Oleh: Eka Ummukholid

Mediaoposisi.com-Pertengkaran dalam rumah tangga sering disebut bumbu bumbu cinta. Iya sih jika memang pertengkaran tersebut berujung damai dan berbuah manis kemesraan. Saling memaafkan dan menghapus kesalah pahaman. Namun, apa jadinya jika kejadianya malah sebaliknya. Bukan berujung damai tapi malah berujung maut.

Fatwamati yang tengah hamil besar, di Kabupaten Pangkep, Sulsel, tewas di tangan suaminya sendiri. Pelaku bernama Arsyad (61), membunuh istrinya karena dikuncikan pintu rumah. "Infonya tadi malam pelaku bermaksud masuk rumah (istri sirih nya), cuma dikunci oleh korban," kata Kapolres Pangkep AKBP Ibrahim Aji kepada detikcom, Jumat (17/1/2020). Karena dikuncikan pintu rumah oleh korban, pelaku lalu memaksa masuk lewat jendela rumah korban. Melihat hal ini, korban ketakutan dan langsung melarikan diri. "Korban lari, dikejar dan terjadi hal tersebut (pembunuhan)," kata dia.

Seorang ibu tumah tangga bernama Niraini (38) menjadi korban penusukan oleh suaminya sendiri, Lukman Agus Prianto (38). Peristiwa nahas itu terjadi di rumah kontrakan mereka di Kampung Buwek Sebang RT 003/002, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Beruntungnya, nyawa Nuraini masih bisa diselamatkan, setelah warga mendengar ada kegaduhan di rumah korban. Warga yang melihat Nuraini tersungkur langsung membawa ke rumah sakit terdekat. “Pelaku menusuk korban sebanyak tiga ke kali ke arah perut hingga korban tersungkur. Saat ini masih dalam perawatan di rumah sakit," kata Kapolsek Tambun, Kompol Siswo saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (14/1/2020).
   
Bukan hanya Fatmawati dan Niraini yang mangalami kejadian mengenaskan ini. Menurut detikNews selama tahun 2019 terjadi lebih dari 50 kasus suami bunuh istri.
   
Tentunya banyak hal yang memacu terjadinya adu mulut diantara suami dan istri, salah satunya adalah uang. Di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat pemerintah justru mengambil kebijakan yang membuat rakyat semakin terpuruk. Iuran BPJS dinaikkan sementara subsidi untuk kebutuhan pokok sedikit demi sedikit diturunkan bahkan dihapuskan. Biaya pendidikan anak juga semakin meroket.
   
Jima’ (Hubungan Badan), Pemenuhan kebutuhan akan jima’ menjadi hal yang wajib terpenuhi bagi pasangan suami istri. Keberhasilan pemenuhan akan hal ini diyakini sebagian besar pasangan pasutri menjadi tolak ukur keberhasilan suatu rumah tangga.
   
Pekerjaan domestik juga bisa menjadi salah satu penyebabnya. Merasa diri sendiri paling capek. Kurangnya penghargaan dari suami, sampai penantian pengertian dari suami bisa menjadi pemicu terjadinya adu mulut.
     
Waktu Berkualitas Berdua. Jika sudah mempunyai anak seakan waktu berkualitas berdua ini telah lenyap. Padahal ini sangat penting untuk menjaga kelekatan hubungan suami dan istri.
   
Pendidikan anak menjadi tanggung jawab suami dan istri. Namun bagi sebagian laki - laki menganggap pendidikan anak adalah urusan istri. Tugas suami adalah mencari nafkah, sedangkan dirumah adalah waktunya dia beristirahat menghilangkan kepenatan setelah seharian bekerja. Sehingga ketika istri meminta peran ayah dalam pendidikan anak terkadang dapat mengundang terjadi adu mulut.
     
Dalam sistem islam negara menjamin pemenuhan Kebutuhan primer yang terdiri atas pangan,sandang dan papan. Adanya jaminan pemenuhan kebutuhan primer bagi setiap individu, tidak berarti negara akan membagi-bagikan makanan, pakaian, dan perumahan kepada siapa saja, setiap saat, sehingga terbayang rakyat bisa bermalas-malasan karena kebutuhannya sudah dipenuhi. Ini anggapan yang keliru.

Jaminan pemenuhan kebutuhan primer dalam Islam diwujudkan dalam bentuk pengaturan mekanisme-mekanisme yang dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. Mekanisme tersebut adalah: Mewajibkan Laki-Laki Memberi Nafkah Kepada Diri Dan Keluarganya, Mewajibkan Kerabat Dekat Untuk Membantu Saudaranya, Mewajibkan Negara Untuk Membantu Rakyat Miskin.
   
Menyikapi permasalahan terkait jima’dan pekerjaan domestik, akan selesai jika masing-masing pasangan mengerti kewajiban dan hak masing-masing. Serta berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan kewajibanya dengan baik dan berupaya memenuhi hak-hak pasangan.. Ada baiknya jika setiapa pasangan mempunyai pemikiran bahwa penuhi dulu kewajiban dengan baik maka InsyaAlloh hak juga akan terpenuhi dengan baik.
   
Adanya waktu berkualitas berdua merupakan salah satu dari cara menjaga cinta, Jangan lupa untuk mengucapkan cinta pada pasangan kita. Walaupun dulu sudah pernah tapi sekarang juga perlu dan akan terus diperlukan. Agar pasangan kita tidak lupa jika kita terus mencintainya. Jika malu bisa dikirim lewat surat cinta atau via WhatsApp.
إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ

Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 421/542, shahih kata Syaikh Al Albani).
   
Cinta juga harus diwujudkan dengan sentuhan fisik. Misal usapan dan balaian. Pelayanan terbaik untuk orang yang kita sayangi juga perlu diutamakan. Saling memberi hadiah,akan menambah rasa cinta, Rasulullah bersabda:
تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)
   
Waktu berkualitas berdua, sebisa mungkin ciptakan waktu yang berkualitas untuk berdua dengan pasangan. Misal malam ketika anak - anak sudah tidur manfaatkanlah waktu tersebut untuk menambah kelekatan dan perbaiki komunikasi dengan pasangan.
   
Untuk permasalahan pendidikan anak memang sudah seharusnya orang tua paham, bahwa pendidikan anak menjadi tanggung jawab bersama. Baik ayah maupun ibu mempunyai peran yang berbeda tetapi sama pentingnya dalam pendidikan anak.
     
Begitulah islam mengatur urusan rumah tangga, semoga dengan banyak belajar islam permasalahan rumah tangga akan bisa terselesaikan dengan baik. Penerapan sistem islam juga akan menjadi benteng keutuhan rumah tangga.[MO/sr]

Posting Komentar