Muttafaqun ‘alaihi] (Al-Albani, 2001 : 82).

Hadist tersebut menunjukkan bahwasanya Rasulullah sebagai kepala negara turut mengatur bagaimana agar setiap muslimah menjalankan kewajibannya dalam memakai jilbab.

Inilah perbedaan mencolok ketika menilik perlakuan rezim saat ini terutama kepada kaum muslimin. Negara abai ketika muncul opini-opini yang menyesatkan umat dari para tokoh yang pernyataan menyimpang dari Islam, sehingga tidak sedikit umat yang mengikuti tokoh-tokoh tersebut. Atas nama kebebasan berpendapat,  sistem Kapitalisme sekuler menjamin tiap orang dapat menyampaikan pendapatnya. Meskipun jelas pendapatnya bertentangan dengan hukum syara'.  

Maka sudah saatnya bagi muslimah untuk tidak menyandarkan hukum pada tokoh-tokoh tertentu yang pemahamannya bertentangan dengan syariat Islam. Semua perbuatan  harus dikembalikan kepada sumber hukum dan rujukan yang benar yaitu nash-nash syara' yang berasal dari Al Qur'an dan As Sunah, dan juga pandangan fuqaha dalam kitab-kitab mu'tabar. [Mo/db]


Wallahu'alam

Posting Komentar